Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Masalah bukan Masalah

Senin 24 Feb 2014 06:00 WIB

Red: Muhammad Hafil

Komisaris Besar Polisi Krishna Murti

Komisaris Besar Polisi Krishna Murti

Foto: dok.pribadi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Komisaris Besar Polisi Krishna Murti*

Saya pernah melaksanakan kursus selama dua pekan khusus hanya belajar membedah suatu masalah ketika bertugas di Markas Besar PBB New York, Amerika Serikat. Memang, tidak mudah dalam mengidentifikasi masalah kalau kita tidak paham metodologi berpikirnya.

Dulu,di sekolah kita diajari bagaimana mengatasi masalah. Kita diajari bagaimana sebuah konsep dan teori dijadikan landasan sebagai pisau analisa pemecahan masalah. Kita juga diajari bagaimana menguraikan sebuah latar belakang masalah. Dan lebih penting lagi, kita dilatih dan diajarkan bagaimana menentukan sebuah pokok masalah sehingga kita bisa mendeterminasikan cara-cara pemecahan masalah melalui beberapa rekomendasi.  

Bagaimana cara mengidentifikasi masalah dan menentukan pemecahannya? Contohnya seperti ini, anggaplah kita sebagai seorang Kapolres di suatu tempat sedang melaksanakan pengamanan demo yang berlangsung terus menerus dari pagi hingga siang hari, dan kemudian anak buah kita mengatakan ”kami lapar”.

Kalau kita tidak paham bagaimana caranya mengidentifikasi masalah, maka akan banyak respon kita sebagai Kapolres. Mungkin ada Kapolres yang marah, dan mengatakan ”Sama saya juga lapar”, atau ada Kapolres yang baik hati dengan mengatakan ”OK, saya paham tolong kita sabar sampai demo ini berhenti”.

Pertanyaannya adalah, ketika anak buah kita mengatakan bahwa dia lapar, kira-kira apa identifikasi masalah yang kita hadapi sebagai pimpinan? 

- Apakah masalahnya adalah anggota lapar? Bukan

- Apakah masalahnya adalah anggota ingin makan? Juga bukan

- Apakah masalahnya sedang ada demo sehingga anggota tidak bisa makan? Juga bukan

- Apakah masalahnya cari makan susah? Lagi-lagi bukan

- Apakah masalahnya makanan tidak datang-datang? Menurut saya juga bukan

Lalu kalau demikian, apa identifikasi masalah yang bisa kita angkat disini? Dari hanya dua kata ”Saya lapar” saja, dengan latar belakang kondisi dan situasi yang dihadapi, maka apabila tidak dapat mengidentifikasi masalah dengan tepat, tentunya kita juga tidak dapat mengatasi masalahnya.

Orang lapar kok disuruh sabar? Orang lapar kok malah dimarahi? Orang lapar kok masih dipaksa kerja? Orang lapar kok malah dikasih tau makanan masih lama? Orang lapar itu butuhnya apa sih? Ya itulah respon dari kita-kita yang belum dapat mengidentifikasi masalah.

Jadi kalau ada perkataan ”Saya lapar”, maka identifikasi masalahnya adalah: ”Bagaimana caranya agar anggota saya kenyang??” Nah itulah identifikasi masalah. Karena kita sudah tau masalahnya yaitu bagaimana caranya agar membuat mereka kenyang, maka pemecahan masalah yang kita ambil adalah menyiapkan makanan dan waktu agar mereka bisa makan sesegera mungkin.

Agak menarik bukan?

Cobalah lihat anak kita waktu bayi, mereka menggunakan satu gaya yang sama untuk menunjukkan bahwa mereka sedang bermasalah, yaitu ”menangis”. Lapar, haus, sedih, takut, buang air kecil, buang air besar, mengantuk, bosan dll, semua sama dicurahkan dalam tangisan. 

Hanya ibu mereka yang tau identifikasi masalah yang dihadapi. Karena sang ibu tau identifikasi masalahnya, maka tentunya sang ibu tau juga bagaimana cara pemecahan masalah yang dihadapi. Sang ibu yakin betul, bahwa tangisan karena buang air tidak bisa dipecahkan hanya dengan menyusui mereka. Sang ibu tahu betul bahwa tangisan tertentu harus dipecahkan dengan cara tertentu. Itulah cara alamiah dalam memecahkan masalah.

Nah sekarang, bagaimana dengan permasalahan yang kita hadapi? Masalah bagi sebagian orang adalah tantangan.   Bagi sebagian yang lain, masalah adalah penderitaan.  Sebagian orang menanggapi masalah dengan semangat untuk mencari solusi.  Sebagian yang lain ada pula yang terpuruk karena deraan masalah yang bertubi-tubi. 

Jadi sebenarnya bukan masalah itu yang menjadi masalah, tapi bagaimana menyikapi masalah, itulah yang menjadi pokok permasalahannya. Masalah yang ditangani dan disikapi dengan cara yang salah akan melahirkan masalah baru.  Atau, masalah yang kecil bisa menjadi besar karena terlalu banyak diulang-ulang dan dibesar-besarkan.

Pada hakikatnya menurut saya, bahwa masalah terbagi menjadi dua yaitu masalah nyata dan masalah yang tidak nyata.  Sebagian besar masalah yang memenuhi otak dan hati sebenarnya adalah tidak nyata. Yang harusnya bisa diselesaikan hanya dengan sejenak melepaskan pikiran kita.  Sejenak meletakkannya di luar diri kita, sehingga kita bisa memandangnya dan membedakan mana masalah yang nyata dan masalah yang tidak nyata. 

Masalah yang tidak nyata tidak membutuhkan penyelesaian, hanya diperlukan sedikit kemampuan untuk memilahnya dan melepaskannya serta membiarkan waktu sebagai mediator penyelesaian.

Masalah sangat erat kaitannya dengan kapasitas dan kapabilitas.  Kapasitas adalah daya tampung atau kemampuan atau disebut juga dengan potensi.  

Sedangkan Kapabilitas adalah kemampuan untuk memanfaatkan kapasitas (Eri Sudewo, 2011).   Masalah yang menimpa atau ditimpakan kepada seseorang tidak akan pernah melebihi kapasitasnya.  

Hal tersebut telah digariskan dalam Firman Allah dalam Al Baqaroh 287:  “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.“  

Artinya ketika seseorang tertimpa suatu masalah, maka Allah telah mengukur bahwa dia dapat menyelesaikan masalah tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika  seseorang mengatasi masalahnya dengan cara yang salah.  

Seperti contohnya ketika kita mendapati seorang anak buah kita melakukan kesalahan dilapangan saat menangani demo. Jika yang kita lakukan sebagai pimpinan adalah marah dan memukul mereka dengan menggunakan gaya kepemimpinan primitif, maka masalah kesalahan anggota tersebut akan berkembang menjadi masalah-masalah yang lain.

Ketika masalah utama anggota yang melakukan kesalahan dalam menangani demo di lapangan belum terpecahkan, sudah lahir masalah baru karena kita marah dan memukul anggota. Anggota yang tidak terima karena dipukul, rekan-rekannya yang menjadi emosional karena merasa solider, atau anggota menjadi makin brutal kepada para demonstran.

Kerusuhanpun mulai meletus, bentrokan tak bisa dihindarkan, pasukan tak bisa dikendalikan, korban berjatuhan dimana-mana dan masalah-masalah lain yang saling susul menyusul menjadi letusan dan ledakan tiada henti yang pada akhirnya menjadi lagi lagi berakibat pada perkembangan opini buruk pada institusi kita.

Bandingkan jika anggota yang melakukan kesalahan saat menangani demo tadi dapat ditangani dengan lebih tenang dan sabar. Sebagai pimpinan kita mendekati anak buah kita, menarik mereka dari tengah-tengah pasukan untuk segera di endapkan dulu di Posko dan kita meminta maaf secara tulus pada korban serta mengajak mereka sama-sama berdiri dalam satu atmosfir demokrasi yang elegan dengan menampilkan kualitas demonstrasi yang bermartabat dan menjadikan kita sebagai organisasi sebagai pengawal kebebasan tersebut.

Ketika suasana menjadi aman, pimpinan bijak kepada anggota yang melakukan kesalahan dan mengajak berdialog. Setelah tahu kronologis mengapa anggota melakukan kesalahan, kita mencoba memberi arahan dengan bijaksana sebagai layaknya seorang pimpinan yang memahami kondisi kebatinan saat masalah tersebut terjadi.  Masalah selesai.

Apabila anggota bersalah, kita bisa melaksanakan proses penghukuman dengan niat tulus dalam rangka pembinaan organisasi serta bagi kebaikan eksternal dan keluar pun kita tidak akan banyak mendapatkan tekanan yang luar biasa.

Satu tindakan salah dalam menangani  masalah dapat memberikan dampak yang semakin membesar di kemudian hari.  Malah bukan tidak memungkinkan bahwa traumatik anggota terhadap perlakuan pimpinan dapat dianggap sebagai traumatik kepada organisasi.  Ketidak mampuan kita mengatasi masalah secara sistematis akan memberikan dampak yang pada kegamangan anggota dalam melaksanakan tugas dilapangan.

Tenang dan sabar dalam menghadapi masalah mungkin hanya mudah dikatakan dan ditulis. Dalam penerapannya,  seseorang lebih banyak membiarkan bereaksi secara spontan pada saat tertimpa masalah.  Salah satu sahabat Nabi Muhammas SAW, Abu Bakar RA, pernah menunda pengadilan karena terdakwa meludah ke mukanya.  Maka Abu Bakar meminta ijin untuk meninggalkan ruang pengadilan dan berkata, “Maaf saya tidak bisa memutuskan apapun, karena saya sedang marah”.

Cerita itu menasehatkan, “Jangan bicara dan mengambil keputusan apapun ketika kita sedang marah”.  Masalah masih bisa menunggu kita untuk menenangkan diri, sampai besok atau sekedar keluar ruangan menghirup udara segar. Upaya ini adalah agar masalah tidak berkembang menjadi masalah-masalah baru hanya kerena ditangani dengan emosi dan kemarahan.

Masalah juga dapat terjadi ketika seseorang tidak dapat mengukur kapasitas atau potensinya 

Saya dapat ambilkan contoh kasus yang dapat menggambarkan ini. Misalnya seorang anggota Polri yang baru lulus dan masih belia berumur 19 tahun mendapatkan tugas tanggung jawab dan wewenang yang sangat besar di Kepolisian.

Beban tugas yang diembannya sebagai anggota Polri dilapangan ternyata begitu kompleks melebih ekspektasi yang dia bayangkan. Setiap hari dia harus bertugas dari pagi hingga larut malam menangani berbagai persoalan yang dihadapi dilapangan. Setiap hari dia juga mendapatkan tekanan dari internal dan pimpinan akan target-target penyelesaian masalah yang dihadapi. Daya nalarnya belum sanggup untuk mencerna itu semua.

Di satu sisi dia juga dihadapkan pada masalah psikologis yang belum matang. Dan parahnya, dia juga mendapatkan wewenang yang cukup besar. Godaan sungguh luar biasa untuk menyalahgunakan wewenang dengan berbagai iming-iming dan ketika dia melihat pada kondisi sosial dia nyatalah baginya bahwa kehidupan dia sebagai polisi ternyata jauh lebih berat dari yang dia bayangkan.

Masalah  yang  datang  secara beruntun  seakan menyumbat kotak kapasitasnya.  Menyebabkan semua potensi dirinya menjadi terhambat dan ikut-ikutan mampet.  Dalam kondisi semacam ini, maka seseorang sangat rawan menderita stress dan depresi  tingkat tinggi.  Yang efek berikutnya adalah segala tindakannya menjadi tidak terkontrol dan tanpa pertimbangan logis.

Kapasitas seseorang  dalam menangani masalah bukanlah harga mati

Selama masih ada kemauan, kapasitas bisa terus ditingkatkan dan dioptimalkan.  Karena itulah kadang orang berseleroh ketika sedang tertimpa masalah “sedang mau naik kelas nih”. Mungkin hal ini dianggap hanya menghibur diri, tapi kecerdasan dan kreatifitas dalam memecahkan masalah dapat menjadi salah satu faktor pendongkrak kapasitas. 

Faktor yang lain adalah komitmen, konsistensi dan pengalaman. Untuk meningkatkan kapasitasnya seseorang harus punya komitmen yang kuat, untuk terus bekerja keras, untuk tetap jujur dan tidak egois. Tanpa komitmen tidak orang yang dapat memanfaatkan kapasitasnya.  Dan komitmen butuh konsistensi. Tanpa konsistensi sebuah kerja akan sia-sia.   Dan akhirnya semua masalah akan menjadi pengalaman. Menjadi guru untuk menyambut masalah-masalah berikutnya.

Dengan kapasitas yang semakin meningkat dan kapabilitas yang semakin terasah, maka masalah bukan lagi menjadi beban.  Masalah adalah tantangan.  Masalah adalah pelajaran.  Masalah juga karunia karena dengan masalah kita semakin mendekat kepada Sang Pencipta.  Pantas saja jika Nabi pernah berkata, “Jika seseorang tahu ada apa di balik musibah atau masalah yang dihadapinya, tentu dia akan menghadapi musibah atau masalah itu dengan tersenyum”. Selanjutnya, percayalah diantara dua kesulitan selalu ada kemudahan.  Aamiin.

 

*Penulis adalah anggota Polri yang juga pernah menjabat sebagai Police Planning Coordinator di Kantor Markas Besar Polisi PBB New York, Amerika Serikat

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA