Berimbas Negatif Jika BPJamsostek Keluar dari Pasar Modal

Aktivitas BPJamsostek di pasar modal justru banyak investasi di saham emiten

Republika/ Wihdan
Layar besar menunjukan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Ilustrasi.BPJAMSOSTEK berinvestasi ke saham-saham emiten. Artinya, BPJAMSOSTEK membantu dalam memajukan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sangat berdampak para perekonomian negara.
Red: Ichsan Emrald Alamsyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penyidikan yang dilakukan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI terhadap BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Termasuk diantaranya Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar dan Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kristian S. Manullang. 

Disinggung mengenai kasus BPJAMSOSTEK yang diperkirakan juga berdampak pada kerugian negara. Timboel menegaskan, dirinya tidak melihat ada unsur kerugian di BPJAMSOSTEK, selain perkara unrealized loss. "Jika yang dipermasalahkan Kejagung RI perkara unrealized loss, maka hal tersebut tidak bisa dipidanakan, karena itu mekanisme pasar. Apalagi jika unrealized loss disebabkan saham-saham yang merupakan saham kategori LQ45 (saham unggulan) yang mengalami koreksi saat pandemi, bukan saham “gorengan” seperti Jiwasraya,” tegas dia. 

Timboel menambahkan, yang timbul di publik, seakan yang dilakukan BPJAMSOSTEK ada kaitannya dengan Jiwasraya, padahal menurut pandangan dia, keduanya tidak ada kesamaan sama sekali.  “Semua saham pasti mengalami unrealized loss, dan tidak ada orang di dunia ini yang bisa memprediksi saham itu stabil atau tidak. Karena  semua tergantung kondisi pasar dan market,” ujarnya. 

Yang dilakukan BPJAMSOSTEK, lanjut Timboel, sesuai aturan baku sebuah lembaga hukum publik yang sudah diatur undang-undang. Kalaupun terjadi unrealized loss, itu belum tentu sebuah kerugian dan tidak bisa dipidanakan. 

Jika dampak dari penyidikan ini sampai BPJAMSOSTEK melakukan penarikan investasi di saham, Timboel mengungkapkan akan berimbas negatif terhadap perkembangan pasar modal Indonesia. Dirinya meyakini, IHSG akan turun dan sangat mengganggu perekonomian Indonesia. “Siapa yang bisa menggantikan dana sekitar Rp 150 Triliun. Ini akan menjadi permasalahan secara makro ekonomi negara,” terangnya.  

Apalagi, lanjut Timboel, BPJAMSOSTEK berinvestasi ke saham-saham emiten. Artinya, BPJAMSOSTEK membantu dalam memajukan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sangat berdampak para perekonomian negara. “Kalau ditarik itu uang oleh BPJAMSOSTEK, bisa runtuh itu perusahaan plat merah,” ungkap Timboel.

 

Dikonfirmasi terpisah mengenai unrealized loss yang terjadi pada BPAMSOSTEK, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kristian S. Manullang menegaskan selama belum direalisasikan belum dapat dianggap sebagai kerugian yang pasti. Dari data yang ada, 98% investasi yang dilakukan BPJAMSOSTEK pada saham jenis LQ45 dan 2% nya pernah masuk kategori LQ45. Terkait dengan saham-saham LQ45, Kristian mengaku, pihaknya memilih saham-saham LQ45 berdasarkan kriteria aktivitas transaksi dan ukuran saham atau kapitalisasi pasar sesuai parameter yang ditetapkan bursa.

Saat ini investasi BPJAMSOSTEK di pasar modal sekitar Rp 150 triliun (Saham dan Reksadana,red). Mengingat aset yang begitu besar, sambung Kristian, tentu ini dapat menyebabkan aktivitas transaksi di Pasar Modal berkurang. “Namun demikian, kami berharap dengan melakukan analisa yang baik dan dibantu Manager Investasi untuk mengelola aset portofolio BPJAMSOSTEK tentu risiko investasi dapat dikelola/diminimalisir dan keuntungan dapat ditingkatkan,” terang Kristian. 

“Kami tidak dalam kapasitas mengatakan suatu saham bagus atau tidak bagus. Tetapi sebagai penyelenggara bursa, kami memastikan semua informasi terkait efek yang tercatat di bursa dapat diterima oleh semua pelaku pasar untuk mendukung terciptanya pasar modal yang teratur, wajar dan efisien,” beber Kristian. 

Sementara itu, lanjut Kristian, wajar atau tidak unrealized loss yang dialami pelaku pasar, tergantung kepada portofolio investasi yang mereka lakukan. Kalau melihat return YTD IHSG dan LQ45 pada tahun 2020, masing-masing mengalami pertumbuhan negatif sebesar -5,09 persen dan -7,85 persen. Sedangkan pada tahun ini sampai dengan tanggal 22 Jan 2021, secara YTD IHSG tumbuh 5,49 persen dan LQ45 tumbuh 6,06 persen.

“Kami berpandangan kalau belum direalisasikan tentu unrealized loss belum dianggap sebagai pasti rugi. Aman atau tidaknya suatu investasi juga bukan bagian dari tugas BEI untuk menilai. Kami menyerahkan kepada pelaku pasar untuk  menilai risiko dan peluang keuntungannya,” tutup Kristian.

 

Sebagai informasi, sebelumnya pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) menyampaikan dugaan tindak pidana korupsi BPJAMSOSTEK memiliki pola korupsi yang sama dengan perkara tindak pidana korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang berdampak pada kerugian negara.

 
Berita Terpopuler