Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Malaumkarta, Sepotong Surga dari Tanah Papua

Selasa 02 Apr 2019 17:16 WIB

Rep: Priyantono Oemar/ Red: Karta Raharja Ucu

Wellem Kalami sedang meniup un untuk memgumpulkan warga, berlatar belakang Pulau Um. Warga berkumpul untuk membangun, tetapi tidak jika harus membabat hutan.

Wellem Kalami sedang meniup un untuk memgumpulkan warga, berlatar belakang Pulau Um. Warga berkumpul untuk membangun, tetapi tidak jika harus membabat hutan.

Foto: Republika/Priyantono Oemar
Masyarakat adat dapat mandiri jika diakui dan diberikan akses legal mengelola SDA

Sehabis makan di rumah Kepala Kampung Malaumkarta saya kembali ke pantai. Beberapa orang dari Dinas PU terlihat melakukan survei di pantai Malaumkarta yang masuk wilayah Kampung Suatolo. "Akan ada proyek jembatan," ujar Ketua Ikatan Kampung Malaumkarta Raya (IKMR) Demas Magablo mengenai keberadaan orang-orang dari Dinas itu di pantai.

Jembatan yang dimaksud Demas adalah jembatan dermaga. Di rumah dinas Bupati Sorong, Kamis (28/2) malam, Bupati Sorong Dr Johny Kamuru menjelaskan, dermaga akan dibangun untuk meningkatkan pelayanan wisata di Malaumkarta. Dermaga itu diperlukan untuk sandar perahu yang mengantar pelancong ke Pulau Um atau sebaliknya.

Pulau Um berjarak sekitar satu kilometer dari pantai Malaumkarta bisa dijangkau menggunakan perahu kecil bermesin 15 PK. Cukup untuk mengangkut 5-6 orang. Pulau kecil berupa hutan ini tak berpenghuni.

Siang hari ada ribuan kelelawar besar tidur di pohon-pohon. "Kalau malam, gantian burung camar dan burung mata merah yang tidur di pulau," ujar Kepala Kampung Malaumkarta Jefri Mobalen.

Menurut Johny Kamuru, pada 2019 memang sudah direncanakan pembangunan infrastruktur pariwisata di Malaumkarta Raya. Akan dibangun pula wisma-wisma penginapan. "Desainnya sudah dibuat, tetapi saya lihat terlalu mewah, sehingga perlu diganti desainnya," jelas Bupati tentang desain wisma penginapan.

Menurut tokoh masyarakat Malaumkarta Benyamin Kalami, lokasi pembangunan sarana pendukung wisata Malaumkarta ada di wilayah pantai. Selama ini, berbagai kegiatan juga sudah dipusatkan di wilayah pantai.

photo
Perahu bermesin 15 PK di kawasan egek laut Malaumkarta. Kawasan egek mencapai tiga mil laut dari garis pantai.

Kamis siang itu, saya kembali ke pantai karena saat makan siang, Adolfina Sapisa memberi tahu ingin memperlihatkan cara mengolah bahan lokal pembuat api. Di pantai, Bendahara IKMR itu memperlihatkan pelepah nibon yang memiliki lapisan lembut. Lapisan lembut itu dikerok kemudian diolah sebagai bahan pembuat api. Membuat api secara tradisional ini bisa dijadikan atraksi wisata.

Pariwisata Malaumkarta, menurut Jefri Mobalen, akan dikelola BUMDes bersama dengan kelompok masyarakat. Untuk tahap awal, BUMDes mengoperasikan angkutan kota Sorong-Malaumkarta memanfaatkan kendaraan bantuan dari Kemendes. Pelancong mandiri bisa memanfaatkan kendaraan ini untuk menjangkau Malaumkarta dari kota Sorong.

Setiap pekan ada ratusan pelancong lokal yang mengunjungi Malaumkarta. Kajian valuasi ekonomi lanskap Malaumkarta yang dilakukan Dr Zuzy Anna memperlihatkan nilai manfaat yang didapat dari pelancong lokal mencapai Rp 660 juta per tahun. Nilai manfaat dari pelancong mancanegara yang menginap di Malaumkarta selama 2014-2017 mencapai Rp 134,4 juta.

Baca Juga: Menjaga Hutan Papua dari Keserakahan Manusia

Selain mengunjungi Pulau Um, pelancong juga bisa melihat dugong yang jumlahnya lebih banyak dibanding dugong di Raja Ampat. Bisa pula menikmati keindahan terumbu karang dan bangkai kapal. Laut Malaumkarta Raya sepanjang tiga mil merupakan kawasan yang mereka lindungi secara adat.

Pelancong juga bisa melihat gua purba. Bisa pula melihat burung cendrawasih di hutan Kampung Malagufuk. Untuk ke Malagufuk, di lokasi terakhir mobil bisa masuk, masih harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer.

"Dari kampung ke hutan lokasi burung cendrawasih, jalan lagi sekitar tiga kilo juga," jelas Demas Magablo.

Lembaga konservasi pun mereka bentuk, meski konservasi secara adat sudah mereka jalankan puluhan tahun. "Kepengurusan konvervasi baru berjalan dua tahun tiga bulan ini," jelas Ketua Konservasi Malaumkarta Raya Robert Kalami.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA