Saturday, 18 Sya'ban 1441 / 11 April 2020

Saturday, 18 Sya'ban 1441 / 11 April 2020

Siapa Bilang Milenial Kebal Virus Corona

Senin 23 Mar 2020 13:54 WIB

Red: Indira Rezkisari

Milenial diimbau untuk menyadari bahayanya corona. Mereka diminta ikut jadi bagian dari solusi, bukan justru penambah masalah.

Milenial diimbau untuk menyadari bahayanya corona. Mereka diminta ikut jadi bagian dari solusi, bukan justru penambah masalah.

Foto: ANTARA/nova wahyudi
Milenial harus memahami mereka juga kelompok yang bisa terimbas dampak corona.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Indira Rezkisari
 
Masih banyak yang sebelumnya belum diketahui tentang virus corona. Dunia sebatas paham kalau virus corona jenis baru ini sangat mudah menular dan berisiko bagi mereka dengan penyakit penyerta.

Satu lagi yang dunia banyak dengar bahwa kelompok usia anak-anak dan milenial disebut paling tidak berisiko terkena corona jenis baru atau Covid-19. Alasannya, salah satunya karena dari segi usia mereka masuk ke dalam kategori paling kuat imunitasnya.

Meski sehat tapi milenial ternyata sangat mungkin meluarkan virusnya ke orang lain. Misalnya, ke kakek nenek yang serumah dengan mereka. Kenyataannya, generasi milenial kerap meremehkan bahaya Covid-19. Milenial tidak menyadari bahaya mereka sebagai generasi penular corona.

Staf Khusus Millenial Presiden yang juga pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara menyoroti kasus Covid-19 yang semakin lama semakin meningkat dan menyebar di Tanah Air. "Virus tidak menyebar sendiri, yang menyebarkannya adalah kita semua. Bahkan, generasi milenial adalah generasi penular terbesar," ujarnya, saat video conference Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertema Peran Millenial dalam Pencegahan dan Kesiapsiagaan Covid-19, Senin (23/3).

Ia menyontohkan di Korea Selatan ada sekitar 300 ribu dari berbagai kelompok usia dites Covid-19. Hasilnya 30 persen kasus positif terjadi pada usia 20-29 tahun. Jumlah ini tiga kali lebih besar dari kelompok umur 30-39 tahun atau dua kali lebih besar dari kelompok umur 40-49 tahun di negeri ginseng itu.

Bahkan, ia mengaku saat perjalanan menuju lokasi konferensi pers di BNPB di Jakarta Timur, sepanjang jalanan masih ramai. Ia mendapati fakta ternyata banyak orang masih tidak percaya pada imbauan pemerintah melakukan social distancing. Ia prihatin banyak anak muda yang masih menganggap remeh.

"Itu kunci virus menyebar, apalagi mobilitas anak muda tinggi. Mungkin generasi millenial menganggap virus ini tidak berbahaya buat dirinya padahal itu tindakan tidak bertanggung jawab yang membahayakan orang tua hingga nenek mereka," katanya.  

Ia mengharapkan semua pihak tidak meremehkan dan punya peran penting menghentikan kasus penularan virus. Ia meminta anak muda menghentikan penularan dimulai dari dirinya sendiri dengan menjaga jarak dan jangan bersikap ngeyel dengan diam di rumah dulu. Ia meminta anak muda bekerja dari rumah dan keluar rumah jika hanya dalam kondisi terpaksa.

Selain itu ia meminta anak muda perangi disinformasi atau hoaks. Ia menjelaskan, anak muda punya akses informasi lebih mudah, lebih mengerti, tidak gagap teknologi dibanding kelompok umur lain. Karena itu, ia meminta begitu anak muda melihat informasi di media sosial misalnya Twitter dan ada informasi baik maka bisa membantu menyebarkan.

Sebaliknya kalau informasi buruk bisa hentikan sebarkan hoaks dan ingatkan kawan-kawan di grupnya misalnya aplikasi pesan instan Whatsapp supaya tidak melakukan penyebaran hoaks. Ia meminta geneeasi millenial harus berpikir kritis, artinya tidak mempercayai mentah-mentah informasi yang diterima.

"Semua harus dicek dulu sumbernya, tanya sumbernya. Cek di beberapa laman, website satu, website dua, website tiga dan kalau jawabannya sama maka itu bukan hoaks. Tetapi kalau hanya satu dan tidak jelas sumbernya maka itu hoaks," katanya.

Selain itu, ia juga meminta generasi millenial tidak menyalahkan atau menyerang satu sama lain terkait Covid-19. Ia menegaskan, virus ini kini menjadi pandemi yang juga terjadi di negara-negara lain. Kini, ia meminta anak muda bisa memfokuskan energinya untuk menolong sesama, apa yang bisa dilakukan.

Ia menyontohkan temannya yang juga dari kelompok generasi millenial yang menyediakan portal informasi mengenai Covid-19. Atau bisa juga dokter muda yang menawarkan konsultasi gratis. Bisa juga melakukan cara lainnya diantaranya memberikan tip untuk sopir ojek online di tengah imnas dampak ekonomi akibat Covid-19.

"Berpikir apa yang bisa kita lakukan, bisa mengedukasi atau sesuai kemampuan masing-masing," katanya.

Baca Juga



Penasehat senior dari Direktur Jenderal WHO, Dr. Bruce Aylward, menegaskan corona adalah salah satu penyakit paling serius yang manusia hadapi sepanjang hidupnya. Karena itu dia mengajak manusia untuk mengakuinya dan menghargainya, dikutip dari Time.

Mereka yang masuk usia lansida dan memiliki penyakit penyerta memang berisiko tinggi bila terpapar corona. Tapi corona bisa jadi lebih berbahaya bagi anak muda dibanding yang dibayangkan sebelumnya.

"Salah satu yang paling menakutkan saya adalah penyebarannya di dunia barat. Ada kesan milenial menganggap mereka yang rentan karenanya," kata Aylward.

Sensus di Amerika mengkategorikan milenial sebagai mereka yang terlahir antara tahun 1982 hingga 2000. Ada pula kategori lain yang memasukkan milenial sebagai mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996.

"Kami tidak paham mengapa beberapa anak muda yang sehat berkembang pesat hingga sangat buruk dan bahkan meninggal. sementara anak muda lain tidak," katanya. Dia mengingatkan lagi untuk tidak meremehkan penyakit ini. Alasannya, masih banyak yang tidak diketahui dari penyakit ini.

Peringatan Aylward tiba dari analisa awal yang dikeluarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pekan lalu. CDC menyebut 38 persen pasien corona di Amerika yang sangat sakit hingga harus dirawat di rumah sakit justru berusia di bawah 55 tahun.

"10 persen mereka yang dirawat di ICU di Italia ada di usia 20an, 30an, atau 40an. Ini adalah orang-orang muda, sehat dengan tidak ada riwayat penyakit penyertam atau komorbiditas, dan tidak ada penyakit lain," ujarnya.

Dia mengatakan, ada kekhawatiran juga dari Prancis dan Italia tentang anak-anak muda yang tiba-tiba sakit parah. Termasuk yang sangat sakit di ICU.

Tapi tampaknya anak muda memang tidak semuanya mau menyadari bahaya corona. Diwawancarai Reuters, seorang pemuda yang ditemui di Miami mengatakan, jika harus terkena corona dia pasrah. "Intinya, itu tidak akan menghalangi saya untuk berpesta. Saya sudah ada di Miami untuk liburan musim semi selama beberapa waktu."

Aylward mengingatkan anak muda, bahkan bila virusnya hanya menyebabkan gejala ringan, ada dampak kesehatan jangka panjang yang menyertainya. Berdasarkan studi terbatu yang dibuat RS Hong Kong, beberapa yang selamat dari corona hanya memiliki fungsi paru yang kurang dari 30 persen. Akibatnya mereka mengalami kondisi seperti kekurangan napas meski itu dari berjalan cepat.

Karena itu anak muda sangat penting memiliki peran menghentikan virus yang menyebar melalui kontak dekat dan lewat droplet saluran pernapasan, yang dihasilkan melalui batuk atau bersin mereka yang terinfeksi.

"Sekarang yang kita tahu, corona bisa membunuh anak muda. Virus ini bisa membuat anak muda sakit dalam jumlah banyak. Anda harus mengakui itu," kata dia.

Dalam konferensi pers, Kamis (19/3), Juru Bicara Penanganan Virus Corona, Achmad Yuriantoro, mengatakan saat itu jumlah usia pasien yang meninggal ada di rentang 45 hingga 65 tahun. Ketika itu namun sudah ada pasien berusia di bawah 37 tahun meninggal.

photo
Akselerasi Kasus dan Kematian Akibat Corona di Indonesia - (Infografis Republika.co.id)



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA