Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Pertama Kali, Astronom Saksikan Bintang Katai Putih Meledakkan Sinar-X

Selasa 17 May 2022 08:15 WIB

Rep: mgrol136/ Red: Dwi Murdaningsih

Bintang katai putih (ilustrasi).

Bintang katai putih (ilustrasi).

Foto: Sciencepic
Ledakan sinar-X terlihat selama empat jam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Astronom Jerman menemukan sebuah fenomena yang belum pernah terlihat sebelumnya di luar angkas. Dengan bantuan teleskop sinar-X eROSITA, yang sekarang berjarak lebih dari 1,5 juta kilometer dari Bumi, mereka pertama kali menyaksikan bintang katai putih yang meledakkan sinar-X.

Katai putih adalah sisa-sisa bintang yang hampir mati yang telah kehabisan pasokan bahan bakarnya. Mereka mungkin berputar pada kecepatan yang sangat tinggi, hingga 100 putaran per detik. Katai putih seperti ini dikenal sebagai katai putih milidetik.

Baca Juga

Katai putih memancarkan banyak radiasi. Namun, baru belakangan ini ditemukan bahwa mereka juga dapat memancarkan sinar-X.

Fenomena tersebut pertama kali diketahui pada 7 Juli 2020, ketika teleskop diarahkan ke area langit di mana peristiwa yang tidak dapat dijelaskan itu diperkirakan akan terjadi. Menurut astronom, pertistiwa itu terjadi secara tiba-tiba.

Ledakan sinar-X terlihat selama empat jam. Selama waktu pengamatan itu teleskop tidak terlalu siap untuk kelebihan sinar-X yang tiba-tiba ini.

Kilatan sinar-X ini hanya berlangsung beberapa jam dan hampir tidak mungkin diprediksi. Namun, instrumen pengamatan harus diarahkan langsung ke ledakan pada waktu yang tepat.

"Apa yang disebut nova terjadi sepanjang waktu, tetapi mendeteksinya pada saat-saat pertama ketika sebagian besar emisi sinar-X dihasilkan sangat sulit. Tidak hanya durasi kilat yang singkat merupakan tantangan, tetapi juga fakta bahwa spektrum sinar-X yang dipancarkan sangat lembut," kata Dr. Victor Doroshenko dari Tubingen University, dilansir dari Nature.

Sinar-X yang lembut tidak terlalu energik dan mudah diserap oleh medium antarbintang. Jadi, astronom tidak dapat melihat terlalu jauh di pita ini, yang membatasi jumlah objek yang dapat diamati, baik itu nova atau bintang biasa. 

"Teleskop biasanya dirancang untuk efektif menangkap sinar-X yang lebih keras di mana penyerapan kurang penting, dan itulah alasan mengapa mereka melewatkan peristiwa seperti ini," Doroshenko menyimpulkan.

Terlepas dari kenyataan bahwa peristiwa itu membuat para astronom dan teleskop lengah dan hanya berlangsung beberapa menit, data yang dikumpulkan telah membantu para ilmuwan lebih memahami bagaimana katai putih meletus.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA