Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Intoleransi Laktosa, Waspadai Olahan Susu

Selasa 29 Sep 2020 11:00 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Susu sapi (Ilustrasi). Diet ketat dan non-laktosa mungkin tidak diperlukan bagi orang yang intoleran terhadap laktosa.

Susu sapi (Ilustrasi). Diet ketat dan non-laktosa mungkin tidak diperlukan bagi orang yang intoleran terhadap laktosa.

Foto: Boldsky
Lebih dari 90 persen orang Asia Timur memiliki intoleransi laktosa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Susu dapat dikonsumsi langsung atau dijadikan berbagai olahan hingga menjadi campuran menarik. Susu dan turunannya ada di es krim, keju, yoghurt, bubble milk tea, basque burnt cheesecake, hingga pancake.

Akan tetapi, sajian yang menggugah selera itu mungkin tidak sesuai dengan sistem pencernaan orang yang memiliki intoleransi laktosa. Dilansir CNA Lifestyle, lebih dari 90 persen orang Asia Timur memiliki intoleransi laktosa, menurut Institut Kesehatan Nasional AS.

Gejala yang mungkin dirasakan setelah konsumsi seperti merasa kembung, mual, diare, dan nyeri di perut. Dr Alex Soh, seorang konsultan dengan Divisi Gastroenterologi dan Hepatologi National University Hospital mengatakan, gejala yang tidak nyaman itu dapat disebabkan oleh laktosa, gula yang ada dalam produk susu, seperti susu, mentega, krim, dan keju.

"Banyak orang Asia kekurangan laktase, enzim yang ditemukan di usus kecil, yang diperlukan untuk memecah laktosa menjadi gula sederhana," kata Dr Soh.

Sebaliknya, yang terjadi adalah bahwa laktosa yang tidak tercerna dengan cepat berpindah melalui usus dan difermentasi oleh bakteri usus, yang mengarah pada gejala intoleransi laktosa. Gejala yang dirasakan sering muncul sekitar 30 menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.

Tingkat keparahannya tergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi, jumlah laktosa yang lebih tinggi dapat menyebabkan lebih banyak gejala. Dr Soh menyoroti intoleransi laktosa tidak seperti sindrom iritasi usus besar (IBS), gangguan saluran cerna fungsional. Namun, pasien IBS mungkin memiliki ambang batas yang lebih rendah untuk laktosa.

Di masa awal periode konsumsi, kemungkinan orang tidak merasakan adanya masalah setelah minum latte dan sejenisnya. Namun, seiring bertambahnya usia, sistem pencernaan akan mulai memproduksi lebih sedikit laktase dan saat itulah masalah yang dialami dapat semakin parah.

"Aktivitas laktase paling tinggi pada bayi baru lahir dan secara genetik diprogram untuk menurun pada tahun-tahun awal kita untuk sebagian besar orang di seluruh dunia," jelas Dr Soh.

Selain usia dan genetika, ada kondisi yang memengaruhi usus kecil, seperti infeksi usus, pertumbuhan bakteri berlebihan, pembedahan, dan kondisi peradangan, termasuk penyakit celiac dan penyakit radang usus yang mengubah kemampuan usus untuk menangani laktosa.

Bagaimana solusinya?
Sebuah studi tahun 2000 oleh Sekolah Ilmu Konsumen dan Keluarga Purdue University menemukan bahwa konsumsi makanan olahan susu yang terkontrol dapat membantu memperbaiki sistem pencernaan untuk menerima susu dan semacamnya. Hal ini memungkinkan konsumsi olahan susu tanpa memberikan rasa tidak nyaman bagi tubuh.

"Jika Anda hanya mengonsumsi produk susu sesekali, Anda akan cenderung mengalami gejala, juga jika mengkonsumsinya langsung, bukan sebagai bagian dari makanan, itu cenderung diangkut ke seluruh usus lebih cepat dan lebih cenderung menimbulkan gejala," kata Profesor Dennis Savaiano, dekan sekolah.

Savaiano menyarankanm sebaiknya mulailah dengan minum seperempat hingga setengah cangkir susu dengan makan dua atau tiga kali sehari. Perlahan-lahan tingkatkan jumlahnya. Dengan mengubah pola makan dari waktu ke waktu, bakteri lebih efektif mencerna laktosa, membuat susu dapat ditoleransi dengan sangat baik.

Jika tidak ingin buang angin lebih sering dari biasanya gara-gara intoleransi laktosa, maka membatasi asupan keju dan yoghurt dapat membantu mengurangi gejala tidak nyaman yang dirasakan. Tapi, selain penyebab makanan, laktosa juga bisa ditemukan pada olahan lain, seperti salad dressing, biskuit, kue, sereal, dan campuran pancake.

Untuk mengenali laktosa dalam makanan olahan, cari bahan-bahan seperti whey, kaseinat, kasein, nougat, keju, produk sampingan susu, susu padat kering, susu bubuk kering, mentega, dan susu kering tanpa lemak pada kemasannya. "Bubuk laktosa, misalnya, adalah bahan tambahan makanan yang umum ditemukan di beberapa makanan dan bumbu," kata Dr Soh.

Laktosa bahkan digunakan sebagai dasar untuk obat-obatan yang dijual bebas, seperti pada tablet untuk asam lambung dan gastritis. Pilih obat-obatan yang mengandung sedikit laktosa dan biasanya ini bisa memengaruhi mereka yang memiliki intoleransi laktosa parah.

Diet ketat dan non-laktosa mungkin tidak diperlukan. Orang dengan intoleransi laktosa sering kali dapat mentolerir jumlah laktosa yang bervariasi (hingga 12g laktosa) tanpa gejala. Ambang toleransi dapat ditingkatkan ketika laktosa dikonsumsi bersama makanan. Dr Soh juga menyarankan untuk konsumsi enzim laktase guna memperbaiki pencernaan dan gejala laktosa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA