Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Masjid Al Riyadh Kwitang, Salah Satu Masjid Tua di Jakarta

Sabtu 01 Aug 2020 19:30 WIB

Rep: Idealisa Masyafrina/ Red: Muhammad Hafil

Masjid Al Riyadh Kwitang, Salah Satu Masjid Tua di Jakarta. Foto: Ribuan umat Muslim menghadiri acara puncak Haul ke-107 Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi di Masjid Riyadh, kawasan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (29/12).

Masjid Al Riyadh Kwitang, Salah Satu Masjid Tua di Jakarta. Foto: Ribuan umat Muslim menghadiri acara puncak Haul ke-107 Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi di Masjid Riyadh, kawasan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (29/12).

Foto: Republika/Binti Sholikah
Salah satu masjid tua di Jakarta adalah Masjid Al Riyadh Kwitang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Al Riyadh Kwitang merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta dan berperan penting dalam penyebaran Islam.

Masjid ini didirikan oleh Habib Ali bin Abdurahman pada tahun 1911. Sebelumnya, masjid ini masih berupa surau. Awalnya nama masjid tersebut adalah Masjid Al Makmur, namun kemudian masjid tersebut dibangun kembali dengan inisiatif dari tokoh di Kwitang pada tahun 1938.

Saat direnovasi ketiga kalinya pada tahun 1963, Presiden Soekarno berjanji untuk memberikan nama baru untuk masjid yang dikenal dengan nama Masjid Kwitang ini. Akan tetapi, situasi poltiik saat itu kurang memungkinkan.

"Kemudian rezim Orde Lama jadi Orde Baru, oleh Habib Ali diberikan nama Al Riyadh," jelas Ketua Pengurus Masjid Al Riyadh, Ustaz Nurdin Abdurrahman kepada Republika belum lama ini.

Sejak masih muda, Habib Ali telah mengajar agama ke berbagai daerah di ibukota. Habib Ali merupakan ahli di bidang tafsir, tasawuf, fikih dan tarikh. Ketika beliau sudah berusia lebih tua, barulah ia berhenti keliling daerah dan fokus mengajar di rumah serta Masjid Al Riyadh.

"Setelah itu di masjid diadakan taklim rutin, untuk mengajar berbagai disiplin ilmu," kata Ustaz Nurdin.

Habib Ali wafat pada tahun 1968 dalam usia 102 tahun. Atas anjuran pemerintah saat itu dan untuk menghormati beliau atas jasa-jasanya, ia dimakamkan di kompleks masjid. Habib Muhammad yang menggantikannya juga kemudian dimakamkan disana.

Hingga kini kedua makam pendiri masjid dan penyebar agama Islam di DKI Jakarta tersebut masih sering dikunjungi oleh para peziarah dari seluruh Indonesia. Para peziarah tidak henti-hentinya memanjatkan doa setiap berziarah ke kedua makam tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA