Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Peneliti Sebut Matahari Mungkin Pernah Memiliki Cincin Seperti Saturnus

Selasa 18 Jan 2022 11:16 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Dwi Murdaningsih

Matahari. ILustrasi

Matahari. ILustrasi

Foto: Dailymail
Ilmuwan menyebut tanpa cincin matahari, kehidupan di Bumi mungkin tidak berkembang.

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- Sebuah studi baru mengungkapkan Matahari mungkin pernah lebih mirip planet Saturnus. Para peneliti dari Rice University mengatakan matahari pernah memiliki cincin debu bintang raksasa (seperti Saturnus) yang akhirnya memicu penciptaan kehidupan di Bumi.

Mereka mengklaim bahwa tanpa cincin-cincin ini di sekitar Matahari, kehidupan di Bumi mungkin tidak akan pernah berkembang. Studi mereka menemukan cincin ini sebenarnya mencegah Bumi menjadi terlalu besar dan mengembangkan tarikan gravitasi besar-besaran yang akan menghambat pertumbuhan organisme. Daya tarik gravitasi seperti itu juga akan membuat dampak asteroid yang menghancurkan lebih sering terjadi.

Baca Juga

“Di tata surya, sesuatu terjadi untuk mencegah Bumi tumbuh menjadi jenis planet terestrial yang jauh lebih besar yang disebut Super-Bumi,” kata penulis utama Dr. Andre Izidoro dalam rilis universitas, dilansir dari Study Finds, Selasa (18/1/2022).

Planet-planet raksasa ini adalah planet berbatu yang berukuran sekitar dua hingga 10 kali ukuran bumi. Super-Bumi menghuni sekitar 30 persen dari sistem bintang mirip Matahari di Bima Sakti. Penelitian yang dipublikasikan di Nature Astronomy menganalisis ratusan simulasi superkomputer yang memeriksa simulasi pembentukan tata surya.

Simulasi tersebut menghasilkan cincin seperti yang terlihat di sekitar banyak bintang muda yang jauh. Simulasi ini juga secara akurat mengidentifikasi sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter.

Komputer dengan tepat memprediksi perkembangan lokasi dan orbit Bumi, Mars, Venus, dan Merkurius yang stabil. Mereka juga menghitung dengan benar massa planet dalam-termasuk Mars.

Selain itu, penelitian ini menjelaskan pembentukan sabuk Kuiper dari komet, asteroid, dan benda-benda kecil di luar orbit Neptunus. Model komputer mengasumsikan bahwa tiga pita tekanan tinggi berkembang di dalam piringan gas dan debu matahari muda. Para ilmuwan telah mengamati “benjolan” ini di cakram bintang bercincin di sekitar bintang yang jauh.

 “Kami mengusulkan bahwa benjolan tekanan menghasilkan resevoir materi disk yang terputus di tata surya bagian dalam dan luar serta mengatur berapa banyak bahan yang tersedia untuk menumbuhkan planet di tata surya bagian dalam,” katanya lagi.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA