Saturday, 12 Ramadhan 1442 / 24 April 2021

Saturday, 12 Ramadhan 1442 / 24 April 2021

Simbol Islam:Rayah-Liwa, Lasykar Hizbullah dan Kerajaan Aceh

Selasa 23 Oct 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Lasykar Hizbullah dengan bendera tauhidnya dalam parade di Markas Besar TKR/BKR di Yogyakarta pada masa perjauangan kemerdekaan.

Lambang bulansabit di masjid Tyurki

Foto:
Bendera berlalafaz kalimat Syahadat lazim dalam kazanah Muslim Indonesia sejakdahulu.

Sedangkan di Indonesia, bendera dengan lafadh kalimat Sahadat pun sudah lazim digunakan. Bahkan keakrabanya itu sama dengan pekikan lafal takbir 'Allahu Akbar' dan teriakan 'Merdeka' yang populer melalui pidato berapi-api Bung Tomo beberapa hari sebelum peristiwa palagan Surabaya pada 10 November 1945.

Nah, bendera dengan lafaz Syahadat itu juga telah dipunyai laskar Hizbullah yang merupakan salah satu lasykar yang kemudian membentuk TNI. Bendera Hizbullah dengan tulisan kalimat ini sangat akrab pada masa perjuangan kemerdekaan. Tak hanya bendera lafaz ini pun disertakan dalam bentuk pin atau emblem yang dipasang di atas saku baju.

photo
PIN Anggota Lasykar Hizbullah (wajib baca.com)
Kemeriahan dan eskitensi bendera Hizbullah yang bertuliskan lafaz syahadat itu tampak jekal pada jejak foto lama ketika para laskar berparade di Markas Besar TKR/BKR (sekarang jadi museum) di Yogyakarta ketika kota budaya ini menjadi ibu kota RI. Di gambar itu terlihat bendera Hizbullah dibawa secara gagah dalam sebuah parade oleh para anggota lasykar Hizbullah.

Dalam laman majalah yang menuliskan peristiwa sejarah secara populer, 'Majalah Historia', disebutkan insiatif penggunaan nama hizbullah sebagai entitas politik mulai muncul di era kekuasaan Jepang. Ceritanya, pada 13 September 1943 sepuluh ulama (KH Mas Mansyur, K.H. Adnan, Dr.Abdul Karim Amrullah, KH Mansur, KH Mochtar, KH Chalid, KH Abdul Madjid, KH Jacub, KH Djunaedi dan KH Sodri) mengajukan permohonan kepada Saiko Shikikan (Panglima Tentara Jepang di Indonesia) agar umat Islam diizinkan membentuk “Barisan Penjaga Pulau Jawa” guna menghadapi serangan Inggris, Amerika Serikat dan Belanda.

“Barisan ini rencananya akan diatur menurut ketentuan Islam,” ujar Abdul Qadir Djaelani.

Berbeda dengan pengajuan pendirian pasukan PETA (Pembela Tanah Air) oleh tokoh nasionalis Gatot Mangkupradja yang langsung disetujui, pembentukan sebuah milisi Islam tidak langsung diamini oleh pemerintah militer Jepang. Alih-alih diterima, menurut pengamat sejarah Zainul Milal Bizawie usul tersebut malah cenderung mendapat penolakan. Situasi itu menimbulkan kekecewaan di kalangan para tokoh Islam.

“Karena sudah lama para kiai, ulama dan para santri menginginkan terbentuknya suatu barisan sukarela dari kalangan Islam mengingat dalam kajian-kajian di pesantren membela tanah air merupakan sebagian dari pada iman,” ungkap Bizawie dalam Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakan Indonesia (1945-1949).

Namun perkembangan-perkembangan situasi menjadikan Jepang merubah kebijakan. Tidak adanya kemajuan signifikan dari pergerakan militer mereka di palagan Pasifik dan munculnya pemberontakan besar kalangan kiyai dan santri pimpinan KH Zaenal Moestofa di Singaparna, Tasikmalaya, (Jawa Barat) pada Februari 1944, membuat Jepang memperlunak sikap terhadap kalangan Islam. Maka pada 8 Desember 1944 secara resmi pemerintahan militer Jepang mengumumkan terbentuknya pasukan khusus sukarela Islam, di bawah koordinasi Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia).

