Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Deja vu Argentino di Kubu MU

Kamis 30 Jul 2015 07:07 WIB

Red: Didi Purwadi

Kiper Sergio Romero.

Kiper Sergio Romero.

Foto: Forza Italian Football

Oleh: Muhammad Iqbal

Redaktur Republika

Beberapa saat lalu, pelatih Manchester United Louis Van Gaal mengumumkan kedatangan kiper asal Argentina Sergio Romero ke Old Trafford. Romero dikontrak manajemen dengan durasi selama tiga tahun ke depan. Berbicara dalam keterangan pers, Van Gaal mengungkapkan alasan perekrutan Romero.

Penjaga gawang tim nasional Tango itu dinilai Van Gaal sebagai sosok berbakat dan penuh talenta. Di samping itu, sang meneer mengaku telah lama mengenal Romero. Tepatnya ketika menangani AZ Alkmaar medio 2007-2009.  

Saat itu, tepat pada musim 2008/2009, secara fantastis AZ mampu menjuarai Eredivisie mengangkangi tim-tim tradisional semisal Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven maupun Feyenoord. 

"Dia akan menjadi tambahan berarti bagi skuat. Dan saya sudah tidak sabar bekerja sama dengannya," kata Van Gaal dikutip akun Twitter resmi MU, Senin (27/7).  Selain lantaran talenta, perekrutan Romero didasari kemungkinan hengkangnya kiper utama David De Gea maupun sang pelapis Victor Valdes.

Maka, kedatangan si pemain akan menjadi solusi nan tepat. Namun, di sisi lain, kedatangan Romero ibarat Deja vu. Sebuah kata dalam bahasa Prancis yang berarti pernah merasakan atau pernah melihat.  

Dalam konteks United, pinangan terhadap Romero menambah daftar Argentino yang pernah membela the Red Devils. Sebelumnya, pernah ada Juan Sebastian Veron, Gabriel Heinze, Carlos Tevez hingga Angel Di Maria serta Marcos Rojo, yang membela MU. Terdapat benang merah pengait pemain-pemain ini yaitu kegagalan.  

Dari kelima pemain itu, Veron, Heinze maupun Tevez, memang sukses mempersembahkan gelar juara Liga Primer hingga Liga Champions. Namun perlu dicatat, kontribusi ketiganya di dalam skuat teramat minim. Ambil contoh Tevez.  

Tercatat 34 gol dari 99 laga yang dibukukan bersama United. Ditinjau dari rasio, catatan itu tentu berbeda jauh dibanding kiprahnya bersama Juventus (50 gol dari 95 laga). Sementara Di Maria dan Rojo di musim pertama mereka pada 2014/2015, belum memberi sumbangsih apa pun.   

Dalam autobiografinya, pelatih legendaris MU Sir Alex Ferguson pernah mengungkapkan kesulitan menangani pemain asal Argentina. Veron menjadi contoh kasus yang dipaparkan Fergie. Dikatakan Ferguson, meski berstatus bintang, Veron dinilai sebagai sosok yang malas mempelajari bahasa Inggris. "Bersama Veron, dia hanya berkata, "Mister"," kata Ferguson dilansir Daily Mail.

Maka tak heran, setelah dua tahun membela United dari 2001, Veron dilepas dua tahun berselang ke Chelsea. Setali tiga uang. Bersama the Blues, Veron pun gagal bersinar.  

Sementara, kiprah Heinze dan Tevez pun tak bertahan lama. Heinze (2004-2007) dilego ke Madrid pada 2007. Sedangkan Tevez (2007-2009) hengkang ke rival sekota Manchester City jelang musim 2009.

Di Maria dalam beberapa waktu belakangan dikabarkan akan hengkang ke Paris Saint-Germain. Kepindahannya hanya menunggu waktu. Rojo masih harus membuktikan diri pantas menjadi pilar di lini belakang United.  

Bagaimana dengan Romero? Waktu akan menjawab. Satu yang pasti, pemain yang pernah membela Sampdoria itu begitu antusias menyambut lembaran baru karier di Inggris. "Bergabung dengan salah satu klub terbesar di dunia adalah mimpi yang menjadi kenyataan," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA