Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

corona

Azan Berkumandang di Jerman dan Belanda, Dukung Lawan Corona

Sabtu 04 Apr 2020 16:05 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Sehitlick Mosque, salah satu masjid  Turki di Berlin, Jerman.

Sehitlick Mosque, salah satu masjid Turki di Berlin, Jerman.

Foto: Republika/Fernan Rahadi
Sebanyak 100 masjid di Jerman dan Belanda lantunkan azan pada Jumat

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Hampir 100 masjid di Jerman dan Belanda melantunkan azan pada Jumat, sebagai bentuk dukungan kepada umat Islam di tengah pandemi virus kcrona. Azan dilantunkan dari dua masjid yang berada di bawah Islamic National View dan Asosiasi Muslim Turki (DITIB).

Baca Juga

Seorang perwakilan DITIB, Fahrettin Alptekin mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa azan dapat didengar di lebih dari 50 masjid lokal. Menurut Alptekin, umumnya suara azan yang dikumandangkan melalui pengeras suara masjid dilarang di Jerman kecuali ketika ada acara khusus.

Sementara itu, di Belanda suara azan berkumandang secara luas melalui pengeras suara sebagai bentuk solidaritas untuk melawan pandemi virus corona. Jerman diketahui merupakan salah satu negara di Eropa yang terdampak Covid-19 cukup parah.

Jumlah pasien meninggal dunia di Jerman meningkat menjadi 1.230 pada Jumat (3/4). Sementara, jumlah kematian di Belanda telah melampaui 1.487.

Direktur Jenderal Organisasi Keseahatan Internasional (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan bahwa lebih dari satu juta kasus Covid-19 telah dilaporkan kepada WHO, termasuk lebih dari 50 ribu kematian. Menurutnya, pandemi virus corona bukan hanya terkait dengan krisis kesehatan, namun juga sosial dan ekonomi.

Ghebreyesus mengatakan, negara-negara harus berjuang bersama dalam melawan pandemi virus korona untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian. Dalam jangka pendek, negara harus meringankan beban warganya melalui program kesejahteraan sosial dan memastikan mereka memiliki makanan serta kebutuhan pokok lainnya.

"Pembatasan yang diberlakukan banyak negara untuk melindungi kesehatan mengambil banyak korban dari pendapatan individu dan keluarga, serta ekonomi masyarakat dan negara," ujar Ghebreyesus. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA