Kelompok Usia Paling Rentan Tertular Varian Baru Corona

Varian baru virus corona dari Inggris disebut lebih menular.

CDC via AP
Virus corona tipe baru penyebab Covid-19 (Ilustrasi). Virus corona yang telah bermutasi ditemukan di Inggris pada Desember.
Rep: Desy Susilawati Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris telah menyebar di Amerika Serikat. Varian B.1.1.7 yang paling baru telah teridentifikasi di New York pada pria yang tidak memiliki riwayat perjalanan. 

Baca Juga

Varian tersebut dikatakan lebih dapat ditularkan daripada galur (strain) virus aslinya. Akan tetapi, sampai sekarang virus yang telah bermutasi itu dianggap tidak lebih mematikan atau resisten terhadap vaksin dan pengobatan.

Di lain sisi, sebuah studi baru menunjukkan siapa yang paling berisiko tertular B.1.1.7. Mereka adalah warga yang berusia di bawah 20 tahun.

Studi tersebut dilakukan oleh para peneliti di Imperial College London, Inggris dan lainnya. Hasil penelitiannya belum ditinjau oleh sejawat.

Mereka menemukan bahwa masyarakat yang berusia di bawah 20 tahun lebih cenderung membuat persentase kasus B.1.1.7 yang lebih tinggi atau lebih dari itu. Seperti dilansir laman FoxNews, Rabu (6/1), dalam penelitian ini diidentifikasi sebagai Variant of Concern atau VOC. 

Data yang tersedia menunjukkan pergeseran komposisi usia dari kasus yang dilaporkan, dengan bagian yang lebih besar di bawah usia 20 tahun di antara VOC yang dilaporkan dibandingkan kasus non-VOC. Namun, para peneliti mengatakan bahwa terlalu dini untuk menentukan mekanisme di balik perubahan ini.

Mereka memahami bahwa hal itu bisa saja sebagian dipengaruhi oleh varian yang menyebar bertepatan dengan periode di mana penguncian diberlakukan tetapi sekolah dibuka.

“Penelitian lebih lanjut sedang berlangsung pada sifat spesifik dari setiap perubahan dalam bagaimana virus mempengaruhi kelompok usia ini," kata peneliti.

Tidak seperti virus corona galur lain, B.1.1.7 mungkin lebih mungkin menginfeksi anak-anak, menurut penelitian tersebut. Kesimpulan tersebut menggemakan kekhawatiran yang diungkapkan oleh Profesor Neil Ferguson, seorang ilmuwan di Imperial College London dan seorang penulis studi, pada bulan Desember. 

Saat itu, Ferguson memperingatkan bahwa analisis awal mengisyaratkan bahwa varian baru dari virus penyebab Covid-19 memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menginfeksi anak-anak.

"Jika itu benar, maka ini mungkin menjelaskan proporsi yang signifikan, bahkan mungkin sebagian besar, dari peningkatan transmisi yang terlihat," ujarnya.

BACA JUGA: Cek Fakta: Beredar Video Menteri Agama Gus Yaqut Diusir di Riau, Benarkah?

Studi Imperial College London juga memperkirakan jumlah reproduksi (R0) varian baru antara 1,4 dan 1,8. 

"Analisis ini, yang telah menginformasikan perencanaan pemerintah Inggris dalam beberapa pekan terakhir, menunjukkan bahwa varian baru yang menjadi perhatian, B.1.1.7, memiliki penularan yang jauh lebih tinggi daripada virus SARS-CoV-2 sebelumnya yang beredar di Inggris," kata Ferguson.

"Ini akan membuat kontrol lebih sulit dan semakin menekankan pentingnya menggelar vaksinasi secepat mungkin."

Dr. Erik Volz, seorang ilmuwan di Imperial College London dan salah satu penulis studi menyebut semua virus berevolusi. Ia mengatakan, sangat jarang virus berubah dengan cara yang mengharuskan mereka mengevaluasi ulang kebijakan kesehatan masyarakat.

"Kami menemukan banyak bukti tentang perubahan transmisi varian B.1.1.7 yang harus dipertimbangkan saat merencanakan respons Covid 19 kita di tahun baru."

BACA JUGA: Cek Fakta: Beredar Video Menteri Agama Gus Yaqut Diusir di Riau, Benarkah?

 
Berita Terpopuler