Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Layar Terkembang, Nakhoda Yudo Rintangi Gelombang

Kamis 21 May 2020 16:48 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Laksamana TNI Yudo Margono bersiap dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/5/2020). Presiden Joko Widodo secara resmi melantik Laksamana TNI Yudo Margono sebagai KSAL dan Marsekal TNI Fadjar Prasetyo sebagai KSAU.

Laksamana TNI Yudo Margono bersiap dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/5/2020). Presiden Joko Widodo secara resmi melantik Laksamana TNI Yudo Margono sebagai KSAL dan Marsekal TNI Fadjar Prasetyo sebagai KSAU.

Foto: ANTARA /Hafidz Mubarak A
Laksamana Yudo lahir di tengah sejarah bangsa, dilantik saat Harkitnas.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Selamat Ginting, Wartawan Senior Republika

Saat terjadi peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965, Menteri/Panglima Angkatan Laut, RE Martadinata, dengan cepat memberikan reaksi. Sang laksamana mengutuk gerakan tersebut dan menyatakan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) bekerja sama dengan Angkatan Darat akan menumpas G30S/PKI.

“Mereka (massa) bisa pergi keluar dan membersihkan komunis tanpa halangan dari militer,” kata Martadinata, saat menghadiri pemakaman Ade Irman Suryani Nasution, anak dari Jenderal AH Nasution.  (John Hues dan Cristian Science Monitor).

Betul saja, mahasiswa dan masyarakat sudah geram terhadap pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka juga mengingatkan pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun. Markas PKI pun dibakar massa.

Respons cepat Laksamana Martadinata ternyata tidak disenangi Presiden Sukarno.  Sehingga jabatannya sebagai orang nomor satu di Angkatan Laut dicopot. Martadinata tidak peduli harus kehilangan jabatan. Itulah sikapnya dalam kondisi negara sedang dilema. Tegas menentang komunisme. Menentang PKI yang lahir pada 23 Mei 1914.

Dalam suasana Indonesia bergolak pada Oktober dan November 1965 itulah, lahir Yudo Margono di Madiun, Jawa Timur.  Madiun merupakan kota kecil penghubung Surabaya – Surakarta (Solo).  Ia lahir pada 26 November 1965.

Di wilayah yang 90 persen penduduknya Muslim, Yudo bersekolah dari SD hingga SMA. SD di garon, SMP di balerojo, dan SMA di Caruban. Semuanya di Madiun, yang dikenal kelezatan nasi pecel dan madu mongsonya.

Meski berada di wilayah Jawa Timur, namun Madiun unik.  Kebudayaannnya lebih dekat ke budaya ‘Jawa Tengahan’ (Mataraman). Mengapa? Karena Madiun pernah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram.

Pada 1948, terjadi pemberontakan yang dilakukan PKI di Madiun. Pemberontakan dipimpin Musso di Kresek, Wungu, Kabupaten Madiun. Sekarang dikenal dengan nama Monumen Kresek. 

Sikap tegas Laksamana Martadinata saat berhadapan dengan PKI tahun 1965 menjadi catatan sejarah. Ia juga senantiasa mengingatkan pemberontakan PKI Madiun.

Sekitar 55 tahun kemudian, setelah pernyataan tegas Martadinata. Anak Madiun, Yudo Margono dipercaya menjadi pimpinan Angkatan Laut. Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Yudo sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) dan Fadjar Prasetyo sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).

Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, dan disiarkan di saluran YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (20/5/2020). Protokol kesehatan pencegahan virus Corona (COVID-19) diberlakukan dalam proses pelantikan tersebut. Sebuah pelantikan di hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari Kebangkitan Nasional.

Yudo dan Fadjar diangkat sebagai KSAL dan KSAU berdasarkan Keppres Nomor32 dan 33 TNI Tahun 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Staf Angkatan Laut serta Kepala Staf Angkatan Udara dan Keppres Nomor 34 dan 35 TNI Tahun 2020 tentang Kenaikan Pangkat dalam Golongan Tinggi TNI. Dengan Keppres nomor 34 dan 35 TNI Tahun 2020, Yudo resmi berpangkat Laksamana TNI dan Fadjar berpangkat Marsekal TNI.

Seusai dilantik, Yudo dan Fadjar menandatangani berita acara pelantikan. Keduanya mengenakan masker hitam. Yudo menggunakan sarung tangan putih, menggantikan Laksamana Siwi Sukma Aji. Fadjar menggunakan sarung tangan hitam, menggantikan Marsekal Yuyu Sutisna.

Sebelum menjadi KSAL, Yudo menjabat sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I. Yudo merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1988-A. Sedangkan Fadjar sebelumnya menjabat Pangkogabwilhan II. Fadjar merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1988-B.

Acara pelantikan dihadiri Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto; Kepala Polri, Jenderal Idham Azis; Menko Polhukam Mahfud Md; Mensesneg, Pratikno; Menhan Prabowo Subianto, hingga KSAD, Jenderal Andika Perkasa.

Saat Yudo dilantik sebagai letnan dua di Istana Negara pada 1988, sebagai KSAL saat itu, Laksamana Rudolf Kasenda. Kasenda lulusan Institut Angkatan Laut (IAL) tahun 1955. Satu tahun kemudian, pada 1956, IAL berubah nama menjadi AAL.
 
Yudo lulusan pola akademi empat tahun. Masuk pendidikan (werving) tahun 1984 dan lulus tahun 1988. Adik kelasnya, werving tahun 1985, menjalani pola pendidikan tiga tahun. Sehingga lulus bersamaan tahun 1988. Namun werving 1985, masih harus masuk pendidikan kecabangan (korps) selama sekitar satu tahun. Baru kemudian ditempatkan di kesatuan militer. Werving 1985 ini, di antaranya adalah KSAU, Marsekal Fadjar Prasetyo.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA