Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Top Gun: Maverick, Misi Terakhir yang Memacu Adrenalin

Rabu 25 May 2022 14:14 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Poster film Top Gun: Maverick yang dibintangi Tom Cruise. Sekuel film Top Gun ini sudah tayang di Indonesia.

Poster film Top Gun: Maverick yang dibintangi Tom Cruise. Sekuel film Top Gun ini sudah tayang di Indonesia.

Foto: Paramount Pictures
Top Gun: Maverick hadir setelah 36 tahun film pertamanya dirilis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah perilisan film Top Gun pada 1986, rasanya tidak ada satu orang pun yang menyangka bahwa akan ada sekuel lanjutannya 36 tahun kemudian. Terlebih, sinema tersebut bisa dibilang merupakan film klasik yang memiliki jalan dan akhir cerita yang sudah sempurna.

Namun, Top Gun: Maverick menjadi kejutan sekaligus jawaban akan keraguan tersebut. Tiga dekade kemudian, Kapten Pete "Maverick" Mitchell (Tom Cruise), kembali ke belakang kokpit pesawat Angkatan Laut AS (US Navy) dan menyelesaikan misi terakhirnya.

Baca Juga

Setelah lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai salah satu penerbang top US Navy, Maverick diberikan mandat untuk melatih detasemen lulusan Top Gun untuk misi khusus yang belum pernah dilihat dan dilakukan oleh pilot mana pun yang masih hidup. Meskipun hanya bertahan dua bulan sebagai instruktur hampir 30 tahun yang lalu, dia ditugaskan kembali ke Sekolah Senjata Tempur elite alias Akademi Top Gun, di San Diego, yang didirikan pada tahun 1969 untuk melatih 1 persen penerbang Angkatan Laut terbaik.

Maverick bertemu dengan Lt. Bradley "Rooster" Bradshaw (Miles Teller), putra mendiang teman Maverick dan Radar Intercept Officer (RIO) Lt Nick Bradshaw alias "Goose." Dalam film sebelumnya yang disutradarai oleh Tony Scott, Lt. Nick "Goose" Bradshaw dikisahkan tewas dalam kecelakaan pelatihan bersama Maverick.

Menghadapi masa depan yang tidak pasti dan menghadapi hantu masa lalunya, Maverick ditarik ke dalam konfrontasi dengan ketakutan terdalamnya sendiri, yang berpuncak pada misi yang menuntut pengorbanan pamungkas dari mereka yang akan dipilih untuk menerbangkannya. Top Gun: Maverick dinahkodai oleh Joseph Kosinsk.

Tidak berlebihan jika menyebutkan bahwa film ini begitu menyenangkan untuk disaksikan. Semua elemen khas Top Gun maupun ketulusan pembuatan film ini, menghadirkan pengalaman sinematik yang begitu seru.

Sesuai judulnya, film sekuel ini banyak mengulik cerita tentang Maverick, yang masih berusaha pulih dari trauma masa lalu akan kehilangan sahabat dan rekan terbaiknya saat menjalankan misi. Tak hanya itu, sang kapten yang terkenal pemberontak ini juga dihadapkan dengan situasi bahwa anak dari mendiang sahabatnya tetap nekat mengikuti jejak sang ayah, dan berjuang bersama dengan Maverick.

Rasanya seperti rekaman musik yang terulang lagi. Maverick pun berusaha menghadapi hal tersebut, menyusul perintah dan misi terakhir dari angkatan laut.

Di sini, selain bertemu dengan Rooster, Maverick juga bertemu dengan para pilot muda andal dari Top Gun. Selain Rooster, ada pun kandidat untuk misi itu adalah "yang terbaik dari yang terbaik" -- termasuk pilot wanita Phoenix (Monica Barbaro) dan Hangman (Glen Powell).

Dinamika Hangman-Rooster kurang lebih mencerminkan hubungan dan gesekan dari Iceman-Maverick dari Top Gun 30 tahun lalu.

"Ini bukan tentang pesawatnya, tapi pilotnya," menjadi salah satu catch phrase dari film yang terus melekat dari awal hingga akhir. Sebagai salah seorang pilot terbaik di angkatan, Maverick menjadi salah satu inspirasi terbesar dari para juniornya.

Terlepas dari keahliannya, para pilot muda ini memberikan rasa hormat yang tinggi karena sifatnya. Sutradara Kosinski secara apik mampu mengemas drama dan kompleksitas karakter Maverick serta memperkenalkan begitu banyak tokoh baru dalam satu film.

Kosinski bersama penulis dan editor Eddie Hamilton memperhatikan keseimbangan antara drama interpersonal dan manuver penerbangan; hingga adegan-adegan yang dipotong dan disambungkan secara cepat dan taktis.

Tak hanya itu, ia bisa dibilang sukses memuaskan para penggemar Top Gun pertama maupun menggaet penggemar baru tanpa harus kebingungan dengan alur cerita. Bahkan, penonton juga akan disuguhkan penampilan epik dari pesawat tempur taktis F-14 Tomcat yang dikenalkan di film pertama, hingga tipe F-15 yang seakan menggabungkan "bintang" dari film klasik, dan teknologi lama serta baru yang menjadi satu.

Bicara soal visual, tidak berlebihan apabila mengatakan bahwa Top Gun: Maverick menjadi tontonan sempurna jika disaksikan di layar lebar. Penonton benar-benar dibawa Maverick terbang melintasi awan dengan kecepatan tinggi dan visual mengagumkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA