Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Air Begitu Banyak Terdeteksi di Bawah Es Antartika

Selasa 10 May 2022 09:31 WIB

Rep: mgrol136/ Red: Dwi Murdaningsih

Sebuah kapal menembus es di laut Antartika.

Sebuah kapal menembus es di laut Antartika.

Foto: EPA
Air itu bisa berdampak besar pada bagaimana Antartika beradaptasi pada iklim.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Air dalam volume yang besar ditemukan di sedimen bawah bagian lapisan es Antartika Barat. Volumenya setara dengan reservoir yang dalamnya beberapa ratus meter. 

Air itu ditemukan di bawah Aliran Es Whillans. Ilmuwan menduga kemungkinan air ini ada di seluruh Benua Putih. Para peneliti menjelaskan dalam jurnal Science bahwa air itu bisa berdampak besar pada bagaimana Antartika beradaptasi dengan Bumi yang lebih hangat.

Baca Juga

Air di dekat dasar gletser dan aliran es melumasi gerakan. Akibatnya, transfer air masuk atau keluar dari reservoir dalam ini memiliki kemampuan untuk menghambat atau mempercepat aliran es.

Temuan ini dihasilkan oleh tim yang dipimpin oleh Dr. Chloe Gustafson dari Scripps Institution of Oceanography di San Diego. Gustafson menjelaskan bahwa sedimen dalam adalah lumpur laut purba dan pasir yang jenuh dengan air asin ribuan tahun yang lalu, ketika Lapisan Es Antartika Barat jauh lebih kecil daripada sekarang.

"Sedimen ini saya suka anggap sebagai spons raksasa," katanya.

“Jika Anda bisa memeras semua air itu dan menyatukannya di permukaan, kedalaman air akan berkisar dari sekitar 220m hingga 820m,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, Empire State Building tingginya sekitar 440m. Jadi di bagian yang paling dangkal, air ini akan naik ke separuh Empire State Building. Bagian terdalamnya hampir menenggelamkan dua Empire State Buildings. 

Dr. Gustafson mengambil datanya selama perjalanan enam minggu di Whillans Ice Stream, kolom es yang bergerak cepat dengan tebal 800 meter dan lebar 100 kilometer dan masuk ke dalam Lapisan Es Ross.

Dia menggunakan teknologi magnetotellurik. Instrumen ini mengukur perubahan medan listrik dan magnet yang melekat pada Bumi untuk mengidentifikasi sifat-sifat elemen yang terkubur dalam seperti batu, sedimen, es, dan air.

"Anda mendapatkan pola resistivitas dan Anda harus membalikkannya untuk mengetahui berapa banyak air yang ada, dan itu sangat besar," kata profesor glasiologi Scripps, Helen Fricker.

“Sudah lama menduga air tanah ini ada di sana, tetapi ini adalah pertama kalinya kami benar-benar dapat mengukurnya," tambahnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA