Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Jeritan Budak di Batavia; Hidup Segan, Mati Bunuh Diri

Selasa 12 Feb 2019 14:16 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Gedung Arsip Nasional RI. Gedung ini salah satu saksi bisu kejamnya masa perbudakan di Batavia.

Gedung Arsip Nasional RI. Gedung ini salah satu saksi bisu kejamnya masa perbudakan di Batavia.

Foto: Raisan/Republika
Banyak budak yang memilih bunuh diri karena mendapatkan penyiksaan yang sangat berat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu (Instagram: @kartaraharjaucu)

Baca Juga

Bunyi lonceng yang berdentang dari halaman tengah Gedung Arsip Nasional, seperti 'suara kematian' untuk para budak di masa pemerintahan kolonial Belanda. Setiap 'Lonceng Perbudakan' bernada, semua budak harus siap-siap bekerja yang lebih kepada penyiksaan. Jika lonceng berbunyi dini hari, para budak harus segera bangun sekalipun mereka masih lelah.

Puluhan kamar-kamar berukuran tak lebih dari 3x3 meter menjadi saksi bagaimana perbudakan yang pernah terjadi di Batavia. Letak kamar itu di bagian kiri dan kanan sayap Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat.

Gedung yang jaraknya tak sampai 10 kilometer dari Pasar Ikan, pusat kota Batavia kala itu, dibangun oleh seorang pengusaha yang akhirnya menjadi Gubernur Jenderal Reinier de Klerk (1715-1780). Reiner de Klerk terjun ke dunia politik tahun 1777 dan kemudian menjadi gubernur jenderal Belanda.

Gedung itu sebenarnya adalah sebuah vila yang berada jauh di luar kota. Museum Arsip Nasional panjangnya mencapai 167 meter dan lebar 57 meter. Gedung ini sempat dijadikan kediaman resmi pejabat tinggi Belanda. Namun, setelah de Klerk meninggal pada tahun 1786, gedung itu diserahkan kepada keturunannya.

Gedung ini akhirnya dijual kepada Johannes Sieberg dari Inggris yang kemudian menjadi gubernur jenderal (1801-1805) dan tinggal di gedung ini selama masa pemerintahan Inggris. Hingga hari ini, gedung ini masih tertata rapi dan dilestarikan bentuknya seperti 300 tahun lalu. Dan kamar-kamar itulah tempat para budak tidur, setelah sejak pagi dan malam bekerja tanpa mengenal waktu.

Saat itu, jumlah budak hampir setengah dari jumlah penduduk Batavia. Nasib mereka? Sangat buruk. Tak heran banyak yang memilih bunuh diri karena mendapatkan penyiksaan yang sangat berat.

Di masa itu, keuntungan jual beli budak sangat menggiurkan. Perdagangan manusia itu pun menjadi lahan bisnis bagi nyonya de Klerk.

Ketika serdadu atau kelasi VOC jadi warga Batavia, ambisi mereka adalah memiliki satu atau dua orang budak. Dan, celaka bagi para budak jika jatuh ke tangan mereka. Karena, dipaksa kerja siang malam tanpa istirahat.

Mereka menyiksa para budak yang malang dengan begitu kejamnya, sehingga sebagian besar putus asa dan bunuh diri. Bernand Dorleans dalam buku Orang Indonesia–Orang Prancis menuturkan, ketika ia berada di Batavia ada budak yang gantung diri, dan dua budak menggorok lehernya sendiri.

Jika para pria merupakan penyebab para budak bunuh diri, maka para wanita majikan lebih kejam lagi. Mereka bersenang-senang dengan membunuh sendiri para budak serta memuaskan mata-mata mereka dengan tontonan yang lebih menyeramkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA