Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Nawang Wulan dalam Pelukan

Ahad 17 Mar 2019 12:07 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nawang Wulan dalam Pelukan

Nawang Wulan dalam Pelukan

Foto: Rendra Purnama/Republika
Bidadari itu bukan di kahyangan, tapi di dalam kereta.

Cinta kini bagiku hanya legenda. Seperti cerita Sangkuriang yang menendang perahu lalu menjelma menjadi gunung. Atau seperti kisah Jaka Tarub yang berhasil menikahi bidadari, setelah melakukan perbuatan tak terpuji. Mengintip bidadari mandi di air terjun tempat pelangi mendaratkan ekornya. Mengintip gadis manusia mandi saja sudah terkutuk, apalagi dia yang mengintip lalu menyita selendang bidadari. Mahluk suci dari kahyangan. Parah sekali kelakuan Jaka Tarub itu.

Imajinasi di kepalaku menerka-nerka seberapa cantik wajah Dewi Nawang Wulan yang membuat Jaka Tarub kehilangan akal sehat. Bentuk wajahnya, mata, hidung, bibir, lalu mahkota di atas rambutnya. Terlebih bentuk tubuhnya. Mungkin lebih aduhai dari Diana Nasution, penyanyi yang sedang digandrungi pria seantero Indonesia.

Kususun baik-baik sketsa wajah Dewi Nawang Wulan yang kata orang-orang amat sangat teramat cantik. Ketika goresan sketsa itu hampir rampung, bahuku tersenggol secara tak sengaja. Lamunanku buyar. Aku saat itu duduk di pinggir bangku kereta menuju Jakarta. Tidak dekat jendela. Dan yang menyenggol bahuku tersenyum.

"Maaf," katanya singkat. "Bangku aku di sini. Boleh aku duduk di dekat jendela."

Detik itu aku seperti tahu bagaimana rasanya Malin Kundang menjadi batu saat dikutuk ibunya. Kaku. Sketsa dalam kepalaku kini berbicara. Sketsa bidadari yang kugambar dalam imajinasi kini hidup dan berdiri anggun di hadapanku. Sketsa Dewi Nawang Wulan. Bidadari itu bukan di kahyangan, tapi di dalam kereta.

"Silakan," kataku sembari berdiri memberi ruang untuknya.

Kursi kereta yang kutumpangi kali ini seperti menjelma menjadi tumpukan bebatuan. Di ujung kanan dan kiri berbagai jenis pepohonan rimbun bergelantungan. Sementara di ujung lintasan mataku ada seorang bidadari yang sedang asyik duduk bermain di bawah guyuran air terjun. Dia sendirian, tidak ditemani enam saudaranya yang lain.

Ternyata begini sensasi jadi Jaka Tarub. Diam-diam menikmati kecantikan Dewi Nawang Wulan yang mungkin saat masih cetak biru di surga saja sudah cantik. Teramat cantik. Rasanya menyesal pernah mengutuki Jaka Tarub, pemuda dalam legenda yang aku cap berengsek karena mengintip bidadari mandi.

Kini aku seolah menjadi Jaka Tarub. Aku menjadi pengintip. Ekor mataku berkali-kali menoleh ke wajah gadis yang duduk anggun memakai gaun putih berkerah dengan salur garis hitam tipis. Kulitnya putih. Wajahnya membulat. Pipinya gembil. Hidungnya mungil, dan ia membiarkan rambut sebahu terurai. Bibir tipisnya terus mengatup. Hingga aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

"Kenalkan, aku Nursi," kataku dengan gesture percaya diri sembari menyodorkan tangan.

Dia menoleh. Gerakan kepalanya yang perlahan semakin membuatnya kian gemulai. Wajahnya kaku tanpa senyum. Tapi ia tetap cantik.

Mati aku. Dia tidak membalas uluran tanganku, batinku berbisik.

Tiga detik yang mematikan itu berubah, saat otot bibirnya tertarik hingga membuat pipi gembilnya semakin kenyal. Sepertinya. "Sarah," ujar dia sembari mengulurkan tangan.

Pembicaraan pun mengalir. Tak hanya wajahnya yang teduh, sikapnya juga ramah. Kami berbicara banyak. Dari pembicaraan itu mencerminkan kecerdasan pikirannya. Cantik, ramah, cerdas. Aku jadi membayangkan Dewi Nawang Wulan yang saban hari menemani Jaka Tarub.

Empat setengah jam perjalanan di dalam kereta kami lahap dengan perbincangan tanpa jeda. Hingga kereta bergebong tua memasuki stasiun legenda, Jatinegara.

"Boleh aku tahu alamat rumahmu?" kususun kalimat tanya itu hati-hati. Perlahan-lahan, agar jangan sampai permintaan gilaku tertolak mentah-mentah.

"Jatinegara, dekat Pasar Mester," ucap Sarah sembari mencoretkan alamat lengkap di selembar kertas bekas dan memberikannya kepadaku. Kuraih dan kusimpan di kantong jaket.

"Kamu dijemput siapa?" tanyaku ketika kami berdiri di dekat pintu keluar stasiun.

Sarah tidak menjawab dengan kata-kata. Telunjuknya menunjuk seseorang berpakaian militer. Perwira menengah sepertinya.

"Mas," teriaknya sembari melambaikan tangan. Sebelum pergi, Sarah pamit kepadaku. Kami bersalaman, lalu ia melayang ringan seperti angin musim semi.

Aku kembali menjadi Malin Kundang. Mematung. Di ujung sana kulihat Sarah memeluk pria itu. Sarah mencium tangannya. Takzim. Tak hanya sekali, tapi dua kali. Punggung tangan lalu telapaknya. Pria itu kemudian menghujani pipi Sarah dengan ciuman. Tanpa malu di depan banyak orang. Harapanku hilang sudah. Pupus. Kisah Jaka Tarub memang hanya legenda.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA