Monday, 15 Zulqaidah 1441 / 06 July 2020

Monday, 15 Zulqaidah 1441 / 06 July 2020

Memahami Konsep Isolasi Mandiri di Kasus Positif Corona

Jumat 20 Mar 2020 17:53 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sejumlah penumpang saat menaiki MRT di Jakarta, Jumat (20/3). PT MRT Jakarta menerapkan social distancing atau saling menjaga jarak di lingkungan MRT untuk mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19. (Putra M. Akbar/Republika)

Sejumlah penumpang saat menaiki MRT di Jakarta, Jumat (20/3). PT MRT Jakarta menerapkan social distancing atau saling menjaga jarak di lingkungan MRT untuk mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19. (Putra M. Akbar/Republika)

Foto: Putra M. Akbar/Republika
Rumah sakit tidak sanggup jika semua kasus positif corona tanpa gejala harus dirawat

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Antara, Sapto Andika Candra, Idealisa Masyrafina

Banyak masyarakat yang belum memahami konsep isolasi mandiri. Publik takut ketika mendengar bahwa penderita positif corona yang tidak mengeluarkan gejala bisa menyembuhkan dirinya tanpa harus dirawat, melainkan dengan melakukan isolasi mandiri.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona memang belum tentu perlu dirawat di rumah sakit. Terutama bila tidak ada gejala yang darurat.

"Kalau semua yang positif dirawat, rumah sakit akan penuh. Yang penting adalah melakukan isolasi mandiri dengan tetap dipantau oleh tenaga kesehatan," kata Yurianto saat jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (20/3).

Yurianto mengatakan yang perlu langsung dirawat saat diketahui positif terinfeksi virus corona adalah orang-orang yang memiliki penyakit bawaan. Seperti diabetes dan hipertensi.

Bila gejala yang muncul masih berupa demam, batuk, dan pilek saja, maka hanya perlu melakukan isolasi mandiri di rumah. Ia biasakan akan diresepkan obat-obatan yang bisa mengurangi gejalanya.

"Kalau misalnya demam, maka minum obat penurun panas. Begitu juga yang batuk cukup diberi obat batuk. Namun, bila sudah mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas, maka harus langsung dirawat di rumah sakit," tuturnya.

Yurianto mengatakan seseorang yang positif terinfeksi virus corona bisa mengalami gangguan pernapasan. Alasannya dahak yang banyak di saluran pernapasan sudah mulai masuk ke paru-paru.

"Kalau sudah mengalami gangguan pernapasan, maka di rumah sakit perlu langsung di-rontgent untuk mengetahui penyebabnya secara pasti," katanya.

Yurianto memastikan virus corona bisa sembuh sendiri berbasis imunitas tubuh orang yang terinfeksi. "Makanya kita tidak harus menunggu obat atau vaksin. Secara global, lebih banyak yang sembuh daripada yang meninggal akibat penyakit ini," kata Yurianto.

Yurianto mengatakan pasien-pasien dari Indonesia yang sudah dinyatakan sembuh juga tidak menjalani pengobatan yang spesifik. Pengobatan Covid-19 hanya peningkatan imunitas tubuh.

Yang terpenting setelah seseorang mengikuti penapisan dan dinyatakan positif dan tidak ada gejala-gejala yang darurat. Maka cukup melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Lakukan kegiatan yang baik di rumah, gunakan masker, dan pastikan asupan gizi cukup serta jaga jarak dengan keluarga. Isolasi mandiri terhadap seseorang yang positif corona akan tetap dipantau oleh tenaga kesehatan," tuturnya.

Dengan peningkatan imunitas tubuh saat dinyatakan positif Covid-19 sehingga bisa sembuh sendiri, Yurianto berharap seseorang juga bisa mendapat imunologi yang bagus terhadap virus corona.

Baca Juga



Dalam jumpa pers tersebut, Yurianto menyebutkan hingga Jumat pukul 12.00 WIB, jumlah kasus positif virus corona bertambah 60 kasus menjadi 369 kasus. Jumlah kasus meninggal dunia juga bertambah tujuh kasus menjadi 32 kasus.

Sementara itu, pasien yang dinyatakan sembuh juga bertambah satu orang, sehingga sudah ada 17 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Pemerintah telah melakukan perhitungan statistik terkait potensi penularan Covid-19. Hasilnya, ada sekitar 600 ribu hingga 700 ribu jiwa penduduk Indonesia yang termasuk dalam population at risk.

"Jumlah orang yang berisiko. Karena itu pemerintah akan menyiapkan sekitar 1 juta kit untuk pemeriksaan secara massal di dalam kaitan dengan mengidentifikasi kasus positif yang ada di masyarakat," jelas Yurianto, Jumat (20/3).

Penerapan rapid test dilakukan dengan menjejaki seluruh pihak yang pernah kontak dengan pasien positif Covid-19. Misalnya, ada seorang pasien terinfeksi virus corona yang ternyata selama 14 hari ke belakang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Maka, seluruh anggota keluarga yang tinggal bersamanya akan diperiksa melalui rapid test.

Begitu pula apabila ada pasien positif Covid-19 yang ternyata sepanjang 14 hari sebelum dinyatakan positif juga melakukan aktivitas di kantor. Maka seluruh orang yang berada dalam satu ruangan atau melakukan kontak di lingkungan kerja akan dilakukan pemeriksaan cepat (rapid test).

"Ini adalah langkah-langkah penjajakan awal di dalam kaitan pemeriksaan secara masal. Ini yang kita harapkan bisa kita laksanakan," jelas Yurianto.

Kendati rapid test bisa menunjukkan potensi seseorang terinfeksi virus korona atau tidak, namun hasilnya tak 100 persen akurat. Rapid test nantinya menggunakan pemeriksaan darah dengan mengecek kadar immunoglobulin, yakni kadar antibodi dalam tubuh yang bisa memberi gambaran ada-tidaknya virus. Sementara penegakan diagnosis Covid-19 selama ini lebih banyak menggunakan tes usap atau usap dengan mengambi sampel cairan dinding hidung belakang atau dinding mulut belakang.

"Sensitivitas-nya beda tetapi ini adalah screening awal unuk menemukan kasus yang berpotensi menjadi positif. Saat screening positif, akan dilanjutkan dengan tes PCR untuk memastikan positif yang sesungguhnya," jelas Yurianto.

photo
Dua jamaah Masjid Al Furqan bersalaman tanpa bersentuhan tangan usai pelaksanaaan shalat Jumat di Kompleks Jaka Purwa, Kecamatan Bandung Kidul, Bandung, Jumat (20/3). Mengantisipasi penyeberan virus SARS Cov-2 penyebab COVID19 masjid ini menerapkan kaidah penjarakkan sosial (Social Distancing) pada pengaturan shafnya. - (Yogi Ardhi/Republika)


Jika harus melakukan isolasi mandiri, WHO membuat protokol isolasi mandiri yang harus dipraktikkan. Yaitu:

Tetap di rumah
Batasi aktivitas di luar rumah, kecuali untuk mendapatkan perawatan medis. Jangan pergi bekerja, sekolah, atau ke tempat umum. Hindari menggunakan transportasi umum, transportasi daring, atau taksi.

Pisahkan diri
Sebisa mungkin, tinggal di kamar tertentu dan jauh dari orang lain di rumah. Gunakan kamar mandi terpisah, jika tersedia. Selain itu jangan memegang hewan peliharaan atau hewan lain saat sakit.  

Hubungi dulu sebelum mengunjungi dokter
Jika memiliki janji dengan dokter, hubungi penyedia layanan kesehatan dan beri tahu soal kemungkinan memiliki Covid-19. Ini akan membantu kantor penyedia layanan kesehatan mengambil langkah-langkah untuk menjaga yang lain agar tidak terinfeksi atau terpapar.

Kenakan masker
Kenakan masker ketika berada di sekitar orang lain, misalnya berbagi kamar atau kendaraan, atau hewan peliharaan dan sebelum masuk kantor penyedia layanan kesehatan. Jika tidak dapat memakai masker misalnya karena menyebabkan kesulitan bernapas, maka orang yang tinggal bersama tidak boleh ada di kamar yang sama. Atau mereka harus mengenakan masker jika mereka masuk kamar pelaku isolasi mandiri.

Tutupi batuk dan bersin
Tutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Buang tisu bekas di tempat sampah, segera cuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik.

Atau bersihkan tangan dengan pembersih tangan berbahan dasar alkohol yang mengandung setidaknya 60-95 persen alkohol. Bersihkan semua permukaan tangan dan gosok sampai terasa kering.

Sabun dan air harus digunakan secara khusus jika tangan tampak kotor. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci.

Barang rumah tangga yang sama
Jangan gunakan piring, gelas, peralatan makan, handuk, atau tempat tidur yang sama dengan orang lain atau hewan peliharaan di dalam rumah. Setelah menggunakannya, barang-barang ini harus dicuci menyeluruh dengan sabun dan air.

Bersihkan semua permukaan yang sering disentuh. Termasuk meja, gagang pintu, perlengkapan kamar mandi, toilet, ponsel, laptop, tablet, dan meja samping tempat tidur. Juga, bersihkan semua permukaan yang mungkin memiliki darah, tinja, atau cairan tubuh. Gunakan semprotan pembersih rumah tangga dan lakukan sesuai dengan instruksi label.  

Gunakan pembersih sesuai petunjuk. Juga pakai sarung tangan dan pastikan ada ventilasi yang baik selama penggunaan produk.

Pantau gejalanya
Segera hubungi tim medis jika penyakit memburuk, misalnya sulit bernapas. Sebelum mencari perawatan, hubungi layanan kesehatan beri tahu mereka bahwa Anda memiliki, atau sedang dievaluasi untuk Covid-19.

Kenakan masker sebelum memasuki rumah sakit. Langkah-langkah ini akan membantu menjaga kantor penyedia layanan kesehatan agar orang lain di kantor atau ruang tunggu agar tidak terinfeksi.

Dinas kesehatan
Minta penyedia layanan kesehatan untuk menghubungi dinas kesehatan setempat atau pemerintah daerah. Orang yang ditempatkan di bawah pengawasan aktif atau pemantauan mandiri yang difasilitasi harus mengikuti instruksi yang diberikan oleh dinas kesehatan setempat.

Jika memiliki darurat medis dan perlu menelepon unit gawat darurat (UGD), beri tahu mereka bahwa Anda memiliki atau sedang dievaluasi untuk Covid-19. Jika memungkinkan, kenakan masker sebelum staf medis tiba.

Isolasi rumah
Pasien dengan Covid-19 yang dikonfirmasi harus tetap isolasi di rumah dan melakukan tindakan pencegahan sampai risiko penularan sekunder bagi orang lain dianggap rendah. Keputusan untuk tidak melanjutkan isolasi mandiri harus dilakukan berdasarkan kasus per kasus, dalam konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan dan pemerintah daerah.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA