Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Sejarah Hari Ini: China Diguncang Bencana Terkuat

Selasa 28 Jul 2020 07:03 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Ilustrasi gempa. Pada 28 Juli 1976 gempa bumi  meratakan Tangshan, sebuah kota industri China.

Ilustrasi gempa. Pada 28 Juli 1976 gempa bumi meratakan Tangshan, sebuah kota industri China.

Foto: Pixabay
Pada 28 Juli 1976 gempa bumi meratakan Tangshan, sebuah kota industri China

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING - Pada 28 Juli 1976, tepatnya pukul 03.42, gempa bumi berkekuatan antara 7,8 dan 8,2 skala Richter meratakan Tangshan, sebuah kota industri China dengan jumlah penduduk sekitar satu juta orang. Karena hampir semua orang tertidur, gempa kala itu berujung fatal.

Dilansir laman History, pemerintah China memperkirakan gempa telah menelan 242 ribu korban jiwa di Tangshan dan sekitarnya. Gempa kala itu menjadi salah satu bencana alam yang paling mematikan dalam sejarah China.

Terperangkap di antara lempeng India dan Pasifik, China telah menjadi lokasi yang sangat aktif untuk gempa bumi sepanjang sejarah. Meski, gempa bumi juga memainkan peran penting dalam budaya dan ilmu pengetahuan China dan Cina merupakan negara pertama mengembangkan seismometer yang berfungsi. Wilayah China utara yang dilanda gempa Tangshan sangat rentan terhadap pergerakan lempeng Pasifik ke arah barat.

Pada hari-hari sebelum gempa bumi, orang-orang mulai memperhatikan fenomena aneh di dalam dan sekitar Tangshan. Tingkat air sumur naik dan turun. Tikus terlihat berlari panik di siang hari. Ayam tidak mau makan. 

Baca Juga

Pada malam hari tanggal 27 Juli dan dini hari tanggal 28 Juli, orang-orang melaporkan kilatan cahaya berwarna dan bola api yang menderu. Namun pada pukul 03.42 kebanyakan orang tidur dengan tenang ketika gempa bumi melanda. Gempa berlangsung selama 23 detik dan meratakan 90 persen bangunan Tangshan. 

Setidaknya seperempat juta orang meninggal dunia dan 160 ribu lainnya terluka. Gempa bumi memicu kebakaran dan memicu bahan peledak dan gas beracun di pabrik-pabrik Tangshan. Air dan listrik terputus dan akses kereta api dan jalan ke kota hancur.

Pemerintah China tidak siap menghadapi bencana skala ini. Sehari setelah gempa, helikopter dan pesawat mulai menjatuhkan makanan dan obat-obatan ke kota. Sekitar 100 ribu tentara Tentara Pembebasan Rakyat diperintahkan ke Tangshan dan banyak yang harus berjalan kaki dari Jinzhou, yang jaraknya lebih dari 180 mil. 

Sekitar 30 ribu tenaga medis dikerahkan bersama dengan 30 ribu pekerja konstruksi. Pemerintah China, yang membanggakan swasembada, menolak semua tawaran bantuan bantuan asing. 

Dalam pekan pertama setelah krisis, banyak yang meninggal karena kurangnya perawatan medis. Pasukan dan pekerja bantuan tidak memiliki jenis pelatihan penyelamatan berat yang diperlukan untuk secara efisien menarik korban dari puing-puing reruntuhan akibat gempa.

Penjarahan pun menjadi tidak terbantahkan. Lebih dari 160 ribu keluarga kehilangan tempat tinggal dan lebih dari 4.000 anak menjadi yatim piatu.

Tangshan akhirnya dibangun kembali dengan tindakan pencegahan gempa yang memadai. Saat ini, hampir dua juta orang tinggal di sana. Ada spekulasi bahwa jumlah korban jiwa dari gempa 1976 kala itu jauh lebih tinggi dari angka resmi 242 ribu dari pemerintah China. Beberapa sumber China telah berbicara secara pribadi tentang lebih dari 500 ribu kematian yang ada.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA