Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Lockdown Ketat Filipina Bisa Picu Lonjakan Kelahiran Bayi

Senin 29 Jun 2020 13:40 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Ilustrasi ibu hamil. Lockdown ketat di Filipina saat pandemi Covid-19 hambat akses masyarakat ke layanan keluarga berencana.

Ilustrasi ibu hamil. Lockdown ketat di Filipina saat pandemi Covid-19 hambat akses masyarakat ke layanan keluarga berencana.

Foto: Pixabay
Lockdown ketat di Filipina hambat akses masyarakat ke layanan keluarga berencana.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA - Lockdown atau karantina wilayah untuk mengekang penyebaran Covid-19 di Filipina diberlakukan secara ketat sehingga sangat mengganggu akses ke layanan keluarga berencana. Hal ini dapat menyebabkan jumlah kelahiran tertinggi dalam dua dekade di negara tersebut.

Pembatasan gerak yang diberlakukan pada Maret mencegah pasien dan staf medis ke klinik selama berbulan-bulan. Hal tersebut pun menyebabkan kekurangan alat kontrasepsi di beberapa daerah.

Direktur Eksekutif Organisasi Keluarga Berencana Filipina (FPOP) Nandy Senoc mengatakan bahwa sementara stafnya terus beroperasi pada masa pembatasan, semua pekerjaan telah terkena dampak negatif. Fasilitas pemerintah secara resmi tetap terbuka, tetapi pada kenyataannya layanan tidak dapat diakses.

Negara mayoritas Katolik itu telah mencatat lebih dari 35.400 kasus virus corona baru. Wilayah ibu kota nasional, Metro Manila, menjadi kota yang paling terpukul. Secara total, 1.244 kematian tercatat di seluruh negeri.

Meskipun tindakan karantina melonggar, angkutan umum tetap terganggu. Selain itu, beberapa fasilitas keluarga berencana hanya terbuka dengan staf rangka karena untuk memberikan ruang bagi jarak sosial.

Kekurangan alat kontrasepsi dan pil kontrasepsi terus berlanjut, terutama di provinsi kepulauan dan daerah pedesaan yang jauh dari ibu kota. FPOP sebelumnya mengimbau para wanita untuk menggunakan kontrasepsi jangka panjang.

FPOP juga mendesak klinik-kliniknya memberikan persediaan pil yang lebih besar sebagai antisipasi jika pembatasan gerak diberlakukan kembali. "Namun, masalahnya sekarang adalah kita kekurangan pasokan. Layanan kesehatan reproduksi tidak dianggap sebagai prioritas dalam respons pemerintah," ujar FPOP seperti dilansir laman Guardian, Senin (29/6).

Diperkirakan bahwa jumlah wanita yang tidak dapat mengakses kebutuhan keluarga berencana naik seperlima saat lockdown, yakni menjadi 3.688.000. Proyeksi oleh Universitas Population Institute Filipina dan Dana Populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) menunjukkan 214 ribu bayi tambahan bisa lahir tahun depan sebagai akibat dari kehamilan yang tidak direncanakan yang disebabkan oleh pandemi.

Ini berarti mungkin ada hampir 1,9 juta kelahiran pada tahun 2021, lebih banyak dari tahun mana pun sejak tahun 2000. "Kami akan menjadi yang melahirkan bayi-bayi ini dalam waktu sembilan bulan," kata Dr Esmeraldo Ilem, direktur Rumah Sakit Memorial Dr Jose Fabella di Manila, bangsal bersalin tersibuk di negara itu. 

Jumlah pasien rawat jalan di klinik keluarga berencana rumah sakitnya juga telah turun dengan cepat selama beberapa bulan terakhir. Sementara itu, di Provinsi La Union, Filipina utara, seorang dokter di rumah sakit kesehatan perdesaan, Rocelle Casilla, mengatakan bahwa beberapa pasiennya juga terpaksa melakukan hubungan tanpa perlindungan.

"Wanita di sini lebih suka kontrasepsi suntik, yang melindungi mereka selama tiga bulan. Banyak dari mereka yang dijadwalkan untuk injeksi baru pada April. Namun, selama lockdown ketat, hanya datang kepada kami bulan ini," kata dia.

Ada kekhawatiran yang berkembang atas dampak pandemi Covid-19 pada layanan keluarga berencana secara global. UNFPA memperkirakan sebanyak 7 juta kehamilan yang tidak diinginkan dapat terjadi di seluruh dunia sebagai akibat dari krisis corona ini.

Aktivis juga telah meningkatkan kekhawatiran atas meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga di seluruh dunia mulai dari Brasil, Jerman, Italia, hingga China. Direktur regional internasional Planned Parenthood Federation untuk Asia Timur, Tenggara, dan Oceania, Tomoko Fukuda, mengatakan, orang-orang yang terjebak di rumah dalam lingkungan yang kasar mungkin tidak memiliki kendali atas kesehatan seksual mereka. "Terkurung di rumah dan tidak bisa keluar, itu memengaruhi banyak hal, dalam hal pengambilan keputusan wanita," katanya.

Marie Stopes International juga telah memperingatkan jutaan aborsi yang tidak aman secara global dan ribuan kematian ibu lainnya. Di Filipina, melakukan aborsi adalah melanggar hukum.

Meskipun pembatasan telah dilonggarkan, persediaan peralatan pelindung untuk staf rendah, demikian juga komoditas dan obat-obatan. Tidak ada kondom yang tersisa.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA