Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Bahasa Indonesia di Mata Bangsanya

Kamis 15 Oct 2015 17:51 WIB

Red: Heri Ruslan

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Laura Laurenza*

Rupanya, tak banyak orang yang tahu atau ingat, apalagi memperingati. Padahal, tepat di bulan Oktober ini adalah bulan Bahasa. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Bahasa yang dipakai seseorang dapat mencerminkan kepribadian orang tersebut.
       
Hal ini didasarkan pada peristiwa  Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Namun dewasa ini kecintaan terhadap bahasa Indonesia semakin surut karena era global yang lebih mengedepankan bahasa asing (Inggris).
         
Lihat serta dengarkanlah, apabila seseorang atau peserta didik salah menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, orang cepat tanggap untuk membetulkannya. Selain itu, jika seseorang salah menghitung atau menggunakan sesuatu semua orang akan berteriak memberi solusi.
       
Sebaliknya apabila seseorang salah melafalkan bahasa Indonesia semua orang diam seribu bahasa seakan tidak peduli dengan bahasanya sendiri, bahkan terkadang penuh gelak tawa tanpa berniat memberi solusi  untuk membetulkannya dan membenahinya.
        
Ironisnya lagi, dalam dunia pendidikan mayoritas para peserta didik baik dari kalangan siswa maupun kalangan mahasiswa diberbagai sekolah dan perguruan tinggi, umumnya bahasa Indonesia  tidak pernah di anggap oleh siswa sebagai pelajaran yang sukar melainkan pelajaran yang dipandang sebelah mata oleh siswa maupun mahasiswa.
         
Kembali kepada sikap para muda-mudi, sedikit yang mengatakan bahwa bulan bahasa itu harus atau perlu dirayakan. Fakta menunjukan bahwa kalangan muda lebih banyak mengembangkan bahasa gaul ketimbang memerhatikan bahasa yang baik.
           
Memang, tidak terlalu salah juga bila berkomunikasi dengan bahasa gaul. Hanya saja, ketika bahasa hanya sebatas menyampaikan pesan belaka, kualitas berbahasa yang baik tidak  bakal tercapai. Bulan bahasa sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas berbahasa secara baik. Tapi jangan pula hanya sekadar pada bulan tersebut saja.
           
Berbahasa merupakan proses yang harus dibiasakan. Semakin terbiasa untuk berbahasa dengan baik, semakin menolong kita untuk terus meningkatkan kualitas berbahasa. Sekarang ini, kenyataannya para pemuda yang diyakini sebagai pewaris tahta masa depan bangsa mereka lebih senang menggunakan bahasa gaul dibanding dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
           
Banyak kita lihat sinetron-sinetron ditelevisi  juga mencontohkan bahasa gaul dikalangan muda-mudi. Fenomena ini muncul dari berbagai pihak, bukan saja terjadi dikalangan masyarakat bawah yang tidak pernah mengecap dunia pendidikan. Namun juga terjadi dari kalangan atas yang selalu diselimuti ilmu pengetahuan  dan pendidikan, yang akhirnya berdampak ke semua sudut lapisan masyarakat.
           
Selain itu, juga membuktikan warga Negara Indonesia sendiri sudah mulai kurang peduli terhadap bahasanya sendiri, bahkan merasa tidak percaya diri dan tidak bangga menggunakan bahasa yang telah mereka miliki sejak dini ini, ibaratnya tidak bangga memakai baju hasil tenunannya sendiri.
            
Menurut Yunisa Oktavia, mahasiswa Pendidika Bahasa Indonesia, pada akhirnya dengan penuh daya harap semoga ditangan kita sebagai pemuda Indonesia yang bergelora masih tertumpuk rasa nasionalisme yang tinggi dalam melestarikan bahasa Indonesia.
            
Indonesia akan menjadi lebih baik lagi dan terpandang dimata dunia. Bahasa Indonesia memang terkesan sepele dan di anggap remeh oleh bangsanya sendiri dan mereka lebih mengagung-agungkan bahasa asing.
   
Bahasa Indonesia kini mulai ditinggalkan perlahan-lahan. Dipaksa gulung tikar oleh bahasa gaul atau bahasa alay yang kini  tengah menggurita. Jika diperhatikan terkadang kita juga malah sering dibuat bingung oleh tindak tanduk para pemuda saat ini.
   
Sungguh miris rasanya jika kita enggan menggunakan bahasa Indonesia  yang baik dan benar sementara orang-orang  dari Negara lain tengah memperlajarinya. Tidaklah salah mempelajari bahasa asing, namun bahasa Indonesia sebagai bahasa asli hendaknya tetaplah dijaga keasliannya.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Fikom Unpad

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA