Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Jihad Politik Sang Proklamator

Jumat 24 Jan 2014 01:10 WIB

Red: Julkifli Marbun

Tampak ruang tidur Bung Hatta. (Republika Online/fafa)

Tampak ruang tidur Bung Hatta. (Republika Online/fafa)

REPUBLIKA.CO.ID, By: Kuncoro Probojati*

Politik, saat ini menjadi kata yang seolah hina karena perilaku sebagian besar pelakunya, seolah kata ini menjadi kata sifat untuk sesuatu yang buruk, padahal banyak hal baik juga dapat tercipta dari politik, politik sejatinya adalah cara untuk mencapai sebuah visi, dan untuk Indonesia visi itu adalah kesejahteraan rakyat Indonesia.

Pernah mendengar seorang pejabat yang memimpikan membeli sebuah sepatu impian tapi tidak terwujud? Atau mendengar seorang pejabat yang listrik rumahnya dimatikan karena tidak mampu membayar? Mungkin saat ini kita akan sulit mencari sosok pejabat seperti itu, tapi masa-masa awal kemerdekaan sosok seperti itu dapat dengan mudah kita temukan, salah satunya adalah Mohammad Hatta yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Hatta, bapak proklamator kita, wakil presiden pertama negeri ini.

Belajar dari Bung Hatta kita tidak hanya belajar tentang kesederhanaannya tapi belajar tentang perjuangan seorang anak manusia mempertahankan integritas diri, yang membuatnya mengundurkan diri sebagai wakil presiden, tapi tetap cinta dengan bangsa melalui cara mengirimkan surat yang berisi masukan-masukan untuk bangsa ini langsung kepada presiden Soekarno.

Jalan panjang jihad politik yang dilakukan Bung Hatta dalam kehidupannya seharusnya mampu menginspirasi pemuda masa kini, Bung Hatta dalam usia yang masih sangat muda yaitu 26 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa telah mampu membuat sebuah pledoi yang menggetarkan Belanda dengan judul “Indonesia merdeka” yang kemudian dibacakan di pengadilan Den Haag, tanggal 9 Maret 1928.

Saat menjabat sebagai wakil presiden kesederhanaan hidupnya tetap dipertahankan, tidak silau dengan gemerlap harta, kontras dengan beberapa pejabat kita hari ini yang tersandung kasus korupsi, mengambil yang bukan haknya, melukai hati pemilihnya, terus menerus rakus dengan harta kekayaan.

Menyalakan lilin ditengah kegelapan, itu dilakukan Bung Hatta dari masa penjajahan hingga akhir hayatnya, Ide koperasi Indonesia lahir dari buah pemikirannya dengan tujuan menyejahterakan kehidupan rakyat Indonesia, yang luar biasa meskipun sudah tidak menjabat sebagai wakil presiden, masih banyak masukan yang diberikannya untuk kemajuan Indonesia kepada presiden pertama Indonesia.

Bung Hatta adalah role model negarawan Indonesia, salah satu contoh laku hidup seorang negarawan yang dilahirkan dari rahim pertiwi, maka sudah seharusnya kita sebagai penerus perjuangan ibu pertiwi mampu meneladani laku hidupnya.

Mari berproses menjadi negarawan muda Indonesia, belajar berkarya untuk memberikan solusi terbaik bagi permasalahan bangsa, memastikan permasalahan pribadi kita tidak akan menghalangi langkah gerak ini, berjuang menjadi motor penggerak menuju Indonesia yang sejahtera, serta menjadikan diri kita sebagai bukti bahwa politik itu dapat diperjuangkan secara bersih.

*Pegiat Garuda (Gerakan Pembaharu Pemuda), Universitas Sebelas Maret, Peserta Program Internship Mahkamah Konstitusi, Republik Indonesia

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA