Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Amankah Naik Ojek atau Taksi Saat Pandemi Corona?

Ahad 22 Mar 2020 20:20 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menyemprotkan cairan disinfektan ke pengendara ojek daring di Surabaya, Jawa Timur, ahad (22/3). (ilustrasi)

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menyemprotkan cairan disinfektan ke pengendara ojek daring di Surabaya, Jawa Timur, ahad (22/3). (ilustrasi)

Foto: ANTARA/zabur karuru
Baik Gojek dan Grab berusaha memastikan layanan transportasi daring mereka aman.

REPUBLIKA.CO.ID, Adanya pembatasan transportasi umum di sejumlah titik akibat pandemi virus corona baru (Covid-19) memaksa para pekerja yang masih dituntut masuk kantor mencari opsi transportasi lain. Opsi itu seperti kendaraan pribadi atau ojek dan taksi daring (online).

Namun, di sisi lain, kembali timbul pertanyaan, apakah berpergian dengan ojek atau taksi daring lebih aman daripada menggunakan transportasi umum massal?

Dikutip dari The Telegraph, taksi relatif aman digunakan di tengah pandemi karena memiliki ruang tertutup dan orang yang ada di dalamnya pun terbatas. Lebih jauh, sejumlah ahli kesehatan dan keamanan merekomendasikan, tempat paling aman untuk duduk adalah tepat di belakang pengemudi, karena penumpang cenderung tidak akan terkena tetesan air (droplet) saat pengemudi batuk atau bersin.

Namun, Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) DKI Jakarta, dr. Koesmedi Priharto mengatakan, baik ojek atau taksi daring sama berisikonya terhadap penumpang jika pengemudi memang telah terinfeksi virus corona. Sehingga, jika memang keadaan sangat mendesak dan mengharuskan pekerja untuk menggunakan jasa layanan transportasi ini, semua juga tergantung pada penumpang.

Penumpang transportasi umum pada masa pandemi corona saat ini, diingatkan untuk menerapkan protokol keamanan pada diri masing-masing. Salah satu cara yang direkomendasikan oleh Koesmedi, ialah membawa dan memakai helm milik sendiri alih-alih milik pengemudi ojek.

"Kalau bisa pakai helm sendiri mungkin lebih baik. (Penutup kepala untuk helm) tidak menjanjikan (bisa melindungi dari paparan virus), karena jarak satu meter dua meter jadi masalah," kata Koesme di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca Juga

Koesmedi juga mengingatkan cara menutup bersin dan batuk dengan benar, penggunaan masker untuk mereka yang sakit juga penting demi mencegah infeksi Covid-19 semakin meluas.

Terlepas dari kajian ahli di atas, penyedia jasa layanan on-demand di Indonesia tengah berusaha untuk memastikan layanan transportasi daringnya tetap aman bagi pengguna maupun mitranya di tengah pandemi corona saat ini.

"Kami telah menempatkan berbagai upaya pencegahan tambahan serta paket dukungan untuk melindungi kesehatan, kesejahteraan dan keberlangsungan hidup mereka," kata Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi melalui keterangannya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Co-CEO Gojek Kevin Aluwi melalui keterangannya yang diterima Antara beberapa waktu lalu mengungkapkan, terdapat tiga area penting untuk mencegah penyebaran virus, yaitu pembatasan jarak sosial (social distancing), mempraktikkan gaya hidup sehat, dan menjaga produktivitas.

"Ekosistem Gojek terdiri dari ratusan juta individu, dan kami yakin upaya pencegahan yang dilakukan Gojek dapat memiliki dampak besar dalam memperlambat atau mencegah penyebaran Covid-19," ujar Kevin.



Upaya pencegahan

Gojek menyebutkan, bahwa pihaknya memahami adanya risiko bagi mitra driver GoCar dan GoRide, sehingga sejumlah upaya pencegahan penyebaran COVID-19 juga terus dilakukan. Salah satunya adalah menyediakan hand sanitizer dan masker kepada mitra driver, yang kehadirannya saat ini semakin sulit dicari, dan harus disediakan untuk mitra driver.

"Secara aktif Gojek menggandeng berbagai pihak dari sektor publik dan swasta untuk mendapatkan suplai berbagai barang dan kebutuhan yang dapat membantu mitra driver kami untuk tetap sehat dan aman dari risiko Covid-19," jelas Kevin.

Selain itu, Gojek juga memberlakukan penonaktifan sementara akun mitra yang sedang dalam observasi tes ovid-19, hingga adanya konfirmasi tes kesehatan dari pemerintah. Gojek juga memiliki tim untuk membantu menghubungkan mitra dengan rumah sakit atau otoritas kesehatan jika memiliki isu terkait dengan Covid-19.

"Gojek berupaya untuk tetap membuat masyarakat menjalani kehidupan senormal mungkin di tengah tantangan COVID-19, termasuk para mitra di ekosistem kami," kata Kevin.

Di sisi lain, Grab Indonesia juga memonitor situasi dan mempersiapkan seluruh pemangku kepentingan Grab pada respons kami terhadap Covid-19.

"Di masa yang tidak pasti ini, sebagai aplikasi serba bisa di Indonesia, kami memiliki kewajiban untuk memastikan seluruh lini layanan kami berjalan dengan resiko yang lebih minim bagi semua pelanggan dan lini mitra yang kami layani dan dukung dalam platform kami," kata Neneng.

Untuk layanan ojek dan taksi daring (GrabBike dan GrabCar), Grab menyebut terdapat sebanyak 100 ribu masker dan hand sanitizer untuk mitra pengemudi yang aktif dan dapat diambil di stasiun kereta terpilih, GrabBike Lounge, dan dapat ditukarkan melalui program GrabBenefits.

"Hal ini akan memungkinkan para mitra pengemudi untuk mensanitasi kendaraan dan tas pengiriman mereka dengan baik sepanjang hari," ujar Neneng.

"Para pengemudi GrabBike juga diingatkan untuk selalu mengenakan helm dan sarung tangan yang bersih, serta menjaga kesehatan," katanya menambahkan.

Grab Indonesia juga menyebut, pihaknya menyediakan Grab Safety Hotline, Pusat Bantuan di Aplikasi Grab Driver, dan melalui forum online untuk menjawab pertanyaan dan segera memberikan bantuan terkait informasi kesehatan dan keamanan yang dibutuhkan.

photo
Tarif ojek online (ojol) di Jabodetabek naik. - (Tim Infografis Republika.co.id)

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA