Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Akhirnya Calon 'Khalifah' Itu Diusir

Ahad 13 Apr 2014 06:03 WIB

Red: Julkifli Marbun

[Al Baqarah 30]

[Al Baqarah 30]

Foto: i-net

REPUBLIKA.CO.ID, By: Julkifli Marbun (julkifli@rol.republika.co.id)

 

Kisah penciptaan Nabi Adam AS selalu menarik untuk dikaji. Apa sebenarnya yang terjadi hingga akhirnya pria yang digadang-gadangi menjadi calon Khalifah (manusia) di muka di bumi itu diusir dari surga.

Sampai saat ini manusia hanya mengetahui kejadian dari satu sumber, Firman Allah SWT. Benarkah dia diusir? Ataukah itu hanya skenario Allah SWT dalam sebuah drama makrokosmos.

Pertanyaan itu pula yang muncul dalam sebuah surat pembaca di OnIslam, yang agaknya dijawab secara umum oleh pengelola situsnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Iblis dapat mempengaruhi Adam AS untuk memakan buah khuldi padahal dia tidak berada di Surga.

Lalu mungkinkah Nabi Adam AS yang sudah berada di dalam surga itu berpikir yang tidak-tidak mengikuti hawa nafsunya memakan sesuatu yang memang sudah dilarang? Masih adakah hawa nafsu ketika berada di Surga?

Sebenarnya keanehan itu bukan di situ saja.

Saat Allah SWT berfirman: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (Al-Baqarah:30)

Mereka yang kritis akan melihat bagaimana Allah SWT seperti mengajak diskusi para Malaikat dan Iblis dalam suasana yang demokratis dan akhirnya memutuskan sesuatu yang berlainan dengan masukan dari makhluknya.

Para Malaikat yang dikenal tidak mempunyai hawa nafsu itu, menjadi terlalu berani 'mengingatkan' Tuhan bahwa makhluk ciptaan sebelumnya suka melakukan kerusakan, dan pertumpahan darah.

Kerusakan di sini berasal dari kata fa sa da yang juga berarti kerusakan lingkungan atau korupsi(?).

Para Malaikat itu pula terlihat seperti 'menjilat' dengan mengatakan bahwa mereka selama ini bahkan senantiasa bertasbih dan melakukan pujian.

Seandainya calon 'Khalifah' itu mendengar percakapan ini, dia bakal mengerti bahwa ternyata tidak semua makhluk Allah SWT setuju dengan penciptaannya. Tidak semua setuju dengan pengangkatannya sebagai Khalifah.

Di antara mereka, ada yang iri (Iblis) ada juga yang mempertanyakan (Malaikat). Dengan begitu, seharusnya Nabi Adam AS sejak awal wanti-wanti berhadapan dengan mereka. Apatah lagi dirayu makan buah khuldi.

Menjadi terusir itu bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Sakitnya tidak terasa, tapi malunya itu. Namun, Nabi Adam AS masih sangat mujur, belum ada banyak manusia saat itu yang bisa saja usil mempertanyakan mengapa dia diusir.

Jadi dia tidak perlu berbohong, bahwa seakan-akan dia bukanlah diusir. Atau dia tidak perlu merasa malu mengklarifikasi saat ia dikawal keluar dari Surga menuju penjara, misalnya.

Seandainya Nabi Adam AS bisa bertanya kepada Tuhan saat itu, satu hal yang perlu ditanya adalah, Khalifah itu tinggalnya di bumi, lalu mengapa dia disuruh tinggal di Surga terlebih dahulu?  Bukankah iman manusia itu yazid wa yanqush (naik turun)

Kembali ke jawaban di OnIslam kepada penanyanya. Jawaban pengelola situs itu adalah menduga bahwa mungkin saja Iblis tidak menggoda (waswasah) Adam AS di dalam surga.

Mungkin saja dia merayunya saat Nabi Adam masih di luar Surga atau setidaknya sebelum masuk pintu surga.

"Apa yang ingin saya katakan di sini, ada banyak makna tersembunyi di sini, dan tidak ada Hadits otentik yang memberi jawaban yang pasti," kata penjawabnya tanpa menunjukkan dalilnya.

Memang, kalau dilihat dari ayatnya, penciptaan Nabi Adam AS termasuk dalam ayat Mutasyabihaat. Ayat ini berbeda dengan Muhkamat yang jelas pengertiannya. Sebagai firman Allah SWT, adalah tugas manusia untuk mengimaninya sebagai salah satu rukun Iman.

Walau, sebagai manusia yang mempunyai perasaan ingin tahu ada saja yang mempertanyakan ayat-ayat Mutasyabihaat, seperti halnya pembahasan mengenai zat Allah SWT, saat manusia dibolehkan mencari tahu apa gerangan itu tapi tidak diharapkan untuk mengambil kesimpulan dan mengklaimnya sebagai sebuah kebenaran hakiki karena dalil naqli untuk itu hanya sedikit diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Manusia hanya bertugas berusaha mencari ilmu sebanyak mungkin, mulai dari perut bumi dan kalau bisa sampai ke galaksi terluar, untuk kemudian mengonfirmasikan hasil temuan dan segala pertanyaan itu kelak setelah Hari Kiamat.

Kembali ke On Islam, "Ada juga orang yang mengatakan bahwa iblis masuk ke dalam penyamaran ular yang indah, dan karena itu ular menjadi binatang yang paling dibenci oleh manusia. Tidak diragukan, klaim itu tidak ada dalil legalnya," kata pengasuh kolom itu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA