Islam Agama Samawi Pertama di Afrika Tengah, Tapi Minoritas

Islam adalah agama minoritas kedua setelah Kristen di Afrika Tengah

africannews
Islam adalah agama minoritas kedua setelah Kristen di Afrika Tengah Republik Afrika Tengah
Rep: Ani Nursalikah Red: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA.CO.ID, Islam tiba di Republik Afrika Tengah pertama kali dengan dibawa pedagang budak Arab pada abad ke-17. Hal itu sebagai bagian dari perluasan rute budak di Sahara dan Sungai Nil. Islam masuk terlebih dahulu ke negara di Benua Hitam itu, dibanding agama samawi lainnya.

Baca Juga

Mereka mengirim budak ke Afrika Utara atau Selatan, dekat Ubanqui dan Sungai Kongo. Pada Februari 2014, puluhan ribu Muslim melarikan diri dari Republik Afrika Tengah ke Chad karena merasa mereka tidak lagi aman di negeri itu.

Sensus 2003 menunjukkan sekitar 80 persen penduduk CAR beragama Kristen. Sebagian besar masih mempraktikkan keyakinan tradisionalnya. Umat Islam di CAR terkonsentrasi di CAR bagian utara.

Sesuai namanya, CAR terletak di jantung Benua Afrika. Negara ini berbatasan dengan Chad di barat laut. Di timur berbatasan dengan Sudan, selatan dengan Republik Demokratik Kongo, dan sisi utara berbatasan dengan Kamerun.

CAR dianugerahi Allah SWT dengan banyak sumber daya alam, termasuk emas dan berlian. Menurut imam masjid agung CAR di ibu kota Bangui, Syekh Ibrahim Uthman Mohammad, Islam sampai ke CAR dari kerajaan tetangga, seperti Kerajaan Katim di timur laut Danau Chad dan Kerajaan Bajrmi di daerah Sungai Chari.

Islam disampaikan melalui upaya kerajaan, pertama kali di bagian utara berabad-abad sebelum kedatangan agama Kristen. Sudan dalam hal ini berperan penting karena Islam berkembang di perbatasannya. Namun, kondisi tertentu mengubah mayoritas dari empat juta penduduknya menjadi Kristen. Saat ini, 25 persen penduduk CAR adalah Muslim.

Muslim di sini hidup dengan harmonis dan bebas menjalankan keyakinannya. Negara tidak membatasi gerak komunitas Islam. Hal ini berlaku juga bagi penganut Katolik dan Kristen Protestan.

Muslim berbaur dengan masyarakat dan berkontribusi secara ekonomi meski kebanyakan hidup miskin dan buta huruf seperti mayoritas warga CAR lainnya. Kurangnya dai, imam, dan khatib di sejumlah masjid adalah tantangan utama dakwah di CAR.

Kendala ini membuat masyarakat Muslim tidak peduli atas agamanya sendiri karena ketidaktahuan mereka. Selain itu, sebagian besar Muslim hidup di wilayah terpencil yang sulit dijangkau. 

Muslim juga terancam karena pengaruh gerakan Baha'i dan Freemason yang mencoba masuk dalam komunitas Muslim. Mereka menyebarkan doktrin kekerasan dan merusak.

Meski demikian, gejala diskriminasi Muslim di CAR telah tampak pada era belakangan ini. Sejumlah institusi negara mencoba membatasi keterlibatan Muslim secara ekonomi. Misalnya, Muslim harus melaporkan aktivitasnya di suatu perusahaan..

Dalam bidang politik, meski tidak dibatasi, partisipasi dalam politik tidak mempunyai proporsi cukup atau termarginalkan. CAR memiliki lima menteri Muslim dan puluhan yang duduk di parlemen. Keberadaan Muslim ini diharapkan mampu meningkatkan kekuatan politik Muslim.

Puluhan organisasi Islam yang dipimpin, terutama oleh pemuda Muslim dan masyarakat Islam Afrika Tengah, telah melakukan upaya-upaya mengatasi beberapa masalah komunitas. Beberapa mengirim utusan untuk belajar di luar negeri, seperti di Mesir, Arab Saudi, dan Libya.

Puncaknya adalah pada 2013 lalu. Kekerasan yang terjadi di Republik Afrika Tengah (CAR) membahayakan masa depan umat Islam di negara itu. Puluhan ribu melarikan diri dan tak terhitung jumlahnya yang dibunuh.

Di Bangui, pertumpahan darah dan penjarahan tetap terjadi meski ribuan pasukan penjaga perdamaian dari Prancis dan Afrika telah didatangkan. Saat ini tengah terjadi pembersihan umat Islam di CAR.

Tidak ada yang tahu berapa jumlah pasti korban tewas selama dua bulan terjadinya kekerasan terburuk antarkomunal dalam sejarah negeri ini. Sangat berbahaya bagi petugas penyelamat mengevakuasi jasad. Anak-anak juga menjadi sasaran pemenggalan dan mutilasi.

Ribuan Muslim Republik Afrika Tengah (CAR) mengungsi. - (calgaryherald.com)

Lebih dari 1.000 orang tewas selama beberapa hari pertempuran pada awal Desember 2013. Ketika itu, milisi Kristen berusaha menggulingkan pemerintahan Muslim yang berkuasa.  Ada sejumlah kalangan yang tidak menginginkan kehadiran Muslim di CAR. Ribuan umat Islam meninggalkan Bangui dalam konvoi besar-besaran.

Seorang Muslim yang jatuh dari sebuah truk dengan cepat dibunuh massa. Perempuan Muslim yang tidak bisa naik ke truk terpaksa rela menyerahkan anak-anak mereka kepada orang asing di kendaraan.

Seluruh lingkungan ditinggalkan dan Muslim yang tidak bisa meninggalkan CAR bersembunyi di dalam masjid. Sebagian masjid sudah dibakar atau dihancurkan oleh massa Kristen.

Namun, kerusuhan yang terjadi sesungguhnya juga merugikan orang Kristen. Baik Muslim maupun Kristen, dibunuh dan terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan diri. PBB mengatakan, hampir 90 persen warga CAR hanya mampu makan satu kali sehari.

 

Mereka kekuarangan bahan pangan dan harganya melonjak drastis. Sebagian besar Muslim berprofesi sebagai pedagang bahan pangan. Konflik sektarian ini berisiko memecah demografi CAR sehingga negara terbagi antara wilayah Muslim dan Kristen

 
Berita Terpopuler