Senin , 07 Dec 2015, 17:25 WIB

Kementan Pangkas Mata Rantai Distribusi Sapi dari NTT

Red: Taufik Rachman
Sapi NTT
Sapi NTT

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kementerian Pertanian telah memangkas sejumlah lapisan rantai distribusi sapi yang dibawa dari Nusa Tenggara Timur menuju DKI Jakarta.

"Rantai distribusi yang panjang membuat harga daging sapi menjadi mahal, dan sudah ada tanda tangan tertulis untuk mempersingkat distribusinya," kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai meninjau Pencanangan Tanam Serempak di Tangerang, Banten, Senin (7/12).

Tanda tangan tersebut menunjukkan komitmen untuk mengurangi bahkan memotong makelar distribusi daging sapi agar harganya menjadi lebih murah.

Komitmen tersebut antara lain, masa karantina yang semula memakan waktu 1-2 minggu menjadi 1-2 hari saja. Kemudian penerbitan surat izin desa yang sebelumnya seharga Rp 30 ribu per ekor menjadi Rp 10 ribu per ekor.

Dihilangkannya pungutan liar di pos-pos retribusi ternak. Pungutan lain-lain biasanya Rp 100 ribu, menjadi dihilangkan. Biaya perjalanan sebelumnya Rp 1,8 juta, setelah adanya kapal ternak, menjadi Rp 320 ribu per ekor.

Pengurangan penyusutan bobot sapi, karena menggunakan kapal ternak. Sebelum menggunakan kapal pengurusan terjadi sebesar 30 persen, sesudahnya menjadi 10 persen.

Lebih lanjut, perkiraan harga sapi di Jakarta, adalah menjadi kisaran Rp75 ribu per kilogram, sebelumnya adalah Rp 110 ribu per kg. Harga BEP untuk daging di NTT menjadi Rp 62 ribu per kg. Harga bobot sapi hidup yang akan dikirim ke Jakarta Rp29 ribu per kg. Waktu penerbitan surat rekomendasi yang sebelumnya memakan waktu empat hari, menjadi tidak ada atau dihilangkan.

Biaya pengiriman daging sapi dari NTT ke Jakarta adalah Rp 1.000 per kg, dari sebelumnya adalah Rp 3.500 per kg. Itu adalah hal-hal yang sudah disetujui dan diringkas rantai distribusinya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menjanjikan harga daging sapi bisa di bawah Rp70.000 per kilogram karena berhasil ditekan biaya-biaya setelah adanya pembenahan infrastruktur.

Jokowi mengungkapkan pemerintah telah memesan lima kapal dan baru satu kapal yang sudah siap untuk mengangkut khusus sapi dengan kapasitas 500 ekor.

"Dulu sekali angkut per sapi biayanya Rp 2 juta, setelah ada kapal biayanya Rp300 ribu per ekor. Artinya 'cost'-nya (biayanya) langsung jatuh," kata Presiden.

Jokowi mengungkapkan dengan adanya penurunan tersebut, biaya per kilogram menjadi Rp 60.000, sehingga bisa dijual di pasar kisaran Rp 70-80 ribu per kilogramnya.
"Kalau lebih efesien lagi bisa dilepas di bawah Rp 70.000 per kilogramnya," kata Presiden.

Jokowi mengatakan inspirasi pengangkutan sapi melalui kapal ini saat di Pelabuhan Tanjung Priuk melihat sapi dari Australia diangkut kapal dengan kapasitas 6.000 ekor.

Video

Setjen DPR RI Komit Berdayakan Perempuan