Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

IADO Turut Kontrol Doping di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2022

Sabtu 24 Sep 2022 21:30 WIB

Red: Muhammad Akbar

Atlet nasional Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kiromal Katibin, berhasil memecahkan rekor sebagai atlet panjat tebing tercepat dunia di International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup 2022.

Atlet nasional Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kiromal Katibin, berhasil memecahkan rekor sebagai atlet panjat tebing tercepat dunia di International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup 2022.

Foto: Dok. Republika
gelaran Piala Dunia Panjat Tebing bergulir di Lot 16-17 SCBD, Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia Anti Doping Organization (IADO) turut terlibat dalam mengontrol doping dalam gelaran Piala Dunia Panjat Tebing atau IFSC Climbing World Cup 2022 yang resmi bergulir di Lot 16-17 SCBD, Jakarta, Sabtu.

Ketua IADO Gatot Dewa Broto mengatakan sesuai dengan ketentuan, ajang olahraga internasional tersebut wajib dilengkapi dengan pelaksanaan kontrol doping.

"Tujuannya memastikan para juara dari setiap kelas yang dipertandingkan tidak terindikasi melakukan atau mengonsumsi zat terlarang sebagaimana dalam daftar yang telah diterbitkan oleh WADA (Badan Anti-Doping Dunia)," kata Gatot di Jakarta, Sabtu (24/9).

Keterlibatan IADO pun tak lepas dari permintaan panitia pelaksana IFSC Climbing Sport Jakarta 2022 melalui surat pada 22 September.

"IADO telah diberi kewenangan sebagai TA (Testing Authority) pelaksanaan doping cotrol terhadap sejumlah atlet tertentu," ujar Gatot menambahkan

Sesuai ketentuan yang di atur Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC), para juara dari empat kategori yang dipertandingkan di IFSC Climbing Sport Jakarta 2022 yakni speed putra dan putri, serta lead putra dan putri bakal menjalani tes doping.

"Plus tentatif ditambah atlet -atlet jika telah memecahkan rekor dunia. Dalam event tersebut, IADO menerjunkan empat DCO (Doping Control Officer) yang sangat berpengalaman di ajang-ajang internasional," kata Gatot.

"Mulai dari pengambilan urine sampel di DCS (Doping Control Station) di area arena perlombaan, penarikan sampel ke IADO dan langsung dikirimkan oleh IADO ke Laboratorium anti-doping yang diakreditasi WADA, yaitu di Bangkok, Thailand," pungkas Gatot.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA