Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Seteru Seru Jenderal Soedirman vs Jenderal Spoor

Ahad 27 Jan 2019 20:11 WIB

Red: Bayu Hermawan

Panglima Soedirman, dan para prajurit di Sobo, Jawa Tengah, sebelum kembali ke Yogyakarta.

Jenderal Soedirman (kiri) dipeluk oleh Presiden Soekarno semasa kepulangannya di Yogyakarta.

Foto: Wikipedia
Meski belum bertemu langsung, Spoor sangat jengkel dengan Soedirman.

Panglima berpulang

Setahun kemudian, Panglima Besar Jendeal Soedirman berpulang. Kondisi Panglima memang tak bisa pulih seperti sediakala, terutama usai gerilya. Otomatis, antara 1949–1950, Soedirman banyak menghabiskan waktu dirawat di berbagai tempat. Seperti yang ditulis oleh Tjokropranolo dalam buku "Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia Kisah Seorang Pengawal" (1993) dan Sardiman dalam buku "Panglima Besar Jenderal Soedirman Kader Muhammadiyah" (2000).

Di saat-saat akhirnya, Pak Dirman sempat dirawat di sanatorium Pakem, Yogyakarta Utara. Kemudian, ia dipindahkan ke rumah peristirahatan di Badaan, Magelang. Di sini pun sang Panglima masih terus dikunjungi berbagai tokoh untuk berdiskusi. Soedirman selalu mengikuti perkembangan politik Republik lewat radio dan surat kabar.

Pertemuan terakhirnya adalah dengan Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat Abdoel Halim pada Sabtu 28 Januari 1950. Sehari setelah pertemuan itu, kondisi kesehatan Panglima Besar turun drastis. Sepanjang hari ia kritis, sampai akhirnya pada Ahad, 29 Januari, sekitar pukul 18.30, ia berpulang.  Soedirman wafat, Presiden Sukarno sedang dalam kunjungan ke India bersama rombongan. Yang mengambil peran memberikan pidato penghormatan adalah Bung Hatta pada malam itu juga.

"Inna lillahi wainna ilaihi rojiun, Dengan terperanjat dan merasa sedih kita menerima berita malam ini, bahwa Letnan Jenderal Soedirman meninggal dunia. Sungguh pun sudah lama dikhawatirkan bahwa penyakitnya tak mungkin sembuh lagi, wafatnya hari ini masih mengejutkan," ucap Bung Hatta kala itu.

"Saya kenal Jenderal Soedirman sebagai yang keras hati, tetap kemauan. Dalam melakukan kewajibannya ia tak pernah mengingat dirinya sendiri, malahan senantiasa berpedoman pada cita-cita negara. Demikian hebat ia mementingkan kewajibannya sehingga ia menyia-nyiakan kesehatannya. Akhirnya ia kena penyakit TBC yang menewaskan jiwanya sekarang. Sungguh pun dalam sakit ia masih sempat meninggalkan Yogya pada permulaan aksi militer kedua dan memimpin perang gerilya dari pegunungan. Jarang orang yang begitu keras hatinya dan begitu setia memenuhi kewajibannya," ujarnya melanjutkan pidato.

Prosesi pemakaman Pak Dirman berlangsung ramai. Di seluruh pelosok dikibarkan bendera Merah Putih setengah tiang. Dari Magelang, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta dikawal 4 tank, 8 truk berisi prajurit, dan 80 mobil rombongan. Sepanjang jalan, warga memberikan penghormatan terakhirnya kepada putra Banyumas ini.

Senin siang, konvoi tiba di Masjid Besar Kauman. Peti sukar masuk karena ribuan orang memenuhi masjid hingga ke halaman. Semua ingin menshalatkan jenazah Soedirman. Bagi warga Muhammadiyah Kauman, Soedirman sosok yang akrab sekali. Sejak kecil, Soedirman sudah bersentuhan dengan warga Muhammadiyah dan aktif berorganisasi.

Dari Masjid Kauman, jenazah Soedirman dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara. Digambarkan, konvoi peti jenazah Soedirman berjalan amat pelan karena saking banyaknya rakyat yang menyertai ke taman makam.

Sekilas tampak dua orang asing dalam pemakaman, yakni Jenderal Mayor Mollinger dan Mayor Ansidei. Mollinger adalah seteru tentara Republik karena merupakan anak buah Spoor saat agresi Belanda. Upacara pemakaman Soedirman ditutup oleh pidato Menteri Pertahanan RIS Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

ed: stevy maradona

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA