Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Antara Debat Cawapres, Kemandirian Iptek, dan Middle Income Trap (2)

Rabu 02 Jul 2014 17:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Prof Freddy Permana Zen, MSc, DSc

Prof Freddy Permana Zen, MSc, DSc

Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Prof Freddy Permana Zen, MSc, DSc (Guru Besar pada program Fisika di  Intitut Teknologi Bandung dan Deputi Bidang Sumber Daya IPTEK Kementerian Riset dan Teknologi)

 

Sesungguhnya penguasaan  IPTEK oleh bangsa Indonesia adalah sangat urgen dan selayaknya menjadi prioritas. Hal ini karena berkaitan erat dengan nasib bangsa Indonesia ke depannya. Dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah, Indonesia selayaknya dapat memetik manfaat yang luar biasa besar dengan pemanfaatan IPTEK yang akan meningkatkan nilai tambah pada SDA tersebut sekaligus mewujudkan kemandirian bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, menarik apa yang disampaikan oleh Hatta Rajasa bahwa pengembangan pusat inovasi harus dilakukan dengan pendekatan Triple Helix yaitu Pemerintah membuat regulasi yang berpihak pada peningkatan difusi knowledge peneliti kita ke sektor-sektor market teknologi yg diprioritaskan, Pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan yg keluarkan dana untuk melakukan riset yang bisa masuk ke market dengan tax deductable, dan pemerintah membuat regulasi untuk percepatan program kewirausahaan berbasis IPTEK sehingga kombinasi antara invention dan enterpreneur akan menjadi inovasi mengatasi banjir impor teknologi. Denganx Triple Helix ini akan tercipta sinergi positif yang erat antara kalangan Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan kalangan swasta untuk meningkatkan riset dan mempercepat kemandirian IPTEK.

Bayangkan bila 78% barang impor yang merupakan bahan baku dan bahan penolong dapat dihasilkan sendiri oleh bangsa sendiri, tentu akan sangat mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Perlu dipahami oleh masyarakat, bahwa saat ini, income percapita Indonesia adalah mendekati USD 4000, dan masih berada pada Lower Middle Income Group yaitu kelompok negara dengan pendapatan perkapita USD 2000 – USD 7250. Grup lain adalah Low Income Group dengan pendapatan perkapita kurang dari USD 2000, Upper Middle Income Group antara USD 7.250-12 ribudan High Income Group yaitu kelompok negara-negara dengan pendapatan perkapita melebihi USD 12000. Sebelum tahun 1990, Indonesia berada pada posisi low income group, namun lebih dari 20 tahun selepas tahun 1990, Indonesia masih belum mampu melepaskan diri dari middle income group. Inilah yang di sebut sebagai middle income trap.

Penyebab utama middle income trap adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi sebagai akibat dari perlambatan pertumbuhan produktivitas. Perlambatan ini disebabkan oleh ketidakmampuan suatu negara untuk bersaing dengan negara lain yang memiliki tingkat upah rendah dalam memproduksi produk ekspor, dan tidak mampu bersaing dengan negara maju yang menghasilkan produk dengan inovasi dan teknologi tinggi (Eichengreen et. al, 2011).

Kebuntuan inilah yang seharusnya dipecahkan dengan penguasaan Teknologi. Tanpa adanya dukungan yang lebih besar terhadap percepatan penguasaan IPTEK untuk keunggulan perekonomian yang lebih kompetitif dan meningkatkan daya saing sektor produksi barang dan jasa, niscaya bangsa Indonesia tidak akan beranjak pada middle income trap yang dampaknya tentu pada tingkat kemakmuran bangsa Indonesia.

Selain itu, seharusnya Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi yaitu persentase yang besar pada penduduk berusia produktif dibandingkan penduduk usia muda dan usia lanjut. Hal inilah yang seharusnya juga menjadi perhatian utama dalam meningkatkan kualitas SDM dengan mendirikan dan merevitalisasi balai latihan kerja, pusat pusat pendidikan, dan pendidikan berkualias.

Pada debat cawapres kemarin, terlihat bahwa Hatta Rajasa lebih menguasai permasalahan ini, sehingga nampak jelas lebih berkomitmen untuk memajukan dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dan kemandirian IPTEK untuk meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia. Selain itu konsep VISI dan MISI pembangunan SDM dan IPTEK yang ditawarkan oleh Hatta Rajasa yang menempatkan SDM dan IPTEK sebagai pilar utama pembangunan akan lebih mempercepat peningkatan kualitas SDM Indonesia dan penguasaan serta kemandirian IPTEK untuk sebesar-besarnya kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia serta menjadikan negara Indonesia berwibawa di Asia, dan disegani di dunia...

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA