Haruskah Bangunin Sahur Pakai Toa Masjid?

Zaskia Mecca yang mengomentari panggilan sahur menimbulkan polemik di masyarakat.

Republika/Putra M. Akbar
Aktris Zaskia Adya Mecca mengomentari cara membangunkan sahur lewat pengeras suara masjid.
Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Unggahan aktris Zaskia Adya Mecca di tengah Ramadhan lalu tentang cara membangunkan orang sahur di Instagram menjadi viral dan memicu kontroversi. Pemeran tokoh Sarah dalam sinetron Kiamat Sudah Dekat ini mengatakan, membangunkan dengan cara berteriak-teriak seperti itu sangat mengganggu dan tidak etis.

Publik lantas terbelah menjadi dua. Ada yang mendukung pendapat Zaskia, tetapi tak sedikit pula yang nyinyir. Kubu pendukung merasa gembira karena akhirnya ada tokoh publik yang menyuarakan isu ini.

Rupanya selama ini cukup banyak orang yang gelisah dengan metode panggilan sahur tersebut. Sebaliknya, kubu yang nyinyir menganggap bahwa Zaskia lebay karena hal tersebut adalah hal lumrah di Indonesia.

Polemik ini sampai-sampai membuat Kementerian Agama turun tangan. Kemenag menegaskan pengeras suara masjid bukan untuk membangunkan orang sahur. PP Muhammadiyah juga mengusulkan agar pengeras suara masjid hanya dipakai untuk azan dan iqamah.

Masalah "penyalahgunaan" pengeras suara masjid sebenarnya bukan hal baru dan tidak terjadi pada bulan puasa saja. Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla beberapa tahun lalu pernah mengimbau agar pengeras suara di masjid tidak disetel terlalu bising supaya tidak mengganggu orang di sekitar masjid.

Pernyataan JK--sapaan akrab Jusuf Kalla--saat itu berkaitan dengan peristiwa persekusi yang terjadi di Medan, Sumatra Utara. Seorang non-Muslim bernama Meiliana dituduh menista agama Islam hanya karena bertanya kepada tetangganya tentang volume pengeras suara masjid yang menurutnya lebih bising dari sebelumnya.

Dari perspektif komunikasi, teriakan "Sahur, Sahur, Sahur!" yang berasal dari pengeras suara masjid merupakan sebuah simbol yang kemudian dimaknai sebagai cara untuk mengingatkan umat Muslim bahwa waktu sahur telah tiba. Tujuannya tentu

saja baik supaya kita tidak terlambat menyantap makanan.

Komunikasi sendiri diartikan sebagai sebuah proses penyampaian makna dari komunikator ke komunikan melalui penggunaan tanda, simbol, dan aturan semiotika yang dipahami bersama. Tanda atau simbol tersebut disampaikan oleh komunikator melalui medium tertentu kepada penerima dengan tujuan agar tercapai kesepahaman bersama.

Gangguan Komunikasi

Mungkinkah pesan yang dikirimkan gagal dimaknai oleh penerima? Sangat mungkin. Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah noise atau gangguan yang dapat mendistorsi isi pesan.

Noise dapat berwujud banyak hal, salah satunya adalah gangguan psikologis. Hal ini terjadi karena komunikator belum menggali atau mencari tahu aspek psikologis dari si penerima pesan.

Dalam konteks panggilan sahur di atas, si muazin bertindak sebagai pengirim pesan dan Zaskia sebagai penerima di mana simbolnya adalah teriakan “Sahurrryeaa!”.  Lantas mengapa maksud baik si muazin yang ingin membangunkan Zaskia sahur dengan cara unik itu justru direspons negatif oleh Zaskia? Hal ini karena Zaskia ada pada "posisi psikologis" yang berbeda.

Menjadi polemik karena Zaskia adalah tokoh publik dan orang-orang yang sependapat dengan Zaskia ternyata ada banyak. Aspek ini yang tidak diketahui oleh si muazin.

Mungkin saja cara pandang Zaskia akan berbeda ketika si muazin menyajikan panggilan sahur dengan cara yang berbeda pula. Tidak berteriak-teriak sambil berimprovisasi, melainkan bersuara merdu dan santun sebagaimana yang dilakukan Bilal bin Rabah pada zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dahulu. Tentu, yang mendengarkannya pun akan merasa nyaman dan berpikir dua kali untuk protes.

Selain psikologis, faktor lain yang tak kalah penting adalah kultural budaya. Ini berkaitan dengan nilai-nilai, kepercayaan, dan sikap yang dipegang orang lain.

Sebagai bangsa yang bhineka, faktor ini seharusnya sudah sangat terang benderang. Sejak bangsa ini merdeka kita sudah sepakat bahwa kita adalah bangsa yang majemuk termasuk dalam hal beragama.

Namun, dalam kasus panggilan sahur sambil teriak-teriak dan membuat bising, kesepahaman bersama tersebut tidak bekerja. Seharusnya, si muazin memahami yang akan mendengar (dan berpotensi terganggu) bukan hanya umat Islam, melainkan juga penganut agama lain. Nilai-nilai ini jugalah yang dipegang oleh Zaskia sehingga ia merasa perlu untuk mengangkat isu ini.

Gangguan yang terjadi tersebut kemudian mengakibatkan terjadinya kegagalan komunikasi. Praktisi komunikasi menyebutnya sebagai kegagalan komunikasi primer.

Kegagalan ini dapat naik menjadi sekunder jika hubungan di antara komunikan rusak. Padahal, setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan sekadar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan kita.

Meskipun demikian, gangguan komunikasi tersebut dapat dihilangkan dengan cara memahami dan mengoreksi diri masing-masing. Hal ini sesungguhnya sudah terjadi dalam kasus Zaskia dan si muazin. Mereka telah bertemu dan saling berdialog.

Mereka sepakat membangunkan sahur adalah niat yang mulia, tetapi ditempuh dengan cara yang kurang tepat. Si muazin mengakui dan sudah berjanji akan menggunakan cara yang lebih elegan.

PENGIRIM: Abdul Rahman, Praktisi Public Relation, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta

 
Berita Terpopuler