Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Turki Turunkan Robot dalam Perang Libya, Ini Kehebatannya

Kamis 23 Jul 2020 18:16 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Robot Turki TMR 2

Robot Turki TMR 2

Foto: Tangkapan Layar Video TRT
Robot TMR 2 dipakai untuk menyapu ranjau di seputar ibu kota Libya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keberhasilan Turki dalam mendukung pasukan GNA dalam menghadapi jenderal Khalifa Haftar di Libya tak terlepas dari penggunaan senjata militer yang canggih. Selain menerjunkan pesawat drone yang mengubah peta perang, Turki juga memanfaatkan robot dalam pertempuran di Linya.

Robot TMR 2 buatan Turki diterjunkan untuk membantu menyapu detonator atau ranjau di sepanjang Tripoli, ibu kota Libya. Sebelumnya ada laporan pasukan bayaran Rusia yang membela Haftar memasang ranjau di sekitar wilayah Tripoli.

"Sejak pertengahan 2010, Turki telah memanfaatkan robot buatan domestik dalam operasi militer atau polisi untuk mengatasi bahan peledak. Sekarang kita pakai robot ini di Libya, Suriah atau tempat lain di mana ada kehadiran militer Turki," ujar sumber Departemen Pertahanan Turki yang namanya tak mau disebutkan seperti dilansir TRT, kemarin.

Pada Ahad lalu, Kementerian Pertahanan Turki berkicau soal penggunaan robot yang digunakan di Tripoli. "Robot kami TMR II yang dapat dipakai menggunakan remote kontrol dan aman digunakan efektif dipakai tim Explosive Ordnance Disposal (EOD) teams di Tripoli dalam operasi peledakan IED dan amunisi," ujar Kementerian Pertahanan Turki.

TMR dibuat oleh Elektroland Defence, sebuah perusahaan di distrik Golbasi Ankara. Berbagai robot mereka telah dipakai untuk operasi unit  keamanan di Turki, termasuk militer dan polisi.

Robot penjinak bom TMR-II memiliki waktu operasi hingga tiga jam, dengan area kontrol nirkabel mencapai 500 meter Robot memiliki kemampuan untuk naik landai hingga 45 derajat. Robot juga bisa melintasi penghalang setinggi 20 sentimter, melewat parit 35 sentimeter dan menaiki tangga.

Sejak diktator Muammar Khadafi digulingkan pada 2011 lalu, Libya mengalami perang dan kekacauan. Pasukan Jenderal Haftar yang didukung Mesir, Uni Emirat Arab dan Rusia berusaha menjatuhkan GNA yang diakui internasional. Turki turun tangan membela GNA dan berhasil memukul mundur Haftar dari Tripoli.

Pasukan GNA secara perlahan merangsek masuk untuk menuju Sirte, basis utama Haftar yang merupakan wilayah kaya minyak. 

Sementara Turki dan Rusia sepakat untuk mendesak gencatan senjata di Libya. Ankara meminta pasukan Libyan National Army (LNA) menarik diri dari posisi-posisi penting agar gencatan senjata dapat berjalan dengan efektif.

Moskow dan Ankara adalah pemain utama dalam konflik Libya. Rusia mendukung pasukan LNA yang dipimpin oleh Khalifa Haftar, yang berbasis di wilayah timur. Sementara, Turki mendukung kelompok Government of National Accord (GNA) yang berbasis di Tripoli.

"Kami baru saja mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk mengerjakan gencatan senjata yang kredibel dan berkelanjutan di Libya," kata penasihat keamanan utama Presiden Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin, kepada kantor berita Reuters.

Kalin mengatakan, kesepakatan gencatan senjata harus diikuti dengan penarikan pasukan Haftar dari kota strategis Sirte yang merupakan pintu gerbang ke ladang minyak di timru Libya, dan al-Jufra yang merupakan pangkalan udara. "Agar gencatan senjata bisa berkelanjutan, pasukan Haftar harus dievakuasi dari Jufra dan Sirte," ujarnya.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA