Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Lebaran, Sampah DKI Menurun dan Kualitas Udara Membaik

Selasa 26 May 2020 14:26 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Andi Nur Aminah

Suasana pada proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (26/5/2020). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta pada momen Hari Raya Idulfitri atau lebaran tahun ini menjadi kondisi yang terbaik selama lima tahun terakhir seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Suasana pada proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (26/5/2020). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta pada momen Hari Raya Idulfitri atau lebaran tahun ini menjadi kondisi yang terbaik selama lima tahun terakhir seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB).

Foto: Antara/Aprillio Akbar
Kualitas udara Lebaran 2020 paling baik dibandingkan Lebaran 5 tahun ke belakang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akumulasi sampah Warga Jakarta yang dikirim ke TPST Bantargebang saat dua hari Idul Fitri 2020 kemarin menurun. Tepat pada hari pertama lebaran, sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang hanya 2.195 ton dengan 432 rit truk sampah. Sedangkan pada H-1, total sampah mencapai 6.995 ton dengan 1.299 rit truk sampah.

Baca Juga

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan, berdasarkan pengalaman empiris pada tahun-tahun sebelumnya, tonase sampah menurun saat pra dan pascalebaran, namun tahun ini terjadi sedikit perubahan pola karena ada larangan melakukan mudik. Sehingga Warga di ibu kota relatif tidak berkurang.

Berdasarkan data tahun 2019, ungkap Andono, pada saat H-1 tonase sampah mencapai 7.145 ton dengan 1.321 rit truk sampah dan sampah turun drastis pada hari H-nya dengan tonase hanya 1.959 ton dengan ritase 376 rit. "Sampah akan kembali normal pada H+3, Rabu (27/5)," kata Andono, Selasa (26/5).

Pada saat itu, jelas dia, tukang-tukang gerobak RT/RW yang sempat libur merayakan Idul Fitri telah kembali bertugas dan akumulasi tumpukan-tumpukan sampah yang sempat tertinggal di tempat sampah masing-masing rumah warga mulai dikirim ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Dinas Lingkungan Hidup, kata dia, sudah melakukan antisipasi kemungkinan peningkatan tonase tersebut. “Kita siap. Pola dan strategi operasi sudah kita antisipasi,” katanya.

TPST Bantargebang tempat diprosesnya sampah Jakarta pun, kata Andono, tetap beroperasi 24 jam selama libur Idul Fitri 1441 H. Sebanyak 300 personel ditugaskan piket di tempat pengelolaan sampah tersebut.

“Per hari ini dwelling time atau waktu rata-rata truk sampah mengantri, menimbang dan menurunkan sampah sampah di sana hanya dua jam 15 menit. Ini salah satu indikator pengelolaan TPST Bantargebang tetap normal,” katanya.

Andono juga mengungkapkan, sebelum Lebaran, para supir truk sampah juga diinstruksikan untuk mengosongkan Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) di seluruh wilayah Jakarta. Pengosongan dilakukan agar TPS dapat menampung sampah dengan kapasitas maksimal pada saat libur hari H dan H+1 lebaran. Selain itu agar kondisi lingkungan sekitar TPS tetap nyaman, tidak berbau menyengat, serta menghindari berkembangnya lalat dan vektor penyakit lainnya.

“Sampah jika lebih dari tiga hari berdiam di TPS sudah mulai membusuk dan membuat tidak nyaman lingkungan. Kita menghindari itu,” katanya.

Selain sampah, Dinas Lingkungan Hidup DKI juga mencatat kualitas udara Jakarta yang jauh lebih baik saat Lebaran. Libur Idul Fitri membuat kualitas udara Jakarta semakin membaik.

Andono menyebut jika sebelumnya kualitas udara ibu kota telah menunjukan tren membaik selama penerapan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Selama libur hari raya, data menunjukan kualitas udara semakin baik lagi.

"Konsentrasi PM2,5 di semua lokasi pemantauan kualitas udara menunjukan angka penurunan dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Secara keseluruhan rata-rata PM2,5 sebelum dan saat Idul Fitri memenuhi baku mutu PM2,5 (

Sedangkan, konsentrasi CO menjelang dan saat Idul Fitri 2020 menunjukan angka yang relatif kecil. Hal tersebut dikarenakan sumber utama CO dari sektor transportasi sudah berkurang sejak diterapkannya PSBB, sehingga konsentrasi CO sangat rendah dan memenuhi Baku Mutu (< 9 ug/m3).

Dinas LH juga mengungkapkan, kecenderungan selama lima tahun terakhir selama menjelang Idul Fitri dan libur lebaran konsisten menunjukan penurunan konsentrasi polutan untuk parameter PM2,5, CO, NO2, SO2 dan O3. Namun tahun ini penurunan konsentrasi pencemar udara makin tinggi lagi. “Disimpulkan, kualitas udara Lebaran 2020 paling baik dibandingkan Lebaran 5 tahun ke belakang,” katanya.

Jika dibandingkan dengan Lebaran tahun 2019, ungkap Andono, konsentrasi PM10, PM2,5, CO, NO2, SO2 dan O3 Idul Fitri 2020 mengalami penurunan, yaitu sebesar 28 persen (PM2,5), 23 persen (PM10), 8 persen (CO), 13 persen (NO2), 4 persen (SO2) dan 41 persen (O3).

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan pemantauan di 6 (enam) Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) miliknya.Yakni di Bundaran HI (DKI-1), Jakarta Pusat peruntukan roadside; Kelapa Gading (DKI-2), Jakarta Utara peruntukan permukiman; Jagakarsa (DKI-3), Jakarta Selatan peruntukan permukiman; Lubang Buaya (DKI-4), Jakarta Timur peruntukan permukiman; Kebon Jeruk (DKI-5), Jakarta Barat peruntukan permukiman; dan 3 unit SPKU mobile.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA