Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Pengobatan Nabawi Jangan Asal-Asalan, Ini 5 Syaratnya

Selasa 14 Jul 2020 16:50 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nashih Nashrullah

Pengobatan Nabawi harus dilakukan dengan standar yang tepat. Ilustrasi thibbun nabawi madu

Pengobatan Nabawi harus dilakukan dengan standar yang tepat. Ilustrasi thibbun nabawi madu

Foto: en.wikipedia.org
Pengobatan Nabawi harus dilakukan dengan standar yang tepat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Thibbun nabawi bukanlah pengobatan alternatif yang menjadi pilihan terakhir seseorang saat berobat karena terkena penyakit. 

 

Pernyataan ini disampaikan spesialis Patologi Klinik dari Univeristas Gajah Mada, Ustadz dr Reahanul Bahraen, MSc, SpPk.   

Baca Juga

 

Dia mengutip pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bary, bahwa pengobatan Nabi SAW diyakini dapat mendatangkan kesembuhan karena bersumber dari wahyu sedangkan pengobatan lainnya, kebanyakan berdasarkan praduga dan eksperimen. 

 

Reahanul menjelaskan, perlu diketahui bahwa pengobatan thibbun nabawi diperlukan syarat-syarat yang harus terpenuhi. Hal ini sebagaimana dijelaskan para ulama, sehingga menjadi konsep thibbun nabawi yang benar.  

 

Pertama, pengobatan ini harus dilakukan ahlinya, yang berilmu dan sudah belajar. Pembelajaran yang dilakukan pun membutuhkan waktu yang lama.  

 

Kedua, dilakukan orang yang sudah berpengalaman, sehingga tidak bijak mohon maaf, orang melakukan praktik thibbun nabawi membuka untuk umum hanya dengan mengikuti pelatihan 1-2 kali pelatihan saja.

 

Sebagai contoh, di Arab Saudi orang yang ingin membuka praktik bekam, maka dia harus sekolah dua tahun terlebih dahulu, sehingga ilmunya pasti dan berpengalaman.

 

“Selain itu, praktiknya berada di bawah kendali atau pengawasan orang yang sudah berpengalaman,” kata Ustadz yang juga alumni Ma'had Al-Ilmi Yogyakarta, sebagaimana dikutip dari video resminya. 

 

Ketiga, thibbun nabawi harus sesuai dosis dan indikasinya. Contohnya, mengkonsumsi habatussauda dan madu, ini harus ada dosis dan indikasi, bukan sekedar asal-asalan.  

 

Keempat memiliki kemampuan mendiagnosis penyakit, dapat membedakan berbagai macam penyakit, dan ini perlu pengalaman dan belajar yang lama.  

 

Kemudian yang kelima atau terakhir, thibbun nabawi juga terkait dengan keimanan. Untuk itu perlu keimanan yang mantap, dan kuat, agar thibbun nabawi bisa terwujud dan bisa mengobati banyak orang. 

 

Apabila keimanannya kurang karena banyak melakukan maksiat, maka bisa jadi Allah SWT tidak akan mengabulkan kesembuhan tersebut.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA