Jumat 08 May 2020 22:39 WIB

Indogrosir Jadi Klaster Baru Covid-19 di DIY

Saat ini sudah ada empat klaster besar penularan Covid-19 di DIY.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Andri Saubani
Aparat TNI dan Polisi bersiap mendistribusikan makanan untuk warga kurang mampu di Posko Sinergitas Dapur Umum Peduli Covid 19 di Pasar Seni Gabusan, Bantul, Yogyakarta, Jumat (8/5). (ilustrasi)
Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Aparat TNI dan Polisi bersiap mendistribusikan makanan untuk warga kurang mampu di Posko Sinergitas Dapur Umum Peduli Covid 19 di Pasar Seni Gabusan, Bantul, Yogyakarta, Jumat (8/5). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY menyebut ada tambahan satu klaster baru yang menyebabkan penularan Covid-19 di DIY terus meluas. Klaster baru di DIY yaitu klaster Supermarket Indogrosir di Kabupaten Sleman.

Sehingga, total saat ini sudah ada empat klaster besar penularan Covid-19 di DIY. Tiga klaster yang sudah ada sebelumnya yakni klaster tabligh DKI Jakarta yang penularannya terjadi dua kabupaten di DIY yaktu di Sleman dan Gunungkidul serta klaster pertemuan Sidone GBIP di Bogor, Jawa Barat yang penularannya terjadi di Kota Yogyakarta.

Baca Juga

Anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY, Riris Andono Ahmad mengatakan, klaster baru ini dimulai dengan ditemukannya satu kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada 24 April 2020 lalu. Terkonfirmasi positif tersebut merupakan karyawan dari supermarket tersebut.

Tracing kontak dari kasus pertama pun dilakukan dan ditemukan 10 orang yang memiliki kontak erat. 10 kasus yang kontak dengan kasus pertama di klaster ini dilakukan rapid test dengan hasil lima diantararanya reaktif.

"Skrining (pemeriksaan) lanjutan dilakukan dan data sampai dengan tanggal 7 Mei, Dinas Kabupaten Sleman telah melakukan rapid test sebanyak 338 kepada karyawan Indogrosir dengan 57 di antaranya hasilnya adalah reaktif," kata Riris di BPBD DIY, Jumat (8/5).

Dengan adanya klaster baru penularan Covid-19 ini, menunjukkan transmisi lokal penyebaran Covid-19 di DIY sudah meluas. Untuk itu, perlu dilakukannya skrining dengan skala yang lebih luas dan lebih masif.

"Dengan skala penularan yang sudah meluas, maka penemuan kasus dilakukan dengan pendekatan screening dibandingkan dengan melakukan tracing kontak," ujarnya.

Terkait klaster tabligh yang penularannya terjadi di Gunungkidul, Riris menyebut, penyebarannya terus berkembang hingga ke Kabupaten Bantul. Bahkan, dari klaster ini sudah berkembang mencapai 34 kasus reaktif dari rapid test dan 11 kasus diantaranya terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan tes swab.

"Dari 18 kasus awalnya, ada enam terkonfirmasi yang dilaporkan pada minggu sebelumnya. Saat ini kasus sudah berkembang menjadi 34 kasus dengan 11 kasus terkonfirmasi," jelas Riris.

Sementara itu, klaster tabligh yang penularannya ada di Sleman juga sudah meluas hingga ke Bantul. Riris menyebut, di Sleman penularannya sudah mencapai generasi ketiga dan di Gunungkidul sudah mencapai generasi kelima.

Klaster tabligh di Sleman dan Gunungkidul ini awalnya dibawa oleh jemaah yang pulang setelah mengikuti kegiatan di Jakarta ke dua kabupaten tersebut. Dua jamaah ini membentuk penyebaran Covid-19 di masing-masing kabupaten itu.

Untuk klaster pertemuan Sidone GBIP di Bogor, awalnya dibawa oleh tiga jemaat yang pulang ke Kota Yogyakarta. Rombongan jemaat ini juga melakukan pertemuan di Jawa Tengah dan setelah itu penularan terjadi terhadap jemaat lainnya di sebuah gereja yang ada di Kota Yogyakarta.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement