Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Masih Rendah, Publikasi Ilmiah Ilmuwan Indonesia

Jumat 09 Apr 2010 05:47 WIB

Red: taufik rachman

YOGYAKARTA--Penyebaran publikasi ilmiah dari ilmuwan Indonesia masih kurang jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, kata Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Mukti Fajar.

"Oleh karena itu, penyebarluasan hasil riset mutakhir dari kalangan perguruan tinggi bagi khalayak mendesak untuk dilakukan. Untuk itu, media jurnal ilmiah yang berkualitas dan terakreditasi dibutuhkan untuk menyebarluaskan hasil riset tersebut," katanya di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia pada pelatihan penulisan dan penyuntingan artikel ilmiah berbasis jurnal ilmiah terakreditasi, kewibawaan sebuah universitas dapat dilihat dari adanya jurnal ilmiah yang terakreditasi. "Jurnal merupakan media bagi sivitas akademika dalam meningkatkan kemampuan dalam pengembangan keilmuan. Oleh karena itu, jurnal ilmiah terakreditasi menjadi media yang perlu dimiliki sebuah perguruan tinggi," katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan hasil survei yang pernah dilansir Thomson Scientific (2004) menyebutkan penyebaran publikasi ilmiah ilmuwan Indonesia melalui jurnal internasional sebanyak 522, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 1.428, Thailand (2.397), dan Singapura (5.781).

"Hasil itu menunjukkan jika penyebaran publikasi ilmiah dari ilmuwan Indonesia memang kurang menggembirakan dibandingkan negara-negara jiran di Asia Tenggara," katanya.

Menurut dia, jurnal ilmiah perguruan tinggi di Indonesia yang terakreditasi nasional juga mengalami penurunan. Data Dirjen Dikti pada 1996-2005 menunjukkan jurnal ilmiah yang terakreditasi sebanyak 473 jurnal (12,9 persen) dari keseluruhan jurnal ilmiah yang tercatat sebanyak 3.650 jurnal.

"Hasil peringkat jurnal ilmiah yang terakreditasi nasional adalah peringkat jurnal ilmiah yang terakreditasi dengan nilai C sebanyak 311 jurnal (65,8 persen), nilai B sebanyak 135 jurnal (28,5 persen), dan nilai A sebanyak 27 jurnal (5,7 persen)," katanya.

Sementara itu, penilai akreditasi jurnal ilmiah nasional, Ali Saukah mengatakan, tulisan dalam jurnal ilmiah harus memiliki sesuatu yang baru. "Baru berarti penelitian tersebut tidak dapat ditemukan di tempat lain, sehingga tulisan menjadi sesuatu yang asli. Penelitian tersebut juga dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan," katanya.





BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA