Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Cacat Lafal Memperkaya Bahasa Indonesia

Senin 14 Jan 2019 16:14 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Foto: Republika/Prayogi
Selain mengadopsi diksi asing, kata Indonesia juga diserap negara lain.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Dalam bahasa Portugis, coco artinya monyet. Belanda mengadopsinya menjadi kokos, ketika Portugis memakai kata itu untuk menamai buah kelapa. Latin kemudian memberi nama Kokos nucifera.

Orang Portugis yang menemukan pohon kelapa melihat bentuk ujung buahnya menyerupai wajah monyet yang menyengir (een grijnzend apengezicht). Karena itulah kemudian menyebutnya sebagai coco lalu memperkenalkan kepada dunia.

Kamus Inggris menulis pertama kali cocoa-nut, karena kesalahan. De Telegraaf (3/5/1942) menulis, pencetak kamus Inggris yang belum mengenal kata coco-nut mengira penulisnya salah ketik, sehingga menambahkan a di belakang coco, jadilah cocoa-nut hingga kini.

Meski telah memiliki kokos, Belanda juga masih mengadopsi kelapa dari Melayu menjadi klapper. Melayu mengambil kelapa dari Sanskerta, kalapa, yang artinya tundun/tandan.

photo

Buah Kelapa

Kelapa bukan satu-satunya yang diambil Belanda dari Indonesia. Perahu diambil menjadi prauw, kakatua menjadi kakketoe, kapuk menjadi kapok, rotan menjadi rotting, sobat menjadi soebatten, musim menjadi moeson.

Pienter didapat Belanda dari Jawa, pinter. Thee juga diambil dari Melayu, setelah Melayu mengadopsinya dari Cina, te. Babu juga ada di bahasa Belanda, baboe, demikian pula babi (babi) dan kuli (koeli).

Indonesia juga menyumbang tempe menjadi tempeh dalam bahasa Inggris, bambu menjadi bamboo. Inggris mengambilnya dari Belanda, bamboe, dan Belanda mengambilnya dari Melayu, bambu. Kampung juga menjadi kampong, amuk menjadi amok, kecap menjadi ketchup. Kecap diambil Melayu dari Cina, kuchiap.

Baar, norenbaar, oorlam, pagaaien, lorre, guttapercha, amper, pampoesjes, pitsjaar, dan bakkeleien, juga berasal dari Melayu. Baar dari baru. Norenbaar dari orang baru. Oorlam dari  orang lama. Pagaaien dari pengayuh. Lorre dari lori. Guttapercha dari gutta dan percha. Gutta dari getah, percha dari perca, pohon di Pulau Perca, nama populer Pulau Sumatra di masa lalu.

Untuk amper, diambil dari hampir. Pampoesjes (sepatu dansa, yang di bahasa Prancis, babouches) diambil dari bahasa Jawa, pampus (sepatu tanpa hak). Jawa mengambil dari Persia papoesj. Pitsjaar dari bicara. Sedangkan bakkeleien (berkelahi), menurut Faqir Oemar, "Adalah hasil korupsi dari berkalahi (dari kalah)."

Java Bode pernah menurunkan tulisan Faqir Oemar itu di pengujung abad ke-19. Tulisannya membahas soal cacat lafal orang-orang Indonesia saat bersentuhan dengan kata-kata Belanda dan sebaliknya. Kata-kata cacat lafal itu kemudian mendapatkan pengakuan dalam bahasa Melayu --kemudian dalam bahasa Indonesia. Juga mendapat pengakuan di bahasa Belanda.

"Penduduk asli di Batavia mengucap setom untuk stoom, kependekan dari stoomtram (trem uap yang sering cukup disebut trem), koeran (courant), sampanni (champagne), jenewer (jenever), telepon  (telefoon), kastrol, sado (dos-a-dos) , dan lain-lain," tulis Faqir Oemar di Java Bode (17/10/1896) itu .

Telefoon yang diserap menjadi telepon dan tafellaken menjadi taplak, polanya diikuti oleh kata lain terkait perubahan f menjadi p. Tak perlu merasa bersalah mengakuinya sebagai kata-kata baku dalam bahasa Indonesia, meski sama sekali tak memenuhi kaidah penyerapan.

Ada stoof yang menjadi setup, slof menjadi selop, stofmap menjadi stopmap (tapi di KBBI diambil kata pendeknya, map). Kata dengan banyak huruf seperti officier dan schauffier, menjadi ringkas dalam bahasa Indonesia, yaitu opsir dan sopir.

Ada pula kamfer yang menjadi kamper, koffie menjadi kopi, fabriek menjadi pabrik, frikkadel menjadi perkedel, komfoor menjadi kompor, servet menjadi serbet, stevel menjadi setiwel, dan sebagainya. Palsu juga diambil dengan mengubah f menjadi p.

Kata aslinya dari Latin, falcus. Portugis mengambilnya menjadi falso. Di Prancis pada abad ke-12 menjadi fals. Kemudian ke Inggris menjadi fail, fault, dan false. Di Belanda menjadi vals. Indonesia mengenalnya dari Portugis di abad ke-16. Semuanya berarti salah.

Dalam keseharian kita mengenal fals, tetapi tidak dicatat di KBBI. KBBI mencatat suara sumbang untuk makna suara fals.

Indonesia juga mengambil bandit dari Belanda, bandiet (orang yang diasingkan). Bandiet diambil Belanda dari Italia, bandito, bentuk lampau dari bandire yang diartinya dibuang. Bandito kemudian juga dimaknakan kepada orang yang dibuang karena kejahatannya. Di opera-opera, sosok jahat digambarkan memakai topi dengan tepi yang lebar, mengikat syal merah di lehernya.

Kusir juga diambil Melayu dari Belanda, koetsier. Kata aslinya dari Hongaria, kocs, yaitu nama tempat di Hongaria untuk armada kereta kekaisaran. Kereta itu ditarik empat kuda. Di Belanda menjadi koets yang artinya kereta kuda. Di Inggris menjadi coach, Jerman kutsche, Prancis coche yang memiliki arti pelatih. Mengendaarai kereta kuda termasuk pekerjaan sulit, memerlukan kemampuan seorang pelatih. Jerman kemudian mempunyai kata kutscher dan Belanda koetsier, yang berarti kusir.

Di Melayu, kusen juga diambil dari Belanda, kozijn. Ada pula baskom yang berasal dari waskom. Waskom berasal dari was (cuci) dan  kom (mangkok). Di KBBI menjadi baskom. Ada pula beschuit (roti panggang) yang menjadi biskuit.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA