Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Hari Istiqlal

Situasi Politik Bikin Pembangunan Istiqlal Molor 17 Tahun

Sabtu 23 Feb 2019 04:33 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Karta Raharja Ucu

Seorang pria shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta.   (ilustrasi)

Seorang pria shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta. (ilustrasi)

Foto: Antara
Situasi politik membuat pembangunan Istiqlal molor selama 17 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang artinya merdeka. Presiden Sukarno memang menginginkan sebuah masjid megah untuk Indonesia.

“Bung Karno (Soekarno) ingin bangun masjid yang megah. Masjid Istiqlal atau kemerdekaan,” kata sejarahwan Alwi Shahab.

Seperti dilansir di laman Istiqlal.id, Masjid Istiqlal dibangun untuk meghormati para pejuang Muslim yang gugur selama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Masjid Istiqlal juga menggambarkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat berupa kemerdekaan bangsa.

Pembangunannya dimulai memasang tiang pemancang pada 24 Agustus 1961, atau bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, karena situasi politik saat itu, pembangunannya menjadi tersendat. Setelah 17 tahun, pembangunan dinyatakan selesai. Presiden Soeharto meresmikan penggunaannya pada 22 Februari 1978.

Istiqlal mampu menampung jamaah hingga 200 ribu. Istiqlal memilki gaya arsitektur modern. Dinding dan lantai berlapis marmer, dan berhias ornamen geometrik dari baja anti karat. Bangunan utama masjid memiliki kubah berdiameter 45 meter. Angka itu melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia, yakni 1945.

Baca Juga

photo
Teknisi membersihkan kubah masjid menggunakan peralatan khusus di Masjid Istiqlal, Kamis (15/12).

Kubah tersebut ditopang 12 tiang disusun melingkari tepi dasar kubah. Angka 12 melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni 12 rabiul Awwal, serta melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam dan Masehi.

Terdapat empat tingkat balkon dan satu lantai utama yang melambangkan lima Rukun Islam, serta Pancasila. Istiqlal memiliki tujuh pintu masuk yang diberi nama bersarkan Asmaul Husna, yakni Al Fattah, As Salam, Ar Rozzaq, Al Quddus, Al Malik, Al Ghaffar, dan Ar Rahman. Angka tujuh melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam, serta tujuh hari dalam sepekan.

Istiqlal memiliki dua bangunan masjid, yakni bangunan utama dan pendamping, seta kubah utama dan pendamping. Angka dua melambangkan dualisme saling berdampingan dan melengkapi, yakni langit dan bumi, akhirat dan duniawi, batin dan lahir, serta dua bentuk hubungan penting antara manusia dan hablum minallah (Tuhan), hablum minannas (sesamanya). Sebab, Islam tidak hanya urusan agama, tetapi juga memperhatikan urusan duniawi, kesejahteraan, keadilan, kepedulian sosial, hukum, pengetahuan, dan kehidupan sehari-hari.

Istiqlal hanya memiliki satu menara, yang melambangkan Keesaan Allah SWT. Menaranya berlapis marmer dan berdiameter lima meter. Menara memiliki ukuran 66,66 meter (6.666 cm) yang melambangkan jumlah ayat dalam Alquran. Kemuncak yang memahkotai menaranya terbuat dari kerangka baja setinggi 30 meter. Anga tersebut melambangkan jumlah 30 juz dalam Alquran. Sehingga, total tinggi menara sepanjang 96,66 meter.

Istiqlal juga menyimpan beduk raksasa, yang dinobatkan sebagai yang terbesar di nusantara. Bedug itu memiliki panjang tiga meter, berat 2,30 ton, memiliki diameter dua meter di depan dan 1,71 meter di belakang. Bedug terbuat dari kayu meranti merah yang diambil dari pohon berumur 300 tahun. Konon, pohon itu berada di hutan Kalimantan Timur.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA