Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Menjaga Hutan Papua dari Keserakahan Manusia

Sabtu 30 Mar 2019 05:37 WIB

Rep: Priyantono Oemar/ Red: Karta Raharja Ucu

Sagu menjadi pangan lokal andalan masyarakat adat Moi Kelim. Beras bukan makanan pokok mereka.

Sagu menjadi pangan lokal andalan masyarakat adat Moi Kelim. Beras bukan makanan pokok mereka.

Foto: Republika/Priyantono Oemar
Masyarakat Suku Moi di Sorong, Papua bersikukuh memelihara hutan sebagai kebutuhan

Permenas Pa menggambarkan betapa kuatnya orang Moi. Noken yang berisi barang bawaan atau anak ditaruh di punggung lalu talinya dikaitkan di kepala. "Jika datang hujan, anak tetap di dalam noken, lalu mama-mama suku Moi pakai kalik dala,’’ ujar Permenas sambil memperagakan cara memakai kalik dala.

Kalik dala merupakan tikar yang bisa dijadikan payung, bahannya diambil dari hutan. Kamis (21/2) pagi, Agustina Salamala memperlihatkan keterampilan membuat kalik dala. Yosmina Do dan Sarah Su memperlihatkan keterampilannya membuat noken khas suku Moi Kelim dari kulit kayu. Perempuan Moi Kelim yang lain membantu memperlihatkan cara mengeringkan daun sintu --bahan kalik dala-- agar tidak keriting.

Adolfina Sapisa datang membawa sebatang kayu, kemudian mempertontonkan cara mengupas kulit kayunya. "Ini pohon tumbuh sendiri di hutan, tidak kami tanam,’’ ujar Adolfina, saat mengupas kulit kayu dengan pisau.

Hutan sudah lama menjadi andalan bagi kehidupan mereka. Produk kerajinan yang mereka buat bisa mereka jual, tapi selama ini lebih banyak untuk kebutuhan pribadi. "Kalik dala bisa dijual Rp 100 ribu, kalik lagi bisa Rp 200 ribu,’’ ungkap Adolfina menyebut harga tikar kecil untuk laki-laki (kalik dala) yang juga dijadikan payung dan tikar besar untuk perempuan (kalik lagi).

Bahan makanan juga ada di hutan. Masyarakat Malaumkarta di Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Papua Barat, itu masih mengandalkan sagu dan umbi-umbian yang tersedia di hutan. "Sembilan puluh persen kebutuhan pangan kami masih mengandalkan sagu dan ubi," ungkap Kelapa Kampung Malaumkarta, Jefri Mobalen.

Troyanus Kalami, anggota DPRD Kabupaten Sorong 2014-2018 dari PKB yang kini menjadi calon anggota DPRD Kabupaten Sorong dari Partai Hanura, mengaku berhenti makan nasi di usia 12 tahun. Sejak itu ia kembali makan sagu.  Hingga kini, Tori –panggilan akrab pria berasal dari Malaumkarta itu-- sudah 30 tahun menjadikan sagu sebagai makanan pokok.

Malaumkarta semula hanya satu kampung, setelah pemekaran bertahap sejak 2011, sekarang menjadi lima kampung. Yaitu Malaumkarta, Suatolo, Mibi, Suatut, dan Malagufuk. Empat kampung ada di wilayah pantai, satu kampung lagi di wilayah gunung. Lima kampung ini tetap bersepakat menjaga laut dan hutan. "Sehingga kesatuan terjaga," ujar Tori.

Masyarakat lima kampung yang terikat dalam persekutuan Ikatan Kampung Malaumkarta Raya (IKMR) itu bahu-membahu menjaga laut dan hutan. Tua-muda, laki-perempuan, aparat kampung, dan warga, semua menunjukkan kepedulian. "Biar alam di Malaumkarta Raya tak rusak," ujar Ketua IKMR Demas Magablo.

Keberhasilan menghentikan perburuan penyu juga karena faktor kesepakatan bersama itu. Berburu penyu dijadikan pantangan. Melanggar pantangan, dipercaya bisa berakibat fatal, misalnya meninggal dunia. Denda juga diberikan kepada pelanggar, biasanya berupa kain senilai di atas Rp 2 juta.

Pernah ada kasus, ada keluarga yang mengambil penyu, kemudian anaknya meninggal. Ambil penyu lagi, anaknya meninggal lagi. "Dua anak meninggal, langsung minta doa pengampunan ke gereja," ungkap Kepala Badan Musyawarah Kampung Malaumkarta, Everadus Kalami.

Everadus menjelaskan, masyarakat menjaga laut dan hutan dengan kearifan lokal yang disebut egek. "Kami menyebutnya egek untuk laut dan hutan, tapi orang Indonesia timur pada umumnya menyebut sasi," ujar Everadus.

Tak ada alat tangkap modern yang dipakai untuk mengambil hasil laut. Ketika musim panen tiba, 100 persen hasilnya dipakai untuk kebutuhan gereja. "Janjinya langsung dengan Tuhan, jadi kalau ada yang melanggar urusannya dengan Tuhan langsung," ujar Everadus.

Dari panen egek, mereka mendapat sekitar Rp 300 juta. Tripang menghasilkan Rp 194,58 juta, lobster Rp 105,48 juta, dan lola sekitar Rp 400 ribu. Pada 2008 panen egek hanya menghasilkan sekitar Rp 9,5 juta.

Warga masih bisa mengambil ikan tiap hari di sepanjang musim untuk kebutuhan sehari-hari di luar musim buka egek. Namun mereka tak boleh mengambil lobster, tripang, dan lola (kerang) jika belum waktunya egek dibuka di bulan Mei.

"Ikan ini hasil ambil tadi malam. Saya yang menyelam sendiri," ujar Tori, tentang ikan yang disajikan untuk makan siang kami di Malaumkarta, Rabu (20/2) siang.

Masyarakat suku Moi, kata Adolfina Sapisa, tak bisa hidup seperti orang Jawa. ‘’Di sini perlu menyelam untuk menangkap ikan,’’ ujar ibunda Tori itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA