Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Ayah

Ahad 24 Feb 2019 11:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ayah

Foto:
Ayahku hangatnya selalu membangunkanku setiap pagi, menghangatkanku kala hujan

Berbekal beasiswa yang kudapat, aku menempuh pendidikan di Universitas Negeri. Setiap sore aku gunakan untuk bekerja, apa saja. Mulai dari menjaga toko, membantu pedagang soto sore di depan kampus, hingga menjadi pelayan di sebuah kafe.

Ibu tak lagi pergi bekerja sejak aku kelas tiga SMA, kesehatannya tidak baik. Aku kasihan sekali dengan ibu. Saat itu, benar-benar menjadi masa terberatku.

Saat itu juga adalah di mana aku paling menginginkan kehadiran sosok ayah di sampingku, di samping ibu. Namun di sisi lain, saat itu menjadi titik balik, di mana aku sadar bahwa ayah telah berada di surga, dan tak akan pernah mungkin mengujungiku di bawah pohon jambu air di depan rumah.

Tentang kehadiran ayah di bawah pohon jambu, seperti kata ibu, aku baru tahu apa sebenarnya yang dimaksud oleh ibu. Di bawah pohon jambu itu, tanpa aku sadari, ada satu pokok bunga lili bakung berwarna oranye.

Bunga itu tidak tumbuh sepanjang waktu, hanya tumbuh ketika bunganya akan mekar saja, setelahnya tak ada bekas apa pun. Begitu, selalu terulang sepanjang bulan, sepanjang tahun.

Dan tanpa kusadari, ayah memang selalu datang menemaniku bermain di bawah pohon jambu, lewat kuntum bunga lili bakung yang munculnya tidak pernah kusadari.

"Terima kasih Ayah, telah menemaniku bermain! Aku sayang Ayah."

Ibu pula yang memberitahuku mengenai bunga lili bakung itu, bahwa itu adalah bunga terakhir yang sempat ditanam oleh ayah, sebelum beliau berangkat bekerja ke Malaysia dengan menumpang perahu kayu. Menurut cerita ibu, perahu kayu yang ditumpangi oleh ayah dan dua puluh teman lainnya terbalik di tengah lautan. Hanya lima jasad yang diketemukan dari tragedi tersebut, jasad ayah tidak termasuk dalam lima itu.

Setelah ibu mengungkap rahasia kedatangan ayah di bawah pohon jambu, pelan-pelan aku mulai tahu dan menemukan sosok ayah idamanku. Ia adalah ayahku yang sebenarnya, yang hangatnya selalu membangunkanku setiap pagi, menghangatkanku kala hujan tak berhenti turun di siang pada musim penghujan.

Iya, aku telah menemukannya, dan aku tak lagi mencari-cari sosok itu pada kelebat bapak-bapak dengan perut buncit, atau om-om botak. Ayahku lebih hebat dari semua sosok yang kukagumi saat SD, ayahku lebih hangat dan nyaman ketimbang ayah teman-temanku.

Bersamanya, aku mulai menapaki kehidupan yang sesungguhnya. Aku banyak belajar darinya. Tentang arti perjalanan, seperti halnya ketika pagi menjelma siang dan menapaki malam. Aku belajar bagaimana harus berbagi, seperti ketika matahari harus berbagi waktu dengan rembulan. Aku belajar semua darinya, ayahku.

"Ayahhh...!"

Ranu memekik keras di telingaku. Ayah punya tidak? Pangeranku masih asyik dengan jambangku yang kasar, setiap kali tangan mungilnya diusap-usapkan ke daguku, mataku rasanya hendak terpejam saja.

"Besok pagi ya, Sayang, sehabis Shalat Subuh, Ayah akan mengenalkan Ranu dengan ayahnya Ayah, kakek Ranu." Mendengar jawabanku, muka Ranu berpendar penuh bahagia.

"Janji!" Jari kelilingnya diulurkan padaku, aku mengaitkan dengan kelingkingku.

"Iya, asal Sayang besok pagi kalau dibangunkan untuk Shalat Subuh tidah susah, janji!" Aku ganti mengulurkan kelingkingku, yang langsung disambut dengan penuh semangat olehnya.

"Janji!" Suara keras Mayang dari dapur membuat kami segera bangkit, aroma kolak pisang bikinannya membuat kami berdua semakin cepat bergegas ke meja makan. Suara Ranu seperti peluru yang ditembakkan berkali-kali, kegirangan karena makanan kesukaannya sudah matang. Dan aku yakin, esok pagi, kalau aku tunjukkan padanya siapa ayahku, dia pasti akan lebih kegirangan.

Benar, besok pagi, ketika ia berkata, Ayah, sinar mataharinya hangat!, maka akan kujawab, Iya, Nak, karena matahari itu adalah 'ayahku, kakekmu'.

TENTANG PENULIS

JUSTTO LASSO saat ini bekerja sebagai buruh migran di Taiwan. Selain menulis cerpen, ia juga menjadi penulis salah satu majalah berbahasa Indonesia yang terbit di Taiwan. Cerpen Ayah berhasil menjadi juara pertama Bilik Sastra VOI Award 2016 yang diadakan oleh RRI Siaran Luar Negeri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA