Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Terkuaknya Situs Purbakala Mpu Sendok di Proyek Tol

Rabu 13 Mar 2019 06:07 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Karta Raharja Ucu

Petugas Badan Pelestarian Cagar Budaya(BPCB) Trowulan melakukan eskavasi di situs purbakala yang ditemukan saat pembangunan proyek jalan tol Malang-Pandaan di kilometer 35, Sekaran, Pakis, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/3/2019).

Petugas Badan Pelestarian Cagar Budaya(BPCB) Trowulan melakukan eskavasi di situs purbakala yang ditemukan saat pembangunan proyek jalan tol Malang-Pandaan di kilometer 35, Sekaran, Pakis, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/3/2019).

Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Situs itu diyakini dulunya milik orang berada.

REPUBLIKA.CO.ID, Temuan situs purbakala menghentikan pengerjaan Tol Pandaan-Malang di wilayah Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang. Situs itu berada di tebing tanah yang batu batanya berserakan dan terlihat jelas akibat pengerukan tak sengaja dari kendaraan proyek pengerjaan tol. Situs purbakala itu diprediksi menjadi tempat penting di pemerintahan Mpu Sendok, Kerajaan Medang.

Di antara lahan luas dan sejumlah kendaraan proyek yang hilir mudik, terdapat satu titik yang dibatasi dengan garis plastik hitam-kuning. Titik itulah yang baru-baru ini menggegerkan warga Malang atas temuan situs purbakala. Lokasi ini tadinya hendak direndahkan agar pembangunan jalan tol sesuai yang diharapkan. Namun, karena adanya temuan ini, pengerjaan di lokasi tersebut harus dihentikan sementara.

Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menilai, nama Desa Sekarpuro sebenarnya menarik untuk dicermati. Sekarpuro memiliki unsur sebutan 'pura' di dalamnya yang dalam bahasa Jawa kuno dikenal dengan kata 'puro'.

"Di sekitarnya juga terdapat empat dusun atau desa lainnya yang memiliki unsur 'pura'atau 'puro' di dalam," katanya.

Sekarpuro di sebelah utara, Madyo puro unsur sebutan madya berarti berada di tengah. "Kemudian ada Lesanpuro di selatan dan Ngadipuro di timurnya Madyopuro," kata Dwi.

photo

TEMUAN SITUS MAJAPAHIT: Lokasi penemuan situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang. Reruntuhan purbakala ini berada di atas lahan proyek tol Pandaan-Malang.

Jika ditelisik lebih mendalam, dusun 'puro' atau 'pura' mestinya berjumlah lima sesusai dengan konsep empat arah angin dan satu titik pusat. Di antara sebutan 'puro' di desa atau dusun tersebut, Dwi justru hanya mengetahui empat wilayah. Dia tak menemukan sebutan serupa di wilayah barat yang kini dikenal dengan daerah Sawojajar, Kota Malang.

Kata 'puro' atau 'pura' dalam bahasa Jawa kuno sendiri artinya kota. Hal ini berbeda jauh dengan makna terkini yang dipakai sekarang, yakni bangunan suci. Kata 'puri' yang kini lebih dikenal sebagai makna permukiman justru berarti bangunan suci di masa lampau.

Berdasarkan analisis bahasa tersebut, Dwi berpendapat, desa yang mengandung kata 'pura' atau 'puro' jelas memiliki makna permukiman. "Area permukiman, ini kalau ngomong peradaban. Pertanyaannya, apakah daerah ini punya perjalanan sejarah sebagai area peradaban atau budaya lama-lama?" ucap Dwi.

Dwi memperkirakan, dusun-dusun tersebut setidaknya pernah menjadi tempat penting di pemerintahan Mpu Sendok, Kerajaan Medang. Sebab, pada masa tersebut diketahui terdapat beberapa 'watak' yang berarti suatu tempat yang secara administrasi di bawah kendali raja. Watak biasanya dipimpin seseorang yang memiliki gelar 'rakai'.

Di era Mpu Sendok, Dwi melanjutkan, terdapat watak bernama Tugaran yang saat ini dikenal dengan sebutan Tegaron. Lokasi ini berada di Lesanpuro atau sebelah selatannya Madyopuro, Kota Malang. Hal ini menggambarkan begitu banyak desa yang berada di bawah naungan Watak Tugaran.

Menurut Dwi, peradaban mulai menguat di era Mpu Sendok atau paruh pertama abad 10. Kemudian terus berkembang setelah memasuki masa Kerajaan Majapahit.

photo

TEMUAN SITUS MAJAPAHIT: Lokasi penemuan situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang. Reruntuhan purbakala ini berada di atas lahan proyek tol Pandaan-Malang.

Ihwal bangunan yang ditemukan di Sekarpuro, kata dia, kemungkinan berdiri di antara era keemasan atau masa akhir Majapahit. Dari sisi struktur bata, ia meyakini konsep tersebut serupa dengan Majapahit. Keyakinan ini terlepas dari penilaian keramik, koin, dan temuan lainnya nanti.

Masih pada aspek struktur bata, Dwi juga menilai, konsep bangunan terlihat lebih kuat. Pondasi bangunan kemungkinan memiliki lebih dari empat lapisan. Jika terbukti demikian, kata dia, bangunan ini dimiliki 'orang berada' atau kelas menengah ke atas.

Menurut Dwi, wilayah Sekarpuro saat ini masih didominasi dengan pertanian. Kondisi tersebut sepertinya tak jauh berbeda dengan masa lalu. Mata pencaharian ini membuat warga di desa tersebut relatif maju dibandingkan lainnya di era tersebut.

Desa maju karena pertanian yang lahannya juga subur. Wilayah ini berada di lembah selatan dan barat dari Semeru Tengger lalu dilalui sungai, Kali Amprong dan sungai- sungai kecil lainnya. "Desa ini maju pada zamannya karena itu wajar ada barang mahal dari Cina," ujarnya.

photo

Petugas Badan Pelestarian Cagar Budaya(BPCB) Trowulan melakukan eskavasi di situs purbakala yang ditemukan saat pembangunan proyek jalan tol Malang-Pandaan di kilometer 35, Sekaran, Pakis, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/3/2019).

Warga Sekarpuro, Yanto (50 tahun), menceritakan, sejak dulu selalu mendengar cerita adanya peninggalan sejarah di sekitar tempat tinggalnya. Dia tidak tahu persis di mana letaknya, tapi meyakini berada di bawah tanah. Perkiraan ini pun terbukti dengan adanya informasi yang terdengar belum lama ini. "Baru tahu pas pengerukan," kata dia saat ditemui Republika.co.id di Sekarpuro, Malang, Ahad (10/3).

Yanto tak menyangka, titik penemuan situs Kerajaan Majapahit berada di lokasi terpencil ini. Sebab, lahan tersebut tadinya hanya wilayah yang penuh dengan tanaman liar. Sangat jarang menemukan warga yang mau berkeliaran di tempat-tempat tersebut.

Selain batu bata, Yanto sempat mendengar adanya temuan sejumlah koin di titik lain lahan tersebut. Uang kuno yang tengahnya ada lubang, itu adanya di pengerukan sisi lain. "Keramik juga ada tapi hancur. Kita tahunya pas sudah rusak," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA