Berlebaran dalam Suasana Covid-19 di Australia

Red: Ani Nursalikah

 Jumat 22 May 2020 16:40 WIB

Berlebaran dalam Suasana Covid-19 di Australia. Riska (kedua dari kiri), warga Muslim Indonesia, saat merayakan lebaran bersama rekan-rekannya di Melbourne, Australia. Tahun ini, ia merayakan lebaran Idul Ftri dalam suasana pembatasan sosial terkait COVID-19. Foto: ABC/Supplied Berlebaran dalam Suasana Covid-19 di Australia. Riska (kedua dari kiri), warga Muslim Indonesia, saat merayakan lebaran bersama rekan-rekannya di Melbourne, Australia. Tahun ini, ia merayakan lebaran Idul Ftri dalam suasana pembatasan sosial terkait COVID-19.

Lebaran di Australia menjadi tantangan tersendiri karena pembatasan sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Mohon maaf ibu-ibu, usahakan datang on time ya," ujar Riska, seorang warga Indonesia yang kini tinggal di Melbourne, Australia. Ia sedang mengingatkan rekan-rekannya yang akan datang ke kediamannya untuk merayakan Idul Fitri yang akan dilaksanakan pada Ahad (24/5).

Lebaran kali ini, bagi umat Islam di Australia, menjadi tantangan tersendiri karena adanya pembatasan sosial terkait Covid-19. Untung saja di Melbourne saat ini sudah diperbolehkan menerima tamu di dalam rumah maksimal hingga lima orang untuk sekali bertamu.

Pasalnya, inti perayaan Lebaran, apalagi bagi warga asal Indonesia, adalah kesempatan untuk saling bersilaturahmi, mengunjungi satu sama lain. Sambil bercengkrama menikmati menu-menu khas lebaran.

Baca Juga

Kepada jurnalis ABC Farid M. Ibrahim, Riska yang sudah beberapa tahun tinggal di Melbourne, menjelaskan silaturahmi lebaran tahun ini harus disesuaikan dengan aturan pembatasan Covid-19.

"Kebetulan Riska baru tiga tahun di Ashburton (salah satu daerah di Melbourne). "Tahun pertama iya, tahun kemarin enggak karena gantian sama teman, terus tahun ini memang rencananya Riska mau adakan lebaran di rumah, tapi ternyata ada Covid," ujarnya.

Selain meminta untuk datang tepat waktu, Riska juga memastikan agar tamu-tamunya datang di waktu yang berbeda-beda. Masing-masing dialokasikan waktu satu jam untuk sekali bertamu.

"Kalau tiba di rumah, jangan langsung ke pintu rumah saya, tunggu di mobil. Saya akan telpon apabila tamu-tamu sebelumnya sudah pulang," katanya.

Riska juga menyediakan hand sanitizer di depan pintu dan meminta tamu-tamunya untuk menggunakan pembersih tangan ini sebelum masuk ke dalam. Di dalam rumah pun, aturan untuk menjaga jarak tetap diterapkan sebagaimana dianjurkan oleh pemerintah setempat. Menurut Riska, ia sudah menyiapkan aneka makanan khas lebaran berupa lontong sayur, rendang, sambal goreng hati, opor ayam, telur balado, gulai telur, dan bakso.

 

 

sumber : ABC
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Play Podcast X