“Kesatuan sukarela khusus Islam itu dinamakan Hizbullah atau Tentara Allah, dengan format sebagai korps cadangan untuk kesatuan PETA,” ujar Bizawie.

Awal Januari 1945, Masyumi mengumumkan terbentuknya Dewan Pengurus Pusat Hizbullah yang dipimpin oleh KH Zaenal Arifin dan Muhammad Roem sebagai wakilnya. Sebagai komandan dan wakil komandan pelatihan, diangkatlah KH Mas Mansyur dan Prawoto Mangkusasmito. “Atas persetujuan militer Jepang, pusat pelatihan Hizbullah yang pertama dibentuk di kawasan Cibarusa, Bogor,” ungkap Abdul Qadir Djaelani.

Kamp Cibarusa didirikan untuk melahirkan opsir-opsir Hizbullah yang pertama. Pada tahap awal sekira 500 pemuda Islam (berusia antara 18-21 tahun) dari 25 Keresidenan di Jawa dan Madura telah mendaftar sebagai peserta. Mereka lantas dididik dengan ilmu-ilmu kemiliteran dan doktrin-doktrin keislaman oleh para kiyai yang sebelumnya telah masuk PETA. Para instruktur ini menjalankan kerja-kerjanya di bawah supervisi seorang perwira Jepang berpengalaman. Namanya Kapten Yanagawa.

Berbeda dengan pendidikan PETA yang menyertakan kegiatan seikerei (ritual penghormatan tehadap Kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke matahari terbit), maka di Kamp Cibarusa kegiatan tersebut ditiadakan. Sebagai gantinya maka setiap apel, para siswa Kamp Cibarusa menghadap ke arah barat, kiblat umat Islam, sambil meneriakan takbir sebanyak tiga kali.

Setelah 3,5 bulan menjalani pendidikan yang sangat ketat, maka 500 pemuda Islam tersebut dinyatakan lulus. Mereka kemudian disebar ke berbagai tempat di pulau Jawa dan Madura guna mendirikan kesatuan-kesatuan Hizbullah. Bahkan menurut C van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan alumni-alumni Cibarusa ada juga yang sampai mendirikan kesatuan Hizbullah di Kalimantan dan Sumatera.

Menurut sejarawan George Mc T Kahin, selama hampir sepanjang tahun pertama berdirinya Republik Indonesia, Hizbullah berhasil mengumpulkan antara 20-25 ribu pemuda bersenjata yang kemudian diorganisasi dalam unit-unit batalyon.

“Hizbullah dikelola di bawah pimpinan Maysumi, kendati dalam kenyataannya hubungan antara pimpinan Masyumi dan komandan Hisbullah seringkali sangat renggang,” tulis Kahin dalam buku Nationalism and Revolution in Indonesia.

Tak hanya itu, ada fakta lain yang menarik. Ini dikatakan oleh penulis sejarah dan pengelola laman Jejak Islam Bangsa (JIB), Beggy Rizkiansyah. Dia mengatakan bendera dengan lafaz 'kalimat tauhid' itu memang bukan barang atau fenomena baru dalam perjalanan sejarah terbentuknya bangsa Indonesia.

Menurutnya, ada foto kuno yang meninggalkan jejak sebagai bukti bahwa bendera dengan kalimat syahat memang lazim digunakan. Bahkan, itu dipakai sebagai bendera resmi sebuah negara atau kerajaan yang ada di Sumatra.

''Foto bendera dengan kalimat tersebut misalnya menjadi salah satu bendera yang dipakai oleh Kesultanan Aceh.Pemakaian kalimat tauhid menandakan betapa pentingnya Kalimat Tauhid dalam sejarah bangsa kita. Heroisme dalam perlawanan jihad fi sabilillah rakyat Aceh tentu bagian penting dari perjuangan kemerdekaan Indonesia,'' kata Begi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA