Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Thursday, 23 Zulhijjah 1441 / 13 August 2020

Bisnis Teh di Indonesia Saat Ini Dinilai tak Menguntungkan

Sabtu 04 Jul 2020 00:20 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Nora Azizah

Kondisi bisnis teh di Indonesia saat ini dinilai tak menguntungkan (Foto: ilustrasi minuman teh)

Kondisi bisnis teh di Indonesia saat ini dinilai tak menguntungkan (Foto: ilustrasi minuman teh)

Foto: Pixabay
Sejak 2001, umumnya pengusaha kebun teh di Indonesia merugi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teh merupakan salah satu komoditas tumbuhan yang amat dekat dengan masyarakat Indonesia. Pada sejarahnya, teh dibawa oleh orang-orang Belanda dan ditanam di tanah Indonesia, hingga meluas menjadi kebun yang amat luas.

Namun, menurut Pendiri Institut Teh Indonesia, Ratna Somantri, kondisi bisnis teh di Indonesia saat ini dinilai tak menguntungkan. Pasalnya, ada banyak kenyataan yang harus diterima terkait edukasi teh di Indonesia.

"Karena mayoritas yang dihasilkan adalah teh hitam dengan broken grade yang ditujukan untuk teh celup. Sebanyak 40 persen dari perkebunan teh di Indonesia itu masih terdiri atas tanaman tua, yang diwariskan oleh Belanda," jelas Ratna dalam webinar Rempah dan Teh Nusantara, pekan lalu.

Produktivitas teh menjadi rendah. Biaya produksi yang dikeluarkan menjadi lebih tinggi. Akibatnya, teh yang dihasilkan pun berkualitas rendah dengan harga yang juga rendah.

"Ketika harga jual menjadi rendah, kebun pun menjadi tidak terawat. Lalu kembali berputar lagi terus seperti itu," terang Ratna.

Kualitas teh yang rendah membuat Indonesia sulit bersaing di pasar ekspor. Daya saing dan harga jual yang rendah itu membuat perkebunan teh di Indonesia dianggap merupakan bisnis yang tidak menguntungkan. Banyak lahan perkebunan pun dialihfungsikan untuk produksi bisnis yang lebih menguntungkan.

Baca Juga

"Itulah yang terjadi saat ini pada perkebunan teh di Indonesia," ungkap dia.

Kondisi ini pun berdampak kepada penurunan areal perkebunan teh. Tepatnya pada 2005 hingga 2014, terjadi penurunan areal perkebunan teh menjadi 1,6 persen per tahun, atau seluas 2400 hektar per tahun. Ratna juga menyebut, sejak 2001, umumnya pengusaha kebun teh merugi.

"Itulah yang beralih fungsi dari perkebunan teh menjadi tidak teh," jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA