Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Try Out UI, Mimpi Siswa Menggapai Perguruan Tinggi (I)

Jumat 07 Dec 2012 16:29 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Panitia Grafity

Panitia Grafity

Foto: FEUI

REPUBLIKA.CO.ID,ebelum memulai isi tulisan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh panitia GRAFITY (Get Ready for FISIP UI Try Out) 2011 dan juga panitia-panitia GRAFITY pada masa-masa mendatang yang sedang bekerja keras menyiapkan acara besar ini. Kedua, tulisan ini saya buat dengan harapan dapat memotivasi teman-teman panitia GRAFITY. Ketiga, kepada Andhika Mauludi atau yang akrab disapa Andhibul selaku Project Officer (PO) GRAFITY 2011, semoga tetap kuat dan lekas sembuh dari sakitnya. Percayalah, anak-anak GRAFITY di kampus sangat membutuhkan Pak PO, tapi lebih dari itu, tentu mereka (dan saya juga) berdoa agar Pak PO kembali sehat.

Oke, GRAFITY.  Saya ingin sedikit bercerita tentang si GRAFITY ini. Rasanya saya memang punya ikatan emosional dengan acara yang satu ini. GRAFITY ini, seperti kepanjangannya, adalah sebuah acara try out atau simulasi tes masuk perguruan tinggi negeri, seperti SNMPTN dan/atau SIMAK UI. Saya mengenal acara ini sejak saya masih menyandang status sebagai mahasiswa baru FISIP UI tahun 2008. Sekarang tahun 2011, itu artinya tiga tahun silam. Sebetulnya, setelah saya ingat-ingat, pada saat saya masih duduk di kelas XII SMA, saya ingat bahwa pernah ada beberapa mahasiswa UI yang datang ke kelas saya dan berbicara soal try out. Baru ketika saya lihat pendaftaran atau open recruitment panitia GRAFITY di kampus, saya sadar bahwa GRAFITY dulu pernah roadshow  ke sekolah saya. Hanya saja, saya bukan tipe anak SMA yang suka ikut try out dari luar, sekalipun yang menyelenggrakan dari UI.

Oke, kembali ke cerita. Saat itu, saya (pada awalnya) hanya ya… bisa dikatakan sekedar iseng-iseng ikut open recruitment panitia GRAFITY 2008. Dan, ya… siapa sangka, saya pun diterima. Saya diterima di Divisi Humas, Publikasi, dan Dokumentasi (HPD). Memang, pada saat itu hanya itulah pilihan saya. Entah kenapa, sejak masih di bangku SMA, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan humas dan publikasi—walaupun toh di bangku kuliah ini pun saya tidak mengambil program studi Humas. Ya, saya hanya suka dengan masalah per-HPD-an, dan mulai saat itu “karier” saya di dunia GRAFITY pun dimulai.

Setelah saya resmi menjadi seorang staf HPD GRAFITY 2008, saya tentu berusaha bekerja maksimal di kepanitiaan ini. Ah ya, lagipula kebetulan saya sedang berada dalam suasana yang kurang menyenangkan dengan ospek jurusan saya, jadi ya… saya pikir lebih baik saya mengembangkan diri di sini (GRAFITY) sajalah. Apalagi, saya lihat (pada saat itu) acara ini adalah program kerja BEM FISIP UI. Saya jadi berpikir, mana tahu dengan ikut kepanitiaan ini bisa membuka jalan saya untuk dapat bergabung di BEM FISIP UI tahun depan. Selain itu, saya bisa kenal banyak teman dan senior, tidak terbatas pada jurusan saya saja. Menurut saya itu adalah suatu hal yang sangat baik yang bisa saya dapatkan dengan ikut kepanitiaan ini. Hasilnya? Ya, sangat sesuai dengan ekspektasi saya. Saya belajar banyak di GRAFITY.

Saya belajar mengatur waktu antara waktu kuliah, roadshow, rapat, dan sebagainya. Saya belajar bernegosiasi dengan pihak sekolah. Ya… saya juga jadi tahu sisi baik dan “busuknya” suatu sekolah. Ada yang murni tulus, tapi ada juga yang seperti musang. Ah, agak kasar ya? Tapi memang begitu adanya.
Tidak hanya itu, saya belajar mengenal jalan di Jakarta! Hahaha, ya, karena saya termasuk orang yang  buta jalan, tapi dengan ikut GRAFITY, saya sekarang jadi banyak tahu jalan, termasuk jalan-jalan tikus.

Selain itu, saya kenal dengan banyak pengurus BEM FISIP UI. Bagi saya, pada waktu itu ketika masih sebagai mahasiswa baru, kenal dengan pengurus BEM merupakan suatu hal yang membanggakan. Bagaimana tidak? Di saat teman-teman (sejurusan) saya sibuk ospek, saya sudah rapat di ruang BEM FISIP UI dengan panitia inti GRAFITY, saya sudah keliling SMA dengan jaket kebanggaan UI yang “menyilaukan” mata anak-anak SMA, saya mengendarai mobilnya ketua BEM masa itu untuk roadshow, saya kenal dengan banyak mahasiswa angkatan 2007 di luar jurusan saya, dan ya… banyak hal lainnya.

GRAFITY meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Hal ini membuat saya yakin untuk kemudian bergabung di kepengurusan BEM FISIP UI 2009, di Biro Dana Usaha. Ya, di biro inilah GRAFITY “dilahirkan”. Dan di biro inilah saya kemudian dipercaya menjadi Project Officer GRAFITY 2009. Sejujurnya, setelah GRAFITY 2008 selesai, saya memang punya angan-angan untuk menjadi PO GRAFITY selanjutnya, dan ternyata, hal itu terwujud.

Selama menjadi PO, saya kembali mendapat banyak pembelajaran. Sejujurnya, saya merasa sebagai orang yang paling kompeten untuk menjadi seorang PO GRAFITY. Mengapa saya berpikir demikian? Karena di tahun 2008, saya tahu semua seluk-beluk masalah GRAFITY, dan saya tahu langkah apa saja yang harus dilakukan agar di tahun berikutnya GRAFITY lebih tertata dengan baik.

Saya tahu apa yang terjadi dengan HPD, sistem tiket, masalah acara, masalah keuangan, dan banyak hal lainnya, dan bisa saya pastikan bahwa sayalah yang paling tahu masalah-masalah itu. Mungkin ada benarnya, tapi ternyata, sekedar paham masalah dan punya solusi tidak membuat seorang PO berhasil memimpin. Inilah yang saya pelajari. Menjadi PO bukanlah sekedar soal kematangan konsep yang sistematis, tapi lebih dari itu, menjadi PO adalah soal keberanian, kepedulian, dan tanggap.

Berani soal apa? Berani dalam mengambil keputusan. Banyak masalah terjadi dan seorang PO harus bisa “ketok palu” sebelum masalah semakin besar. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah keberanian dalam mengambil keputusan serta mempertanggungjawabkannya. Soal kepedulian; kepedulian yang bagaimana? PO tidak berjalan sendiri. PO memiliki tim yang harus dia ayomi. Oleh karena itu, PO tidak hanya memberikan perintah dan memantau timnya bekerja, tapi lebih dari itu, PO harus menunjukkan bahwa ia memang benar-benar peduli pada acara tersebut, dan khususnya kepada timnya itu sendiri.

Dan soal tanggap, ya, seorang PO harus tanggap. Tanggap dalam melihat kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang yang akan menghambat atau bahkan yang akan mendukung acara. Ketiga hal ini saya dapatkan selama menjadi PO GRAFITY 2009. Bukan hal mudah. Bahkan, sangat tidak mudah. Terkadang ada konflik, tapi lagi-lagi dari konflik itu saya belajar. Saya rasa, memang tahun 2009 itu adalah tahun yang penuh perjuangan, dan khususnya pada tahun itu, GRAFITY memang benar-benar "mengalihkan duniaku".

Penulis: Fauzan Al Rasyid (Mahasiswa FEUI)


sumber : FEUI
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA