Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Demi Cinta ke Maemunah, Astawana Bangun Rumah dalam Semalam

Selasa 18 Jun 2019 11:22 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Getek-getek mengambang di Sungai Ciliwung

Getek-getek mengambang di Sungai Ciliwung

Foto: arsip nasional
Kisah cinta Maemunah dan Pangeran Astawana menjadi legenda di Condet.

Apa yang Anda pikirkan ketika membaca kata Condet? Tentunya tak jauh-jauh dari salak, dukuh, atau dodol Betawi. Tapi tahukah Anda jika di wilayah yang berasal dari nama sebuah anak sungai Ciliwung yakni Ci Ondet itu, ada kisah cinta di baliknya.

Memang ada banyak kisah cinta di Sungai Ciliwung. Satu dari sekian banyak kisah cinta yang melegenda terjadi di sekitar Batuampar, Condet, yang melibatkan seorang pangeran dan seorang kembang desa.

Ran Ramelan, dalam buku kecil berjudul Condet merawikan, di wilayah yang kini dihuni banyak keturunan Arab itu, ada kelurahan bernama Batuampar dan Balekambang yang melegenda. Dirawikan, ada pasutri bernama Pangeran Geger dan Nyai Polong, punya anak gadis cantik bin botoh yang kesohor seantero dan pojokan kampung-kampung. Namanya Siti Maemunah.

Banyak lamaran jejaka yang ditolak Maemunah. Tapi, suatu waktu dia dilamar Pangeran Tenggara asal Kampung Makasar untuk putranya, Pangeran Astawana.

Namanya kembang desa, apalagi yang ngelamar pengeran, Maemunah menerima lamaran tapi pakai syarat yang sebenarnya mustahal. Dia ingin dibuatkan sebuah rumah dan tempat bersenang-senang di atas empang. Lokasinya dekat kali Ciliwung, dan semua itu harus selesai dibangun dalam semalam. Ceritanya mirip-mirip legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi dan Bandung Bondowoso-Roro Jonggrang.

Lu jual gue beli, kata Pangeran Astawana. Syarat itu disanggupi, dan tak perlu menunggu lama, besoknya sebelum ayam jago berkokok, rumah dengan sebuah bale di atas empang pinggir Ciliwung sudah jadi.

Bahkan, sang pangeran juga mengampari jalan dengan batu sebagai jembatan dari kediamannya ke bale itu. Jalan itu selanjutnya disebut Batuampar, sementara Bale tempat istirahat disebut Balekambang karena terlihat mengambang.

TENTANG PENULIS
KARTA RAHARJA UCU, wartawan Republika

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA