Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

IDAI: Sebaiknya Sekolah tidak Dibuka Sampai Desember

Senin 01 Jun 2020 22:39 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Belajar daring. Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan kasus Covid-19 dapat melonjak jika sekolah kembali dibuka saat ini.

Belajar daring. Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan kasus Covid-19 dapat melonjak jika sekolah kembali dibuka saat ini.

Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah
IDAI mengingatkan pembukaan sekolah dapat berisiko besar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pembatasan fisik merupakan syarat penting dalam upaya pencegahan penularan Covid-19. Menurut IDAI, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih sangat berisiko menimbulkan lonjakan jumlah kasus baru jika diberlakukan sekarang.

"Dengan memerhatikan jumlah kasus konfirmasi Covid-19 yang masih terus bertambah dan mulai melonggarnya PSBB, kemungkinan akan terjadi lonjakan jumlah kasus kedua," kata Ketua Umum IDAI dr Aman Bakti Pulungan SpA(K) dalam keterangan tertulis yang diterima republika.co.id.

Di samping itu, IDAI mencermati, upaya menerapkan pencegahan infeksi pada anak-anak masih sulit untuk dilakukan. Aman mengatakan, IDAI menganggap perlu memberikan anjuran mengenai kegiatan belajar mengajar di masa pandemi Covid-19.

Aman mengungkapkan, IDAI mendukung dan mengapresiasi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadikan rumah sebagai sekolah dan melibatkan peran aktif siswa, guru dan orang tua dalam proses belajar mengajar. Pihaknya menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan melalui skema pembelajaran jarak jauh (PJJ), baik secara dalam jaringan maupun luar jaringan, menggunakan modul belajar dari rumah yang sudah disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anjuran melanjutkan PJJ ini, menurut Aman, perlu dievaluasi secara berkala mengikuti perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Ia mengungkapkan, dengan mempertimbangkan antisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai bulan Desember 2020.

"Pembukaan kembali sekolah-sekolah dapat dipertimbangkan jika jumlah kasus Covid-19 telah menurun," kata Aman.

Apabila sudah memenuhi syarat epidemiologi untuk kembali membuka sekolah, maka IDAI menghimbau agar semua pihak dapat bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI sesuai dengan area yang sudah memenuhi syarat pembukaan. Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilans kesehatan untuk mendeteksi kasus baru, dan pelacakan epidemiologi.

Untuk keperluan ekstrapolasi data secara akurat, menurut Aman, IDAI menyarankan agar pemerintah dan pihak swasta melakukan pemeriksaan rt-PCR secara masif. Diperlukan pemeriksaan 30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi Covid-19, termasuk juga pada kelompok usia anak.

Aman menyatakan, IDAI akan terus melakukan pemantauan situasi langsung melalui cabang-cabang IDAI dan akan terus melakukan kajian dan memberikan rekomendasi sesuai perkembangan situasi terkini. Pihaknya mengharapkan agar masyarakat serta berbagai pihak penyelenggara pendidikan dan pembuat kebijakan dapat mengutamakan aspek kesehatan dan pencegahan penularan penyakit dalam membuat berbagai perencanaan menuju tatanan kehidupan normal baru, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan.

"Untuk itu, IDAI siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mempersiapkan tatanan kehidupan normal baru yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia," ujar Aman.

Baca Juga

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA