Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Penundaan Olimpiade Bisa Diperpanjang Jika Virus Bermutasi

Kamis 16 Jul 2020 00:30 WIB

Red: Endro Yuwanto

Dua orang berdiri di belakang logo Olimpiade di Tokyo, Jepang. Virus corona telah mengancam kemungkinan terselenggaranya olimpiade di Tokyo.

Dua orang berdiri di belakang logo Olimpiade di Tokyo, Jepang. Virus corona telah mengancam kemungkinan terselenggaranya olimpiade di Tokyo.

Foto: EPA
Penundaan terjadi jika virus corona bermutasi menjadi patogen yang lebih kuat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Olimpiade Tokyo kemungkinan akan menghadapi perpanjangan penundaan jika virus corona bermutasi menjadi patogen yang lebih kuat. Kondisi ini disampaikan penasihat bidang kesehatan Pemerintah Jepang Kiyoshi Kurokawa, Rabu (15/7).

Kemungkinan tersebut disampaikan berkaitan dengan lonjakan jumlah pasien baru-baru ini di Tokyo, yang disinyalir penyebabnya karena kegagalan untuk tetap berpegang pada pedoman kesehatan untuk mencegah penularan.

"Saya pikir virus bermutasi setiap saat, mungkin akan menjadi virus yang jauh lebih kuat dan memicu gelombang (pandemi) kedua. Olimpiade mungkin ditunda lagi, tetapi saya tidak bisa memprediksi," kata Kurokawa seperti dilansir Reuters.

Kurokawa, yang sempat menjabat penasihat sains kabinet Jepang 2006-2008, sudah memberi masukan pada pemerintah tentang pandemi virus, termasuk apa yang terjadi dengan lonjakan korban di Tokyo belakangan ini.

"Menurut saya itu adalah insiden kecil yang terjadi di Tokyo. Kasus baru adalah karena orang tidak mematuhi rekomendasi kesehatan. Tetapi jika itu terjadi karena ada mutasi, maka itu adalah cerita yang sama sekali berbeda. Hal itu bisa terjadi di mana saja di dunia," pungkas Kurokawa.

Sebelumnya, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengatakan bahwa olimpiade harus berlanjut tahun depan sebagai simbol persatuan dunia dalam mengatasi corona virus. Olimpiade Tokyo 2020 semula dijadwalkan dimulai bulan ini, tetapi ditunda sampai 2021 karena pandemi Covid-19.

Lonjakan infeksi di Tokyo, yang menyumbang lebih dari sepertiga dari 23 ribu lebih kasus di Jepang, telah mendorong reaksi terhadap kampanye promosi pariwisata domestik.

Kurokawa mengatakan, pihak berwenang berusaha menyeimbangkan prioritas. "Menurut saya, salah satu kekhawatiran pandemi ini adalah bagaimana caranya mencegah penyebaran infeksi virus. Sisi lain dari masalah ini adalah bagaimana tetap bisa mempromosikan ekonomi. Banyak orang kehilangan pekerjaan," katanya.

Pemerintah Jepang masih berusaha secara hati-hati untuk bisa melaksanakan dua prioritas itu secara seimbang.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA