Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Tendangan Dua Belas Pas

Kamis 13 Jun 2019 16:49 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Tendangan Dua Belas Pas

Tendangan Dua Belas Pas

Foto: Amanina Asiah Qonita/Republika
Bola melesat ke arah gawang, bagai menghantam wajah mertuanya yang sinis

Allahu Akbar… Markum menggumam dalam hati, tubuhnya tersungkur di dalam kotak dua belas pas akibat kaki kirinya diganjal oleh pemain belakang lawan. Wasit meniup pluit dan memberikan hadiah tendangan dua belas pas, atawa biasa disebut tendangan penalti.

Teman-teman Markum mengerubuti, memeluknya, mengelus rambutnya, memberikan selamat kepadanya karena dengan tendangan dua belas pas nanti, besar kemungkinan kesebelasannya akan memenangkan pertandingan. Apalagi, pertandingan sudah memasuki injury time, babak tambahan waktu.

Beberapa pemain lawan yang dipimpin oleh kapten kesebelasan tim lawan, protes keras terhadap keputusan wasit. Mereka mencurigai Markum hanya melakukan diving, yakni pura-pura terjatuh. Namun, wasit tetap pada keputusannya, menunjuk titik dua belas pas sebagai hukuman. Para penonton bergemuruh, menunggu proses tendangan dua belas pas itu.

Alhamdulillah Markum dipercaya melakukan tendangan dua belas pas. Semua pemain, pelatih, tim official, penonton pendukung, menaruh harapan pada Markum. Meskipun sering mengeksekusi tendangan dua belas pas, kali ini Markum tiba-tiba merasa mual ingin muntah, mentalnya menjadi kacau. Markum berusaha menenangkan pikirannya.

Namun, ia tetap tak mampu menghindar dari macam-macam perasaan yang tiba-tiba menyeruak memenuhi dinding ingatannya. Istrinya kini tengah hamil delapan bulan lebih. Markum memerlukan banyak biaya untuk persalinan.

Sebelum berangkat ke lapangan pertandingan, istrinya berpesan bahwa minggu-minggu ini ia memerlukan biaya untuk persiapan uang muka rumah sakit bersalin.

Istrinya tak mau kejadian seperti waktu melahirkan anak pertamanya terulang. Mereka tidak punya kartu sehat, BPJS atau kartu sakti apa pun supaya nanti membayar biaya rumah sakit. Ketika itu, mereka ditolak rumah sakit karena tak mampu bayar uang muka.

Mau mengurus kartu-kartu itu harus ada KTP elektronik, tapi sudah hampir setahun mengurus, katanya blangko KTP belum tersedia. Istrinya pusing, jadi lebih baik cari jalan lain, cari uang yang banyak buat persiapan kelahiran.

Penonton bergemuruh, memberikan dukungan pada Markum. Markum berdiri hendak berjalan menuju titik dua belas pas untuk bersiap-siap melakukan eksekusi. Wasit meletakkan bola tepat di titik putih. Pikiran Markum kembali pada putra pertamanya yang akan mendaftar sekolah bulan depan. Markum bingung memilih sekolah yang baik untuk putranya.

Kalau mau bagus, Markum harus memasukkannya ke sekolah swasta elite. Tapi, itu tak mungkin karena uang pangkalnya menjerat leher. Masuk sekolah negeri pun sebenarnya lumayan berat.

Bukan cuma soal ongkos pulang dan pergi, melainkan juga untuk keperluan buku dan jajan sehari-hari. Bagaimana Markum mendapatkan uang itu? Semua ini tidak akan terjadi kalau gajinya sebagai pemain di salah satu klub liga amatir lunas terbayar, yang akhirnya menyatakan gulung tikar karena tidak lolos kualifikasi kompetisi Liga 1. Dan, dia tidak harus bermain di kompetisi kampung tujuh belasan seperti detik ini.

Markum sudah berdiri di dekat titik putih yang berjarak dua belas langkah pas atau tepatnya 11 meter dari tiang gawang. Markum mengumpulkan pecahan konsentrasi, menatap gawang yang lebarnya 7,32 meter dan tinggi masing-masing mistar sekitar 2,22 meter itu.

Ia ambil bola yang tadi diletakkan wasit, lalu ia cium lebih dulu bola tersebut. Penjaga gawang lawan berjalan menuju bawah mistar untuk bersiap-siap menghadapi tendangan dua belas pas yang akan dilakukan Markum.

Penonton semakin berteriak-teriak histeris memberikan dukungan, tetapi ada pula yang justru mengejek, berusaha untuk mengacaukan konsentrasi Markum yang sebenarnya memang sedang kacau.

“Ayo Markum! Kamu pasti bisa!”

“Hajar, Markuuummm…!!”

“Sikat, bleh!!”

Alaa, nggak bakal masuk!!”

“Paling ke atas mistar!”

Nggak masuk, nggak masuk, nggak masuk!!!”

“Gol! Gol! Goooool!!!”

“Tembak Markuuummm…!! Jam breeettt aeh, jebreettt!!!”

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA