Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Virus Corona Baru Telah Bermutasi Lebih dari 6.600 Kali

Selasa 11 May 2021 14:13 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.

Foto: Pixabay
Virus bermutasi setiap kali ada ‘kesalahan’ dalam proses replikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA --  Virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan infeksi penyakit COVID-19 telah mengalami lebih dari 6.600 mutasi protein lonjakan yang unik. Hal ini diungkapkan oleh Sebastian Maurer-Stroh, direktur eksekutif Bioinformatika di Agency for Science, Technology and Research.

Menurut Maurer-Stroh, virus bermutasi setiap kali ada ‘kesalahan’ dalam proses replikasi. Ini bisa replikasi. Ini bisa terjadi akibat penambahan, penghapusan, atau perubahan kode genetiknya.

Jika kesalahan tersebut meningkatkan prospek kelangsungan hidupnya, lebih banyak salinan dari replikasi yang salah itu akan bertahan dan terkadang membanjiri versi aslinya. Sebagai contoh, mutasi D614G yang mulai meningkat tajam pada Februari tahun lalu kini ditemukan di semua sampel virus, apapun variannya. Karena varian menjadi begitu menyebar, ini diberi nama sebagai klade atau grup keluarga dan ditetapkan sebagai klade G.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa sementara klade G telah meningkatkan infektivitas dan penulaan, penyakit yang ditimbulkannya tidak lebih parah. Ini juga tidak mempengaruhi diagnosis, pengobatan, maupun vaksin.

Klade G dan sub klad yang mencakup GRY, yang ditandai untuk varian Inggris B117 pada Juli 2020 telah menyebabkan hampir seluruh kasus COVID-19 sejak pertengahan tahun lalu. Ini benar-benar menggantikan virus corona jenis baru asli yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China.

Meski ada begitu banyak mutasi virus, mengapa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya mencantumkan tiga diantaranya yang dinilai mengkhawatirkan sejauh ini? Dilansir The Strait Times, untuk memenuhi syarat sebagai varian yang perlu diperhatikan (variant of concern/VOC), virus yang bermutasi harus menunjukkan bukti dalam memenuhi setidaknya satu dari kriteria.

Kriteria itu adalah lebih mudah menular, menyebabkan penyakit yang lebih parah, dan secara signifikan mengurangi netralisasi oleh antibodi, atau mengurangi efektivitas pengobatan, vaksin serta diagnosis.

Maurer-Stroh menjelaskan bahwa tidak semua mutasi membuat perbedaan pada penyakit dengan cara-cara ini. Karenanya, mutasi ini tidak membuat gelombang.Varian biasanya terdiri dari lima hingga 15 mutasi yang, bersama-sama, memberi keuntungan tambahan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA