Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Mengapa Varian Baru Tingkat Penularannya Lebih Tinggi?

Kamis 24 Jun 2021 02:00 WIB

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Reiny Dwinanda

Pasien Covid-19 dibawa menuju RS Royal London, Inggris, Senin (14/6). Peneliti di Inggris mencermati gejala Covid-19 kini berubah menyusul dominannya varian Delta.

Pasien Covid-19 dibawa menuju RS Royal London, Inggris, Senin (14/6). Peneliti di Inggris mencermati gejala Covid-19 kini berubah menyusul dominannya varian Delta.

Foto: EPA-EFE/ANDY RAIN
Viral load varian virus penyebab Covid-19 tidak lebih tinggi di saluran napas atas.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Sebuah penelitian dari Johns Hopkins School of Medicine, Amerika Serikat, menemukan dua varian baru SARS-CoV-2 tidak menunjukkan bukti menimbulkan viral load yang lebih tinggi di saluran pernapasan bagian atas penderitanya dibandingkan dengan kelompok kontrol. Meskipun begitu, dua varian tersebut mengkhawatirkan karena memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi.

Untuk mengidentifikasi lebih lanjut, para peneliti menyelidiki varian yang pertama kali teridentifikasi di Inggris (B.1.1.7) dan varian yang pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan (B.1.351). Mereka mengevaluasi apakah pasien menunjukkan viral load yang lebih tinggi dan dampaknya terhadap masa penularan dan penularan virusnya.

Dalam penelitian itu, para peneliti memanfaatkan varian yang diidentifikasi menggunakan pengurutan seluruh genom (whole genom sequensing).
"Alasan mengapa varian ini menunjukkan transmisibilitas yang lebih tinggi belum jelas," kata Adannaya Amadi, penulis utama studi tersebut, dikutip dari Times now News, Rabu (23/6).

Baca Juga

 

 
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA