Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Harga Minyak Jatuh DIpicu Ketegangan China dan AS

Sabtu 23 May 2020 11:09 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Harga minyak dunia (ilustrasi).

Foto: REUTERS/Max Rossi
Harga minyak jatuh di tengah keraguan seberapa besar permintaan akan pulih.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak jatuh sekitar dua persen pada akhir perdagangan Jumat waktu New York atau Sabtu (23/5) WIB. Harga minyak jatuh di tengah meningkatnya ketegangan AS dan China. Selain itu, harga minyak jatuh di tengah keraguan tentang seberapa cepat permintaan bahan bakar akan pulih dari krisis virus corona.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 0,93 dolar AS atau 2,6 persen, menjadi ditutup pada 35,13 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 0,67 dolar AS atau 2,0 persen menjadi menetap di 33,25 dolar AS per barel.

Permintaan bahan bakar anjlok dalam beberapa bulan terakhir karena pandemi virus corona. Pandemi menyebabkan berbagai negara memberlakukan pembatasan pergerakan dan bisnis menutup pintu mereka. Minyak telah reli dalam beberapa hari terakhir ketika aktivitas dimulai kembali.

Tetapi harga turun setelah China mengatakan pada Jumat (22/5) bahwa tidak akan mempublikasikan target pertumbuhan tahunan untuk pertama kalinya. Beijing juga menjanjikan lebih banyak pengeluaran pemerintah karena pandemi terus memukul ekonomi.

"Virus corona telah menghapus satu dekade pertumbuhan permintaan minyak global dan pemulihan akan lambat," kata Stephen Brennock dari broker PVM.

Untuk pekan ini, Brent dan WTI masing-masing naik 8,0 persen dan 13 persen.

"Gelombang kedua (dari virus corona) bukanlah suatu kemungkinan yang jauh dan babak baru penguncian dapat mengirim harga kembali ke tingkat yang jauh lebih rendah dengan sangat cepat, dan pasar mengetahuinya," kata analis pasar minyak senior Rystad Energy, Paola Rodriguez Masiu.

Harga minyak telah anjlok lebih dari 40 persen sejauh ini pada 2020. Rebound baru-baru ini sebagian karena upaya oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu untuk mengurangi pasokan. OPEC+ mengurangi pasokan dengan rekor 9,7 juta barel per hari mulai 1 Mei.

Menurut data perusahaan jasa energi Baker Hughes Co, jumlah rig AS, indikator produksi yang akan datang, turun 21 rig ke rekor terendah 318 rig minggu ini. Sementara itu, sebagai tanda berkurangnya kelebihan pasokan, persediaan minyak mentah AS turun pekan lalu.

Baca Juga

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA